Inggris telah melihat dua sisi Thomas Tuchel — Tuchel yang ramah dalam laga uji coba dan Tuchel yang serius di turnamen besar. Kini mereka tengah menyaksikan sosok ‘Tournament Thomas’; atau dalam bahasa aslinya, ‘Turnier Thomas’.
Babak serius telah dimulai, namun Tuchel berupaya memadukan intensitas tinggi dengan pendekatan yang lebih santai. Manajer timnas Inggris ini tampak menikmati kehidupannya di Piala Dunia sejauh ini. Kemenangan pembuka atas Kroasia menimbulkan anggapan bahwa tim asuhan Tuchel menjadi salah satu yang tampil paling impresif di laga-laga awal. Tuchel tampaknya telah menemukan keseimbangan pribadi yang tepat, dengan pidato di jeda babak pertama di Dallas yang memicu peningkatan performa instan.
Semangat kompetitif Tuchel kini benar-benar menyala. Keahliannya dalam kompetisi sistem gugur paling terlihat ketika ia membawa Chelsea menjuarai Liga Champions tahun 2021. Ia mampu tampil optimal di bawah tekanan dan bekerja efektif saat memiliki target jelas. Setelah 18 bulan mempersiapkan debutnya dalam turnamen internasional terbesar, ia kini benar-benar menikmati momen tersebut.
“Saya tidak melakukan hal yang berlebihan. Hanya dengan berada di Piala Dunia, mengikuti turnamen ini dan berada dalam mode kompetitif, dikelilingi oleh para pemain kelas dunia dan kepribadian luar biasa, itu sudah memberi saya banyak energi,” ujar Tuchel. “Hal ini membuat saya bersemangat.”
Manajer Inggris selalu menghadapi ujian abadi tentang bagaimana bereaksi di tengah turnamen. Fabio Capello dianggap terlalu ketat hingga membuat suasana tim menjadi kaku, sementara Sven-Goran Eriksson dinilai terlalu santai. Tuchel berusaha menemukan keseimbangan yang tepat; bagi sosok karismatik sepertinya, hal ini juga bergantung pada seberapa besar pengaruh pribadinya terhadap tim.
“Saya memengaruhi para pemain, memengaruhi staf, jadi saya harus tetap aktif namun tidak berlebihan,” katanya. “Saya ingin menemukan keseimbangan antara rileks, tersenyum, memberi dukungan dan semangat yang baik. Saya berharap mereka merasakannya karena kompetisi sedang berlangsung dan saya ingin berada pada performa terbaik saya untuk membantu mereka tampil maksimal. Ini adalah panggung mereka. Potensi mereka yang harus membawa kami sejauh mungkin, dan itu harus bersinar. Begitulah saya memahami peran saya, dan saya sangat mencintai kompetisi serta pekerjaan sebagai pelatih.”
Salah satu hal menarik adalah apa yang membuat pria asal Bavaria ini tertarik ke Inggris. Namun bagi Tuchel, Piala Dunia memberikan pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. “Saya menjalani hari-hari dan pekan terbaik dalam karier kepelatihan saya sejauh ini,” kata Tuchel.
Kata-kata terakhir itu sangat relevan. Inggris kini menuju Boston untuk menghadapi Ghana setelah kemenangan atas Kroasia di laga pembuka. Namun selama enam dekade terakhir, perjalanan Inggris di Piala Dunia sering kali berakhir buruk, bahkan kadang sebelum turnamen dimulai.
Sejarah Inggris penuh dengan momen titik balik; kartu merah David Beckham pada 1998 dan Wayne Rooney pada 2006 menjadi peristiwa penting yang mengubah arah perjalanan mereka. Saat ini segalanya berjalan mulus, namun Tuchel mengingatkan: “Semuanya bisa berubah seketika. Anda selalu hanya satu kartu merah dari situasi yang benar-benar berbeda; hal seperti ini bisa terjadi kapan saja. Saya tidak ingin terlalu memikirkannya, karena bisa jadi tidak ada apa-apa di depan kita. Mungkin tidak akan ada masalah dan kita bisa tetap mengendalikannya. Mari kita lihat nanti.”
Hal yang menggembirakan adalah sejauh ini Inggris mampu merespons dengan baik ketika menghadapi kesulitan, seperti saat Kroasia menyamakan kedudukan jelang turun minum. “Saya sangat senang karena kami mampu menemukan jawaban atas kesulitan,” ujar Tuchel. “Kami kebobolan di momen yang sangat rumit.”
Itu memberinya sudut pandang positif terhadap dua gol yang bersarang di gawang mereka. Inggris tidak tampil sempurna. “Kami perlu memperbaiki beberapa hal,” ujar Tuchel. “Secara defensif, kami terlalu cepat turun dari blok tengah ke blok rendah. Itu sebenarnya tidak masalah, tapi kami melakukannya terlalu dini. Mungkin bagus kami kebobolan, karena itu mengingatkan kami agar tidak mengulanginya lagi. Itu bukan gaya kami dan tidak sesuai dengan kekuatan kami.”
Salah satu tujuannya adalah memaksimalkan kekuatan khas Inggris — membuat timnya bermain dengan tempo setara Premier League dan menerapkan performa klub di level internasional. Ketangguhan khas tim Inggris bisa menjadi modal penting menghadapi ujian berikutnya.
“Hal yang bagus adalah kami tidak perlu mengubah apa pun secara mendasar dari babak pertama melawan Kroasia, hanya perlu melakukannya dengan lebih baik,” tambah Tuchel. “Saya berharap kami bisa menguasai bola lebih banyak. Saya juga memperkirakan Ghana akan mengandalkan serangan balik karena mereka tim yang sangat cepat, kuat, dan berbahaya.”
Kemenangan di Massachusetts bisa memastikan Inggris lolos sebagai juara grup dengan satu laga tersisa, namun mereka tetap menjaga fokus. “Saat ini saya tidak melihat tanda-tanda rasa puas diri,” kata Tuchel. “Para pemain menjaga diri mereka tetap waspada.”
Jika para pemain berhasil menjaga performa, mungkin akan terdengar lagi lantunan lagu “Wonderwall” setelah laga, seperti setelah kemenangan atas Kroasia. Tuchel mungkin belum menyanyikan lagu kebangsaan dengan lantang, tetapi ia menikmati momen kebersamaan itu.
“Itu momen yang indah dan sangat berarti bagi kami semua,” ujarnya. “Lagu itu ikonik dan mudah dinyanyikan bersama. Semoga lagu itu menjadi semacam anthem kami, karena inilah makna sebenarnya dari turnamen seperti ini — mempererat hubungan antara suporter dan tim.”