Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha
TRIBUNNEWS.COM - Berawal dari peternakan ayam petelur yang menghasilkan sekitar 450 butir telur per hari, Singopuran membangun sistem usaha desa yang menghubungkan pertanian, peternakan, perikanan, hingga pengelolaan sampah dalam satu rantai ekonomi.
Siang itu terik sinar matahari menyorot ketika suara ayam saling menyahut terdengar ramai di unit peternakan milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Singopuran, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Di dalam kandang, ratusan ayam petelur berebut pakan. Beberapa pekerja berjalan menyusuri lorong kandang sambil memunguti telur yang baru dihasilkan.
Rak-rak penyimpanan perlahan terisi. Tak lama kemudian, telur-telur itu disatukan untuk dijual kepada warga Singopuran, memenuhi permintaan.
Setiap hari, kandang ayam milik BUMDes ini menghasilkan rata-rata 450 butir telur atau sekitar 27 kilogram. Produksi berasal dari 470 ekor ayam petelur dengan tingkat produktivitas mencapai 90 hingga 95 persen.
Hasilnya hampir selalu terserap pasar lokal. Warga datang membeli langsung, sementara sebagian lainnya memesan lebih dahulu. Produksi yang ada bahkan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat di desa.
Pemandangan berbeda terlihat tidak jauh dari kandang ayam. Hamparan jagung tumbuh sehat.
Di sisi lain, kandang kambing berdiri berdampingan dengan unit usaha desa lainnya. Sementara kolam lele yang telah panen mulai dipersiapkan kembali untuk budidaya berikutnya.
Berbagai usaha tersebut dikelola dalam satu payung yang sama, yakni BUMDes Singopuran Mapan (Maju Terdepan).
Direktur BUMDes Singopuran Mapan, Trian Heryono, menjelaskan, pengembangan usaha desa saat ini difokuskan pada sektor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat, terutama pangan.
Melalui alokasi anggaran dari Pemerintah Desa Singopuran, BUMDes mengembangkan usaha ternak lele, kambing, ayam petelur, serta pertanian jagung yang diharapkan mampu memperkuat perekonomian desa sekaligus menjaga ketersediaan pangan di tingkat lokal.
"Kami ingin masing-masing usaha bisa saling mendukung. Jadi tidak berdiri sendiri-sendiri," kata Trian pada Jumat (19/6/2026).
Gagasan tersebut tidak lahir dalam waktu singkat. Pengelola BUMDes melihat bahwa usaha desa akan lebih kuat jika tidak bergantung pada satu sumber pendapatan.
Karena itu, setiap unit yang dikembangkan mulai diarahkan agar memiliki hubungan dengan unit usaha lainnya.
Jagung tidak hanya dipanen sebagai hasil pertanian. Ke depan, tanaman tersebut juga diharapkan mendukung kebutuhan peternakan.
Begitu pula dengan usaha ternak yang tidak hanya menghasilkan produk utama, tetapi juga menyimpan potensi lain yang bisa dimanfaatkan kembali.
Konsep itu perlahan dibangun melalui berbagai percobaan. Salah satunya melalui sistem longyam, yakni model budidaya yang menempatkan kandang ayam di atas kolam lele. Sistem tersebut pernah dijalankan dan bahkan sempat menghasilkan panen ikan.
Namun perjalanan usaha tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Bencana angin puting beliung yang melanda kawasan tersebut belum lama ini merusak fasilitas longyam sehingga operasional harus dihentikan.
Pengelola kemudian memindahkan lokasi usaha agar kegiatan peternakan tetap bisa berlangsung.
"Fasilitas longyam mengalami kerusakan akibat puting beliung. Karena itu kami pindahkan ke lokasi yang sekarang agar kegiatan tetap berjalan," ujar Trian.
Persiapan untuk memulai budidaya lele kembali kini tengah dilakukan bersamaan dengan penataan ulang sarana dan permodalan setelah berhasil merogoh hasil panen ideal.
Di balik berbagai usaha yang saat ini berkembang, terdapat cerita lain yang jarang diketahui banyak orang.
Cikal bakal pengembangan ekonomi desa tersebut justru bermula dari persoalan sampah.
Pada 2020, Desa Singopuran menghadapi situasi yang cukup rumit setelah Tempat Penampungan Sampah Kecamatan Kartasura ditutup. Desa kehilangan lokasi pembuangan yang selama ini digunakan warga.
Sampah rumah tangga terus bertambah setiap hari, sementara solusi belum tersedia.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah desa bersama BUMDes membangun tempat penampungan sampah mandiri di atas lahan sekitar 2.000 meter persegi.
Awalnya, fasilitas itu hanya dimaksudkan untuk mengatasi persoalan kebersihan lingkungan.
Dalam perkembangannya, pengelola mulai melihat potensi lain dari tumpukan sampah yang masuk setiap hari.
Sampah organik dipilah dan diolah menjadi kompos. Hasilnya dimanfaatkan oleh petani di desa. Dari sana muncul pemikiran untuk menghubungkan pengelolaan sampah dengan sektor pertanian dan peternakan yang sedang berkembang.
Menurutnya, program pengolahan sampah Desa Singopuran yang dilakukan mandiri ini menjadi parameter BRI untuk menjadikan Desa Singopuran sebagai Desa BRILian.
Kkemitraan kemudian terjalin antara BRI dengan BUMDes Singopuran. Pendampingan dan dukungan diberikan untuk pengolahan sampah menjadi berkah bernama kompos.
Saat itu pada 2021, pemberdayaan Desa BRILian juga diikuti pengurus BUMDes melalui webinar Zoom.
Dalam pertemuan itu, pihaknya mendapat ilmu pengelolaan administrasi hingga pengolahan produk.
"Kami sudah tiga kali mengikuti seleksi Desa BRILian, sudah sampai 20 besar dan akan terus maju untuk mengembangkan potensi Desa Singopuran dengan TPS-nya," ungkap Trian.
Dirinya juga tidak menampik telah melakukan study banding ke luar daerah untuk memperkaya wawasan dengan pemanfaatan sampah.
"Sebagai bentuk pengembangan, kami juga ke Pandowoharjo, Sleman dan di Banyumas yang bisa kita tiru untuk pengembangan dan pengolahan sampah di TPS," ujarnya.
Terpisah, Kepala Desa Singopuran, Sih Harjiyanto, mengungkap peran besar BRI kepada warga di desanya.
Selain ikut dalam pengembangan potensi BUMDes berupa pengolahan sampah TPS, BRI berperan mengakomodasi warga untuk melebarkan sayapnya dalam berwirausaha.
Contohnya yakni, petani yang membutuhkan dana untuk pengembangan pertanian terakomodasi lewat dana pinjama Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.
"Kami berterima kasih sekali dengan adanya bantuan tanaman alpukat dan kelapa untuk warga yang diberikan BRI. Sisi lainnya kemitraan BRI mempermudah akses warga yang ingin bertransaksi, lebih mudah berkomunikasi dengan mantri untuk pengajuan dan proses KUR BRI juga," jelas Sih Harjiyanto.
Ke depan, rencana matang sudah di depan mata dan segera dilakukan dengan pengembangan pengolahan sampah di TPS Singopuran.
Selanjutnya, produksi pupuk ke depan akan dipasarkan alias tak hanya disalurkan kepada warga Desa Singopuran.
Maka, kolaborasi Desa BRILIan Singopuran dengan berbagai stakeholder lebih kokoh untuk kemajuan dan berkah bagi warganya.
"Harapanya ke depan semua berkembang, sekitar 7.800 warga kami yang banyak petani terkomodasi pekerjaannya. Lalu produk pupuk olahan bisa dijual untuk pengembangan desa. Itu serba menguntungkan dan kami optimis menuju ke sana," papar dia.
BUMDes tengah menyiapkan sistem yang menghubungkan pengelolaan sampah, peternakan, dan budidaya ikan dalam satu siklus produksi.
Sampah organik akan diolah menjadi kompos. Kompos kemudian dikombinasikan dengan limbah peternakan ayam dan kambing untuk mendukung budidaya maggot. Larva tersebut nantinya dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ikan lele.
Dengan pola tersebut, biaya produksi dapat ditekan sekaligus mengurangi limbah yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal.
"Sampah organik, kompos, limbah peternakan, maggot, dan lele nantinya saling terhubung. Itu yang sedang kami siapkan, jadi tidak ada yang terbuang di sini," tutur Trian.
(*)