“Saya belajar bahwa bola tidak pernah datang ketika kamu mengharapkannya.” Kutipan terkenal dari Albert Camus, yang banyak memetik filosofi hidupnya dari pengalaman berdiri di bawah mistar gawang tim Racing Universitas Aljir, kini terasa relevan kembali di Piala Dunia ini. Para penjaga gawang telah membalikkan tafsir pemikiran sang peraih Nobel tersebut.
Contohnya adalah penjaga gawang Iran, Alireza Beiranvand. Setelah berhasil menahan gempuran Belgia di bawah terik matahari Los Angeles yang bisa melumpuhkan siapa pun, ia menunjukkan kemampuan luar biasa membaca arah dan waktu datangnya bola. Pemain berusia 33 tahun yang berasal dari keluarga penggembala nomaden ini kini dijuluki “Tembok dari Lorestan,” dan area gawang yang dijaganya seolah menjadi “Selat Alireza.”
Media sosial pun ramai membicarakannya. Salah satu unggahan dari Belgia menulis dengan nada humor, “Kami memang tidak menang melawan Iran, tapi setidaknya itu tidak membuat kami rugi 300 miliar dolar.”
Siapa bilang olahraga dan politik tak bisa bersinggungan? Di Piala Dunia ini, keterasingan tim Iran dan tekad mereka di bawah kepemimpinan Beiranvand justru membuat dunia jatuh hati. Tuan rumah bersama, Meksiko, bahkan menyebut tim Asia Barat itu sebagai “tim kedua kami.” Camus mungkin akan tersenyum sinis melihat ironi ini.
Namun Beiranvand bukan satu-satunya penjaga gawang yang mencuri perhatian. Dari sisi lawan, Thibaut Courtois dari Belgia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, ketika posisi paling sepi di sepak bola kini ditempati oleh penjaga-penjaga gawang tangguh lainnya. Vozinha, kiper asal Tanjung Verde, membantu negara kepulauan kecil di Afrika Barat itu mewujudkan mimpi dengan melakukan lima penyelamatan yang membuat Uruguay, juara pertama Piala Dunia, gagal mencetak gol.
Sehari sebelumnya, Eloy Room dari Curacao menulis sejarah dengan 16 penyelamatan saat menghadapi Ekuador, memberikan satu poin berharga bagi negara dengan populasi terkecil di turnamen ini. Dan tentu saja, ada Manuel Neuer dari Jerman. Penampilannya yang ke-21 melawan Pantai Gading menjadikannya penjaga gawang dengan jumlah pertandingan terbanyak dalam sejarah Piala Dunia.
Namun, di antara semua cerita itu, babak ini terasa menjadi milik Alireza Beiranvand dan Iran.
Dengan tinggi 6 kaki 5 inci, Beiranvand berdiri kokoh seperti tembok di depan gawang, memanfaatkan jangkauan panjang serta tangan besarnya dengan sangat efektif. Ia mencatat setidaknya tujuh penyelamatan krusial yang menjaga asa Iran untuk melangkah ke babak berikutnya.
Ketika tampak tak terelakkan bahwa bek Belgia Maxim De Cuyper akan mencetak gol dengan bola yang bergulir di depan gawang kosong dalam kotak enam yard, Beiranvand menciptakan momen ajaib. Setelah menjatuhkan diri ke kiri untuk memotong umpan rendah dari Kevin De Bruyne, ia sempat tergeletak dalam posisi tak menguntungkan. Namun dari situasi yang tampak mustahil, Beiranvand mengulurkan tangan kirinya dan menepis bola yang tampak pasti menjadi gol. Sekitar 70.000 penonton di Stadion Los Angeles pun terpana, terpaku dalam ketidakpercayaan.
“Beiranvand adalah salah satu penjaga gawang terbaik yang kami miliki,” ujar pelatih kepala Iran, Amir Ghalenoi. “Ia sangat cerdas dan hari ini merupakan salah satu performa terbaiknya. Ia memiliki konsentrasi yang luar biasa dan memberi kami satu poin berharga, meski seharusnya kami bisa mendapat tiga.”
Cara Beiranvand menggagalkan tembakan De Cuyper menjadi gambaran perjalanan luar biasa dirinya menuju status ikon olahraga nasional Iran.
Beiranvand berasal dari Lorestan, Iran bagian barat, dan tumbuh dalam kemiskinan yang parah. Ia gemar bermain sepak bola dan juga dalparan, permainan melempar batu khas pedesaan yang kelak memberinya dua rekor dunia Guinness. Setelah keluarganya pindah ke Sarabias, ia bergabung dengan tim lokal. “Ayah saya tidak suka sepak bola dan menyuruh saya menggembala domba. Ia merobek sarung tangan saya, jadi saya bermain dengan tangan kosong,” katanya kepada The Guardian.
Beiranvand kemudian melarikan diri ke Teheran, di mana penduduk setempat sempat mengiranya pengemis. Ia mencuci mobil dan bekerja keras sambil bermimpi membela negaranya. Ia menjalani debut internasionalnya untuk Iran pada 2015, dan tiga tahun kemudian sudah menahan serangan pemain-pemain elit dunia dengan penyelamatan spektakuler.
Pada Piala Dunia 2018, ia terkenal karena menggagalkan tendangan penalti Cristiano Ronaldo, serta berperan penting dalam kemenangan Iran 1-0 atas Maroko.
Permainan dalparan yang ia tekuni memperkuat otot bagian atas tubuhnya, hingga akhirnya ia memegang rekor dunia Guinness untuk lemparan terjauh dalam pertandingan sepak bola, ketika melempar bola sejauh 200,14 kaki melawan Korea Selatan pada 2016. Ia juga memegang rekor tendangan jatuh terjauh, yang mencapai 255,95 kaki.
Meski menghadapi ketegangan geopolitik dan tantangan logistik, Iran tetap tak terkalahkan di tanah Amerika Serikat. Negara berpenduduk 93 juta itu berhutang banyak pada tangan besar dan lemparan sekuat meriam milik pria dari Lorestan ini.