Sannipata Waisak 2570 BE/2026 Jadi Momentum Merajut Kebersamaan dan Menebarkan Kedamaian
Ngurah Adi Kusuma June 23, 2026 05:38 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Perayaan Hari Raya Waisak selalu menjadi momentum penting bagi umat Buddha untuk kembali merenungkan ajaran dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan Sang Buddha. 

Dalam rangka memperingati Hari Raya Trisuci Waisak, bertempat di Balai Pertemuan Bhumiku, Jalan Gunung Soputan No.49 Denpasar, Permabudhi (Persatuan Umat Buddha Indonesia) Bali, menggelar Sannipata Waisak 2570 BE/2026, pada Minggu, 21 Juni 2026.

Sannipata Waisak bermakna pertemuan bersama dalam perayaan Waisak, yang bertujuan mempererat persatuan dan kesatuan umat Buddha, memperkokoh kerukunan antar umat beragama.

Serta menjadi momentum refleksi menghadirkan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan bermasyarakat yang damai dan bersatu.

Baca juga: Bawaslu Dorong Pengawasan Berkelanjutan untuk Perkuat Kepercayaan Publik atas Hasil Pemilu

Mengusung tema Dharma Menjaga Perdamaian Dunia, Sannipata Waisak membawa pesan bahwa perdamaian global tidak lahir secara instan, tetapi berawal dari ketenangan batin dan kesadaran setiap individu. 

Ketika seseorang mampu mengembangkan cinta kasih, welas asih, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap sesama, maka nilai tersebut akan tumbuh menjadi kekuatan yang menciptakan harmoni di lingkungan yang lebih luas.

“Pertikaian dan peperangan yang terjadi di sebagian belahan dunia, muncul karena sifat loba atau keserakahan, dosa atau kebencian," kata Ketua Permabudhi Bali, Hery Sudiarto. 

"Dan moha atau kebodohan batin, karena itu Waisak mengajak kita kembali pada hati yang bersih dan damai, memberi kebaikan pada orang lain dengan penuh cinta kasih,” imbuhnya. 

“Mari kita lahirkan cinta kasih, dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari, guna mewujudkan hidup yang harmonis dengan sesama manusia, tanpa membedakan suku, bangsa, dan agama. Semoga semua makhluk hidup berbahagia,” imbau dia. 

Baca juga: Tindak Lanjut Audiensi Demo, DPRD Buleleng Akan Bawa Aspirasi Mahasiswa FHIS Undiksha ke DPR RI

Sannipata Waisak tak hanya ritual seremonial, tetapi menjadi kesempatan bagi umat untuk berkumpul, memperkuat batin, dan bersama-sama mengenang tiga peristiwa suci dalam kehidupan Sang Buddha.

Yaitu kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan Parinibbana atau mangkatnya Sang Buddha.

Secara umum, Sannipata Waisak merupakan kegiatan yang digagas dan diselenggarakan oleh gabungan Majelis dan Sangha yang tergabung dalam Permabudhi, dengan dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Agama serta pemerintah daerah.

“Perayaan ini sebenarnya menjadi agenda yang dilaksanakan setiap tahun. Namun setelah sempat lama tidak berlangsung akibat pandemi," ungkap Ketua Panitia Acara. Nyoman Sri Susilowati. 

"Kegiatan ini kembali dilaksanakan pada tahun 2025, dan kini kembali menjadi ruang yang mempertemukan umat dalam suasana kebersamaan dan refleksi,” sambung dia. 

Tak hanya melibatkan umat Buddha, penyelenggaraan acara tahun ini juga menunjukkan semangat keterbukaan dan harmoni lintas elemen masyarakat. 

Berbagai unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama lintas keyakinan, serta berbagai lembaga terlihat hadir. 

Di jajaran undangan VVIP hadir perwakilan dari Gubernur Bali, DPRD Provinsi Bali, Pangdam IX Udayana, Kapolda Bali, FKUB, Kesbangpol Provinsi Bali dan Kota Denpasar, Danrem 163 Wirasatya, Kapolresta Denbar, Kakanwil Kemenag Provinsi Bali. 

Baca juga: Bursa Transfer Super League, Bali United Minati Bek Timnas Indonesia Tim Geypens

Selain itu hadir juga para Sulinggih, para Bhante, para tokoh lintas agama Islam, Hindu, Kristen, Katolik, dan Konghuchu. 

Sementara di jajaran undangan VIP hadir Pembimas Buddha Provinsi Bali, seluruh Penyelenggara Buddha Kota dan Kabupaten se-Bali, Ketua-ketua Majelis dan Organisasi Keagamaan, Dewan Pengawas dan Dewan Penasehat Permabudhi, Ketua-ketua Vihara, Klenteng, dan Cetya. 

Selain undangan resmi, masyarakat umum juga ikut berpartisipasi dalam acara ini.

Menariknya, rangkaian acara yang dihadiri sekitar 400 undangan ini, tak hanya berisi ritual spiritual, tetapi juga memadukan unsur seni dan budaya. 

Berbagai persembahan  turut mewarnai suasana, mulai dari tarian adat Bali, paduan suara, alunan seruling dengan tembang-tembang Buddhis, pertunjukan nyanyian, penyampaian Pesan Waisak, hingga Renungan Suci.

Perpaduan unsur budaya dan spiritual tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana hangat dan mendalam. 

Tidak hanya menjadi ruang peribadatan, tetapi juga pengalaman yang mengajak para undangan untuk merenungkan kembali makna hidup, hubungan dengan sesama, dan pentingnya menjaga kedamaian.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena di tengah gencarnya arus globalisasi, pesan Dharma yang disampaikan memberikan keteduhan dan kedamaian hati, yang semestinya memang dimulai dari diri sendiri," ujarnya. 

"Mudah-mudahan damai Waisak ini vibrasinya menyebar ke sekitar kita, tak hanya untuk Bali, tapi juga untuk nusantara, dan dunia,” ujar Staf Ahli Gubernur bidang Hukum Politik Pemerintahan, Tjok Bagus Pemayun yang dalam kesempatan ini mewakili Gubernur Bali, Wayan Koster. 

“Persembahan hiburan seni budaya yang disuguhkan menggambarkan harmonisasi keberagaman nusantara. Menunjukkan bahwa meski kita hidup dalam beragam suku, budaya, dan agama, namun kita tetap menjaga perdamaian, ini pesan moral yang baik, dan mesti kita jaga,” pungkasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.