Wacana mengenai jeda hidrasi menjadi perdebatan hangat di Piala Dunia 2026, namun gagasan untuk membagi pertandingan sepak bola menjadi empat bagian ternyata sudah muncul jauh lebih lama dari yang banyak orang bayangkan.
Awal hingga pertengahan tahun 1990-an merupakan masa yang penuh eksperimen dalam sejarah sepak bola. Olahraga ini sedang berupaya menembus pasar Amerika Serikat yang menguntungkan lewat Piala Dunia 1994, tetapi jaringan televisi Amerika ketakutan menghadapi olahraga dengan dua babak 45 menit tanpa jeda iklan sama sekali.
FIFA juga dilanda kekhawatiran setelah Piala Dunia Italia 1990, yang dikenal sebagai salah satu turnamen paling minim gol dan paling defensif dalam sejarah. Turnamen itu hanya mencatat rata-rata 2,21 gol per pertandingan dan ditutup dengan final yang membosankan serta sarat pelanggaran.
Untuk 'memperbaiki' permainan agar lebih menarik bagi penonton Amerika sekaligus meningkatkan jumlah gol, FIFA mempertimbangkan beberapa perubahan radikal. Salah satunya adalah gagasan pertandingan dibagi menjadi empat kuarter berdurasi 25 menit.
Pada Maret 1990, Presiden FIFA João Havelange membuat kehebohan dengan menyarankan agar sepak bola meninggalkan format tradisional dua babak 45 menit dan beralih ke empat kuarter 25 menit. Tujuannya jelas: menyesuaikan diri dengan kebutuhan jaringan televisi Amerika seperti ABC dan ESPN, yang memegang hak siar Piala Dunia 1994.
Pihak eksekutif televisi beranggapan bahwa tanpa penghentian permainan secara berkala, turnamen tersebut akan menjadi risiko finansial besar karena tidak ada ruang yang cukup untuk penayangan iklan. Tak heran, para puris sepak bola bereaksi keras.
UEFA, dengan dukungan kuat dari Asosiasi Sepak Bola Inggris Raya yang tergabung dalam Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB), dengan tegas mempertahankan kesakralan waktu pertandingan dan menolak mentah-mentah rencana untuk mengorbankan struktur permainan demi kepentingan iklan.
Yang mengejutkan, usulan lain yang sempat muncul adalah memperbesar ukuran gawang. FIFA secara terbuka membahas kemungkinan menambah jarak antar tiang gawang beberapa inci untuk memberikan keuntungan bagi para penyerang — sebuah perubahan yang mungkin akan disukai oleh Diana Ross. Namun, ide itu juga akhirnya ditolak oleh UEFA dan IFAB.
Dengan waktu pertandingan dan ukuran gawang yang dianggap tidak boleh diubah, FIFA dan IFAB harus mencari cara lain untuk mendorong permainan yang lebih menyerang menjelang Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Inilah yang melahirkan sejumlah aturan yang kini dianggap biasa, seperti aturan larangan back-pass yang diperkenalkan pada tahun 1992 setelah final Euro yang membosankan di Swedia.
Piala Dunia 1994 menjadi turnamen pertama di mana penjaga gawang dilarang menangkap bola dari umpan balik kaki rekan setimnya. Aturan ini menghapus sepenuhnya taktik membuang waktu yang marak digunakan pada Italia 1990 dan Euro 1992 dengan cara mengembalikan bola ke kiper.
Sistem tiga poin untuk kemenangan sebenarnya sudah diperkenalkan pada tahun 1981, tetapi baru diterapkan secara resmi pada Piala Dunia 1994. Kebijakan ini dirancang untuk mencegah tim bermain aman demi hasil imbang 0–0. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, fase grup di Amerika memberikan tiga poin untuk kemenangan, bukan dua.
Inovasi lainnya adalah wasit diperbolehkan mengenakan warna selain hitam tradisional — biasanya kuning cerah, merah muda, atau putih — agar tidak bentrok dengan warna seragam tim, dan untuk pertama kalinya pemain memiliki nama mereka tercetak di bagian belakang jersey.
Pada akhirnya, kompromi tersebut berhasil. Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat menjadi kesuksesan komersial besar, mencatat rekor kehadiran penonton yang masih bertahan hingga kini, dan menghasilkan rata-rata 2,71 gol per pertandingan — semuanya tanpa satu pun jeda iklan di tengah permainan.