TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI -- Seorang siswi Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kabupaten Muaro Jambi diduga menjadi korban asusila oleh penjaga sekolah.
Ironisnya, kejadian ini sudah berulang kali dialami oleh korban.
Setiap kali beraksi, pelaku meminta kepada korban untuk tidak menceritakan kepada siapapun.
Berdasarkan pengakuan korban, perbuatan TN selalu dilakukan di dalam area lingkungan sekolah memanfaatkan situasi sepi, salah satunya di dalam kantin sekolah.
Dugaan asusila ini pertama kali terendus oleh pihak keluarga setelah menerima laporan dari salah seorang guru.
Guru tersebut mencurigai adanya perubahan perilaku pada korban, dimana korban sering murung serta adanya selentingan kabar dari para siswa lain, terutama mereka yang menghuni asrama di lingkungan SLBN Muaro Jambi.
Mendengar kabar miring tersebut, pihak keluarga langsung menginterogasi NH.
Di hadapan orang tuanya, remaja penyandang disabilitas tersebut akhirnya mengaku bahwa ia telah dilecehkan oleh pelaku sebanyak tujuh kali.
Rasa kecewa dan geram menyelimuti pihak keluarga korban.
Pasalnya, pelaku yang seharusnya ikut menjaga keamanan di lingkungan sekolah justru menjadi predator bagi siswi yang memiliki keterbatasan.
Sumarni menegaskan bahwa pihak keluarga tidak akan menempuh jalan damai dan meminta aparat penegak hukum bertindak tegas tanpa pandang bulu.
Merespons peristiwa memilukan ini, jajaran pejabat lintas instansi langsung bergerak cepat turun ke lapangan. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Muaro Jambi, Budhi Hartono, langsung berkunjung ke rumah kediaman korban dan keluarganya.
Dalam kunjungan tersebut, Sekda tampak didampingi oleh sejumlah pejabat dari Kementerian Sosial (Kemsos) RI, tim pendamping dari bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), serta perwakilan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.
Kedatangan rombongan ini bertujuan untuk melihat langsung kondisi NH sekaligus memberikan dukungan moral kepada pihak keluarga yang sedang terguncang.
Pasalnya, dampak psikologis yang dialami oleh NH pasca-kejadian tersebut tergolong sangat berat.
Sudah hampir satu bulan lebih remaja putri tersebut mengalami trauma mendalam. NH menutup diri dan sama sekali tidak mau lagi menginjakkan kaki di sekolah tempatnya menuntut ilmu.
Budhi Hartono, menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas kejadian yang mencederai dunia pendidikan di wilayahnya ini.
Dia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat warganya, terlebih seorang anak berkebutuhan khusus, menjadi korban kejahatan seksual.
"Kami atas nama Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi bersama-sama dengan pihak Kementerian Sosial menyatakan ikut prihatin yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa ananda kita ini. Ini adalah kejadian yang sangat memukul kita semua," ujar Budhi Hartono.Budhi menambahkan, prioritas utama pemerintah saat ini adalah memulihkan kondisi mental dan psikis NH agar tidak mengalami trauma berkepanjangan. Untuk itu, Pemkab Muaro Jambi melalui instansi terkait akan segera mendatangkan tim psikolog profesional guna memberikan pendampingan trauma healing (trauma healing) secara intensif.
Pemerintah juga berjanji akan mengawal kasus ini hingga tuntas dan memastikan hak-hak pendidikan korban tetap terpenuhi, meski saat ini ia belum siap untuk kembali ke sekolah.
"Kita berupaya menghilangkan traumatik yang sudah dialami selama ini, sehingga dia memiliki lagi semangat untuk melanjutkan pendidikan," ungkapnya. (*)
Baca juga: Penjaga Sekolah Terduga Pelaku Asusila Siswi SLB di Muaro Jambi Kabur