TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Polisi mengungkap kronologi dugaan keracunan makanan yang dialami sembilan santriwati penghuni Panti Asuhan Daarul Hikmah Putri, Dusun Jayan, Desa Borobudur, Kabupaten Magelang.
Dari hasil pemeriksaan awal, peristiwa tersebut diduga bermula dari makanan donasi yang dimasak kembali sebelum dikonsumsi bersama.
Sebelumnya dikabarkan, sembilan penghuni Panti Asuhan Muhammadiyah Borobudur dilarikan ke Rumah Sakit Aisyiyah (RSIA) Muntilan setelah mengalami gejala gangguan kesehatan.
Mereka mengalami gejala dugaan keracunan usai mengonsumsi nasi goreng yang diolah dari sisa makanan donasi.
Update terbaru, dari total 9 anak yang bergejala, tercatat masih ada enam korban yang mendapatkan penanganan medis lanjutan per Selasa (23/6/2026).
Dengan demikian, jumlah penghuni Panti Asuhan Muhammadiyah Borobudur, Kabupaten Magelang, yang masih menjalani perawatan akibat dugaan keracunan makanan berangsur berkurang.
Kapolsek Borobudur, AKP Anjar Prahasto, mengatakan pihak kepolisian langsung bergerak ke lokasi setelah menerima laporan dugaan keracunan pada Senin (22/6/2026) sekitar pukul 16.45 WIB.
“Begitu menerima laporan, pawas piket bersama anggota Polsek Borobudur dan Bhabinkamtibmas Desa Borobudur langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan dan penanganan awal,” kata AKP Anjar.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lokasi, makanan yang dikonsumsi para santriwati merupakan jatah makan siang yang rutin diterima dari Panti Asuhan Daarul Hikmah Putra dan berasal dari donatur.
Namun makanan tersebut tidak langsung dikonsumsi, melainkan dimasak ulang pada malam hari menjadi menu makan malam.
“Jatah makan siang tersebut tidak langsung dimakan, tetapi dimasak kembali oleh para santriwati. Setelah dimasak ulang, makanan itu dikonsumsi bersama oleh 13 santriwati yang berada di panti,” jelasnya.
Baca juga: Dugaan Keracunan di Panti Muhammadiyah Borobudur: Enam Korban Masih Jalani Perawatan
Beberapa jam setelah mengonsumsi makanan tersebut, para penghuni mulai mengalami gangguan kesehatan.
“Dari 13 santriwati yang mengonsumsi makanan tersebut, sembilan orang mengeluhkan mual, muntah, dan diare. Sementara empat lainnya tidak mengalami gejala,” ungkap AKP Anjar.
Polisi bersama pengurus panti kemudian melakukan penanganan awal sebelum seluruh korban dievakuasi menuju Rumah Sakit Aisyiyah Muntilan untuk mendapatkan perawatan medis.
“Korban yang mengalami gejala langsung dibawa ke rumah sakit untuk memperoleh pertolongan dan penanganan medis,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panti Asuhan Muhammadiyah Borobudur, Yus Listiawan, membenarkan bahwa makanan yang diduga menjadi pemicu berasal dari donasi makan siang berupa nasi, telur, dan bihun yang kemudian diolah menjadi nasi goreng.
“Karena masih ada sisa makanan, kemudian diolah kembali menjadi nasi goreng untuk makan malam. Yang mengonsumsi saat itu ada belasan anak,” kata Yus.
Menurutnya, gejala mulai muncul sejak dini hari. Namun para penghuni tidak langsung melaporkan kondisi tersebut sehingga pengurus baru mengetahui saat kondisi beberapa anak mulai melemah.
“Sejak pagi sebenarnya sudah ada yang mengalami diare, tetapi belum ada laporan. Baru siang hari mulai diketahui dan kondisinya terlihat semakin menurun,” ujarnya.
Pihak panti sempat melakukan pertolongan pertama dengan meminta anak-anak memperbanyak minum untuk mencegah dehidrasi. Namun setelah salah satu korban menunjukkan kondisi yang mengkhawatirakan, pengurus memutuskan membawa mereka ke rumah sakit.
Hingga Selasa (23/6/2026), sebagian korban masih menjalani observasi dan perawatan medis. Sementara kepolisian masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan, termasuk menelusuri asal makanan dan proses pengolahannya.
Polisi juga mengimbau masyarakat tetap menunggu hasil pemeriksaan medis dan investigasi lebih lanjut sebelum menyimpulkan penyebab kejadian tersebut. (*)