TRIBUNSTYLE.COM - Ruben Onsu tetap melanjutkan laporannya ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meski Sarwendah sudah membawa anak-anak untuk bertemu dengannya pada Senin (22/6/2026).
Sarwendah membawa anak-anak mengantar Ruben Onsu yang hendak berangkat umrah bersama Ivan Gunawan pada Senin (22/6/2026).
Pertemuan itu adalah pertemuan pertama Ruben setelah sempat berbulan-bulan tidak bisa bertemu buah hatinya.
Minola Sebayang, kuasa hukum Ruben Onsu, menyambut baik inisiatif Sarwendah yang membawa anak-anak menemui ayahnya. Namun, ia menekankan bahwa pertemuan singkat di bandara tersebut bukanlah jawaban atas tuntutan hak Ruben sebagai ayah.
Minola menjelaskan bahwa pertemuan di bandara hanyalah momen pelepas rindu sesaat dan belum memenuhi butir-butir kesepakatan perceraian yang tertuang dalam Akta 39.
"Untuk melepas rindu oke, kami ikut berbahagia. Tapi kan bukan pertemuan (singkat) seperti ini yang kita inginkan," ujar Minola Sebayang saat ditemui di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2026).
Baca juga: Detik-detik Ruben Onsu Bertemu Wendy Lo Adik Sarwendah Setelah Saling Sindir di Medsos, Kini Salaman
"Pertemuan itu seharusnya berkumpul dua sampai tiga hari dalam satu minggu setiap minggunya, bukan sekadar bertemu sebentar di bandara," lanjutnya.
Pihak Ruben merasa selama ini hak kliennya untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama anak-anak sengaja tidak direalisasikan secara maksimal oleh pihak Sarwendah.
Minola menegaskan bahwa hingga saat ini, Ruben Onsu belum memberikan instruksi untuk mencabut atau menunda laporan yang telah dilayangkan ke KPAI. Hal ini dikarenakan laporan tersebut tidak hanya membahas soal akses bertemu anak, tetapi juga masalah yang lebih krusial.
"Isu ke KPAI itu tidak hanya sekadar masalah pertemuan. Ada 3 hal: hak pertemuan rutin, dugaan lingkungan yang tidak aman bagi anak di tempat mereka berada sekarang, dan masalah eksploitasi anak," tegas Minola.
Keresahan Ruben merujuk pada keterlibatan anak-anaknya dalam sesi live jualan di media sosial milik Sarwendah. Selain itu, Ruben juga menyoroti campur tangan pihak luar, Giorgio Antonio, yang dianggap terlalu jauh mencampuri urusannya dengan anak-anak.
Psikolog Rina Jayanti, M.Psi dari RS PKU Muhammadiyah Surakarta di Solo, Jawa Tengah menjelaskan kepada Tribun Style pada Minggu (21/6/2026) soal efek negatif yang kemungkinan dialami anak jika kerap diajak live di media sosial.
Menurut Rina, anak yang masih di bawah umur belum memahami dengan benar tujuan dari siaran langsung atau live.
"Anak yang masih kecil belum punya kapasitas untuk memberi persetujuan yang benar-benar terinformasi.
Orangtua juga harus memahami bahwa konten yang sudah disebarkan secara daring bisa saja sulit atau bahkan tidak bisa dihapus sepenuhnya," ungkapnya.
Rina mengingatkan bahwa live media sosial berbeda dari video biasa karena berlangsung secara langsung dan sulit dikoreksi.
Baca juga: Vakum Live Jualan, Sarwendah Dituding Kini Bangkrut, Eks Ruben Onsu Jawab Isu Rugi Puluhan Miliar
Ketika siaran langsung terjadi, anak bisa saja menghadapi komentar mengenai penampilan, perilaku atau kehidupan keluarganya.
Padahal anak belum memiliki kematangan psikologis untuk memahami dan mengelolanya.
Hal ini bisa saja memicu dampak negatif terhadap psikologis anak.
"Anak bisa jadi mengalami kecemasan dan rasa malu karena potongan siaran dibicarakan temannya, atau mendapat komentar negatif," tambah Rina.
Kerap ikut live di media sosial juga bisa memicu anak kesulitan membedakan ruang pribadi dan publik.
"Anak tidak akan belajar bahwa ada pengalaman keluarga yang sebaiknya bersifat pribadi," ungkap Rina.
Rina menegaskan bahwa anak bukanlah objek konten.
Orangtua yang kerap melibatkan anak dalam aktivitas di media sosial seharusnya mempertimbangkan kembali apakah tayangan yang dibuat itu benar-benar bermanfaat untuk anak, atau hanya untuk kebutuhan eksposur orang dewasa saja. (Tribun Style/Grid.id)