Diduga Terdampak Tumpahan Batu Bara, Ratusan Benih Lobster di Parigi Pangandaran Mati
Dedy Herdiana June 23, 2026 08:20 PM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Ratusan benih lobster milik pembudidaya di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, dilaporkan mati dan diduga berkaitan dengan insiden tumpahan batu bara dari kapal tongkang yang kandas di perairan Sukaresik–Batuhiu.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (19/6/2026), atau dua hari setelah ribuan ton batu bara dilaporkan tercecer ke laut akibat kapal tongkang yang mengalami insiden di sekitar perairan tersebut.

Pengelola budidaya lobster, Aep Saepudin, mengatakan kematian benih mulai terjadi beberapa hari setelah kapal tongkang terbalik dan material batu bara tersebar di sekitar lokasi.

"Sebelum kejadian, kondisi budidaya masih normal dan produksi berjalan baik. Tapi dua hari setelah kapal tongkang terdampar, banyak benih yang mati," ujar Aep kepada sejumlah wartawan di lokasi budidaya udang lobster, Selasa (23/6/2026) siang.

Baca juga: Dinas Kelautan Akan Uji Tanah dan Air Laut Tumpahan 8.109 Ton Batu Bara di Perairan Pangandaran

Menurutnya, benih yang mati merupakan lobster jenis pasir dan mutiara dengan jumlah diperkirakan mencapai sekitar 500 ekor.

"Awalnya saya coba hitung di luar lalu dipindahkan ke dalam ruangan. Saat diangkat ternyata sudah mati semua," katanya.

Aep memperkirakan kerugian awal dari kematian benih itu mencapai sekitar Rp 5 juta, dengan asumsi harga per ekor sekitar Rp 10 ribu. 

Nilai itu belum termasuk biaya operasional dan tenaga kerja."Kalau dihitung satu ekor Rp10 ribu, belum lagi biaya karyawan," ucap Aep.

Aep menjelaskan, sistem budidaya yang dikelolanya menggunakan sirkulasi air laut. Namun setelah insiden tongkang, pihaknya menghentikan sementara pengambilan air laut sebagai langkah antisipasi.

Meskipun demikian, lobster berukuran besar hingga kini belum menunjukkan dampak yang signifikan."Sirkulasi air memang dari laut, tapi setelah kejadian kami belum mengambil air laut lagi. Untuk lobster yang sudah besar sejauh ini tidak terlalu bermasalah," ujarnya.

Ia menduga kematian benih dipicu perubahan kondisi lingkungan pasca insiden, termasuk kemungkinan pencemaran dan kondisi cuaca yang terasa lebih panas.

"Sebelum kapal tongkang terdampar tidak ada masalah. Setelah kejadian, itu banyak yang mati. Kemungkinan ada dampak dari batu bara yang memicu polusi dan saat itu memang terasa sangat panas," katanya.

Lokasi budidaya disebut berada sangat dekat dengan titik kapal tongkang kandas, dengan jarak diperkirakan kurang dari 500 meter.

"Dari tempat budidaya ke kapal tongkang kurang dari 500 meter, dari sini juga masih terlihat," ucap Aep.

Atas kejadian tersebut, Aep berharap ada tanggung jawab dari pihak perusahaan, tidak hanya dalam bentuk ganti rugi material tapi juga langkah nyata pemulihan lingkungan dan ekosistem pesisir yang terdampak. 

Sementara External Relation PT Trans Logistik Perkasa, Agus Hermawan, menyampaikan, terkait kompensasi bagi warga pesisir yang terdampak itu akan ada.

"Kami sebagai bagian warga negara mengikuti aturan. Iya siap itu akan ada," katanya. (*)

 


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.