Data OJK: Kinerja Perbankan Jawa Timur Tumbuh Solid hingga April 2026
Cak Sur June 23, 2026 03:50 PM

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Industri perbankan di Jawa Timur mencatatkan kinerja positif dan solid hingga periode April 2026. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dengan pertumbuhan kredit yang konsisten.

Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Perlindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Jatim, Horas VM Tarihora, mengungkapkan total penyaluran kredit perbankan di Jawa Timur mencapai Rp628,02 triliun. Angka ini tumbuh sebesar 2,87 persen secara tahunan (year on year/YoY).

"Kinerja industri perbankan di Jatim terus menunjukkan tren positif," ujar Horas dalam kegiatan Media Briefing Lembaga Kementerian Keuangan di Jatim, Senin (22/6/2026).

Likuiditas dan Permodalan Perbankan

Selain pertumbuhan kredit, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Jawa Timur juga mencatatkan peningkatan.

DPK tumbuh 5,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp840,77 triliun.

Horas menambahkan bahwa kondisi likuiditas bank umum yang berkantor pusat di Jatim terpantau sangat longgar.

Berikut indikator kesehatan perbankan saat ini:

  • Rasio AL/DPK: mencapai 29,13 persen.
  • Rasio AL/NCD: berada di posisi 135,70 persen, jauh di atas ambang batas.
  • Capital Adequacy Ratio (CAR): berada di level kuat yakni 32,92 persen.
  • NPL Gross: terkendali di angka 3,72 persen.

Dominasi Kredit dan Sektor Ekonomi

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit modal kerja masih menjadi penopang utama dengan nilai Rp314,67 triliun atau 50,11 persen dari total kredit. Sisanya terbagi ke dalam kredit konsumsi sebesar Rp198,90 triliun dan kredit investasi senilai Rp114,45 triliun.

Secara sektoral, penyaluran kredit terbesar mengalir ke sektor rumah tangga (30,54 persen), disusul sektor perdagangan besar dan eceran (24,98 persen), serta industri pengolahan (19,30 persen).

Tantangan NPL UMKM

Di balik performa yang positif, OJK menyoroti tantangan kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) pada segmen UMKM yang mencapai 5,45 persen. Angka tersebut melampaui ambang batas yang ditetapkan.

"Kondisi ini memerlukan penguatan ekosistem UMKM melalui proses kurasi, edukasi, serta peningkatan literasi keuangan," tegas Horas.

Sementara itu, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Timur tetap menunjukkan performa impresif dengan outstanding mencapai Rp67,76 triliun. Capaian ini menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan penyaluran KUR terbesar kedua secara nasional.

Secara keseluruhan, sektor perbankan Jawa Timur tetap memiliki daya tahan kuat meski menghadapi tantangan pada portofolio UMKM.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.