Dari Sidang Sambo ke Bisnis Wastra: Kisah Jihan Besarkan Kain Tenun Lewat BRI
Dodi Esvandi June 23, 2026 09:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di sebuah butik yang terletak sepelemparan batu dari Pasar Lontar, Koja Utara, Tanjung Priok, Jakarta Utara, sebuah transformasi bisnis yang mengesankan tengah berlangsung. 

Di sudut ruangan rumah produksi fesyen bernama JJC Rumah Jahit (JJ Collection) inilah, Jihan Astriningtrias (25) kini mengendalikan penuh bisnis busana wanita warisan ibunya. 

Di tempat ini pula, aroma kopi hangat berpadu dengan deru konstan mesin jahit yang bersahut-sahutan, menandai babak baru kehidupan Jihan yang memilih pulang demi menenun asa ekspor bersama BRI.

Pagi menjelang siang itu, menjelang waktu salat Jumat, kesibukan di dalam keriuhan butik meningkat drastis. 

Jemari Jihan tampak lincah memeriksa satu per satu detail potongan busana yang digantung rapi. Lembaran-lembaran kain bertekstur anggun itu sedang dipersiapkan untuk tampil dalam sebuah perhelatan pameran penting. 

Di tengah riuhnya aktivitas produksi di galerinya tersebut, Jihan meluangkan waktu dengan hangat untuk menyambut kedatangan Tribunnews.

"Tapi nanti jangan foto saya ya? Saya lagi mode 'kerja' soalnya, enggak pakai rapi, hehehe," seloroh Jihan. 

Baginya, kenyamanan dalam berkarya adalah prioritas utama saat berada di "dapur" produksinya sendiri. 

Foto-foto dirinya yang tampil anggun dan representatif baru dikirimkannya kemudian via pesan digital setelah seluruh sesi wawancara tuntas diselesaikan.

Perempuan lulusan S1 Jurnalistik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung ini memiliki rekam jejak yang cukup mentereng di dunia pers. 

Sebelum memilih fokus total mengelola bisnis keluarga, Jihan adalah seorang jurnalis yang berbasis di sebuah media nasional di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.

Selama dua tahun menyelami dunia jurnalistik, ruang tajam liputannya bukan kaleng-kaleng: ia intensif mengawal isu politik dan hukum nasional. 

Jihan adalah salah satu saksi mata pers yang duduk di bangku ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, meliput secara maraton kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J) yang diotaki oleh mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri, Irjen Pol. Ferdy Sambo. 

Tak hanya itu, ketahanan fisiknya pun teruji saat ia diterjunkan langsung mengawal dinamika konstelasi politik Pemilu dan Pilpres 2024 yang menguras energi.

Namun, takdir memiliki cetak biru lain untuk masa depannya. Sebuah panggilan emosional untuk melanjutkan warisan keluarga dan cinta yang tumbuh perlahan pada dunia kriya tekstil membawanya pulang ke Koja. 

Owner JJC Rumah Jahit, Jihan Astriningtrias, saat mengikuti sebuah pameran di Jakarta, beberapa waktu lalu. Berkat ketajaman analisis dan komitmennya, JJC Rumah Jahit sukses menembus posisi Top 3 dalam program BRIncubator BRI.
Owner JJC Rumah Jahit, Jihan Astriningtrias, saat mengikuti sebuah pameran di Jakarta, beberapa waktu lalu. Berkat ketajaman analisis dan komitmennya, JJC Rumah Jahit sukses menembus posisi Top 3 dalam program BRIncubator BRI. (HO/IST)

Baca juga: Kisah Inspiratif Findy: Lepas Seragam PNS, Sulap Daster Rumahan Mendunia Bersama BRI

Badai Pandemi, Kehilangan Terbesar

JJC Rumah Jahit bukanlah usaha yang instan. Pondasi bisnis ini pertama kali diletakkan oleh ibunda Jihan pada tahun 2003 silam. 

"Jadi sebenarnya ini rintisan dari ibu ya di tahun 2003. Waktu itu saya masih berumur dua tahun," kenang Jihan. 

Pada masa-masa awal, sang ibu merintis usaha jahit rumahan sederhana ini bermodalkan sertifikat kursus menjahit. 

Tujuannya pun sangat bersahaja: sekadar mencari pemasukan tambahan bagi dapur keluarga dan agar sang ibu memiliki aktivitas produktif di rumah. 

Di sebelah butik itu kini, sang ibu juga membuka toko alat jahit dan alat tulis untuk menopang ekosistem usaha mereka.

Seiring berjalannya waktu, dedikasi sang ibu membuahkan hasil. Bisnis ini terus tumbuh hingga mencapai masa puncaknya (peak season) pada tahun 2019. 

Kala itu, pesanan jahit kustom (custom-made) membeludak dari berbagai kalangan. 

Bahkan, mutu jahitan JJ Collection yang halus berhasil memikat hati putri dari Wakil Presiden Republik Indonesia kala itu, KH Ma'ruf Amin, yang menjadi salah satu pelanggan setianya. 

Jihan sendiri mulai melibatkan diri dalam manajemen usaha pada 2019, meski awalnya sempat terkendala jarak karena ia masih menempuh studi sarjana di Bandung.

Namun, roda kehidupan berputar. Tepat saat bisnis ini berada di kurva tertinggi, pandemi Covid-19 melanda dunia di awal tahun 2020. 

Seperti jutaan pelaku usaha lainnya, Jihan dan ibunya sempat menaruh harapan bahwa situasi ini hanya akan berlangsung singkat selama 14 hari sesuai instruksi awal pembatasan dari pemerintah. 

Berbekal dana tabungan cadangan, mereka mencoba bertahan. Namun, realita berkata lain; pembatasan sosial justru terus diperpanjang tanpa kepastian.

Tahun 2021 menjadi puncak dari segala ujian mental bagi keluarga ini. Sang ayah tercinta berpulang ke hadirat Yang Maha Kuasa akibat keganasan virus Covid-19. 

Cobaan kian bertubi-tubi lantaran seluruh anggota keluarga beserta para pekerja di rumah jahit tersebut turut terkonfirmasi positif Covid-19.

"Karyawan kami waktu itu ada 14 orang. Awalnya kami pangkas bertahap menjadi tujuh orang karena penurunan omzet. Tapi begitu kami sekeluarga kena Covid-19, rumah jahit terpaksa ditutup total dan semua karyawan dipulangkan," ungkap Jihan.

"Saat dipulangkan semua itu, ayah meninggal dunia. Kondisi mental kami saat itu benar-benar sedang tidak baik-baik saja," kenang Jihan dengan mata yang menerawang, mengenang masa-masa kelam tersebut.

Di tengah puing-puing kedukaan dan guncangan ekonomi pascapandemi yang belum stabil, Jihan yang kala itu masih aktif bekerja sebagai jurnalis lapangan harus membagi waktu dan energinya secara ekstrem. 

Siang hari ia mengejar narasumber politik dan hukum, malam hari ia pulang ke Koja untuk menemani sang ibu dan membenahi manajemen rumah jahit agar tidak gulung tikar.

Titik balik spiritual dan bisnis Jihan terjadi di tahun 2022, di sela-sela kesibukannya meliput kasus Ferdy Sambo. 

Suatu hari, seorang pelanggan lama datang ke butiknya dan melontarkan sebuah kalimat yang mengubah cara pandang Jihan selamanya terhadap bisnis busana.

"Ibu sama Mbak tahu enggak sih? Yang Ibu sama Mbak lakuin ini tuh bukan cuma sekadar usaha dagang biasa. Tapi ini tuh bisa bikin perempuan-perempuan di Indonesia merasa jauh lebih cantik saat memakainya."

Kalimat sederhana itu menghantam kesadaran Jihan. Ia menyadari bahwa JJC Rumah Jahit memiliki peran sosial yang mendalam bagi kepercayaan diri para pelanggannya. 

Setahun kemudian, pada 2023, di tengah padatnya jadwal dunia jurnalistik yang kian menyita waktu, Jihan dihadapkan pada persimpangan jalan hidup. Ia harus memilih salah satu. 

Didorong oleh rasa cinta yang telah mengakar pada bisnis warisan ibunya, ia membuat keputusan berani: menanggalkan karier jurnalistiknya dan fokus 100 persen mengendalikan JJC Rumah Jahit.

Deretan baju koleksi karya JJC Rumah Jahit di butiknya yang berada di kawasan Koja Utara, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Deretan baju koleksi karya JJC Rumah Jahit di butiknya yang berada di kawasan Koja Utara, Tanjung Priok, Jakarta Utara. (Tribunnews.com/Dodi Esvandi)

Baca juga: Kisah Ipeh Bangkit dari Badai PHK: Modal Rp134 Ribu Menembus Pasar Global bersama Rumah BUMN BRI

Membaca Perubahan Pasar

Ketika Jihan mengambil alih kendali secara penuh pada tahun 2023, ia dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa lanskap pasar telah berubah total.  Daya beli masyarakat merosot pascapandemi, dan tren belanja bergeser drastis. 

Konsumen yang dulunya rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menjahit baju kustom seragam pengiring pengantin (bridesmaid), kini lebih memilih membeli baju siap pakai (ready-to-wear) secara daring di platform digital karena harganya yang jauh lebih murah akibat produksi massal konveksi.

"Itu adalah tantangan yang sangat besar (challenging). Bagaimana caranya kita bersaing dengan harga online yang sangat murah, sementara kita mempertahankan kualitas?" kata Jihan.

Jihan pun memutar otak. Sebagai perempuan yang memiliki garis keturunan dari Jepara, Jawa Tengah, ia melihat peluang pada kain Tenun Troso, sebuah produk tenun khas dari sebuah desa bernama Teroso di Jepara. 

Pada awalnya, di tahun 2023, ia mencoba memproduksi pakaian dengan material kain tenun bermotif penuh yang dipasok langsung dari saudaranya di Jepara. 

Langkah ini diambil sekaligus dengan niat mulia membantu menggerakkan roda ekonomi para perajin lokal di tanah kelahiran leluhurnya.

Namun, naluri analitisnya kembali diuji. Kain tenun dengan motif massal memiliki kelemahan: motifnya serupa dengan yang digunakan oleh produsen fesyen lain. 

Pelanggan kelas butik cenderung enggan membeli pakaian yang memiliki risiko bermotif kembar dengan orang lain di tempat umum. 

Selain itu, limbah kain perca dari proses pemotongan tenun bermotif mulai menumpuk di sudut rumahnya.

Solusi kreatif akhirnya lahir pada tahun 2025. Jihan mengamati bahwa perajin di Jepara juga memproduksi jenis tenun polos yang memiliki tekstur unik menyerupai bahan semi-wool, namun tetap membawa karakteristik asli kain tenun alat tenun bukan mesin (ATBM). 

Jihan kemudian mengambil langkah berani dengan mengumpulkan limbah kain perca bermotif yang ia miliki, lalu mengombinasikannya di atas kain tenun polos tersebut melalui teknik bordir modiste yang rumit.

Lini koleksi siap pakai (ready-to-wear) premium ini ia beri nama Eunoia Jakarta. 

Nama ini dipilih bukan tanpa alasan. Sebagai unit usaha yang tumbuh di bawah binaan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jakarta Utara, Jihan merasa bertanggung jawab untuk menginjeksikan identitas lokal ke dalam karyanya.

"Kami berada di bawah Dekranasda, dan saya pikir sayang sekali kalau tidak mengangkat budaya setempat. Melalui tenun polos ini, kami memiliki kebebasan kreatif untuk menaruh ikon-ikon Jakarta," kata Jihan.

"Kami terinspirasi dari kultur dan lanskap ibu kota; ada koleksi yang mengambil motif kue tradisional kembang goyang, dan ada juga yang terinspirasi dari morfologi kerang hijau, mengingat Jakarta Utara adalah salah satu daerah penghasil kerang hijau terbesar," papar Jihan secara mendalam.

Strategi diferensiasi produk ini terbukti sukses besar. Jihan membagi kanal penjualannya menjadi dua segmen harga yang taktis. 

Segmen eksklusif atau tatap muka berada di kisaran Rp400.000 hingga Rp700.000, yang dibawa khusus saat mengikuti pameran-pameran premium di pusat perbelanjaan, hotel, atau kantor kementerian. 

Pakaian pada segmen ini dilengkapi dengan lapisan dalam (furing) trikot terbaik dengan teknik pemotongan personal (bukan sistem konveksi massal) untuk menjaga presisi dan kesan mewah (lux).

Sementara itu, untuk segmen digital atau online, produk dipatok di kisaran Rp150.000 hingga Rp250.000. 

Produk tersebut diproduksi dengan menyederhanakan tingkat kerumitan bordir serta material pelengkap untuk dipasarkan melalui platform Shopee dan TikTok Shop demi menjangkau pasar anak muda yang dinamis. 

Melalui inovasi Eunoia Jakarta ini, JJC Rumah Jahit berhasil mencatatkan lompatan performa bisnis yang signifikan dengan kenaikan omzet hingga hampir dua kali lipat dibandingkan saat hanya mengandalkan pesanan jahit konvensional.

Deretan baju koleksi karya JJC Rumah Jahit di butiknya yang berada di kawasan Koja Utara, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Deretan baju koleksi karya JJC Rumah Jahit di butiknya yang berada di kawasan Koja Utara, Tanjung Priok, Jakarta Utara. (Tribunnews.com/Dodi Esvandi)

Baca juga: Dari Dapur Kontrakan ke Rak Swalayan, Lompatan Cuan Kebab Endul Berkat Rumah BUMN BRI

Inkubasi Melalui BRIncubator Rumah BUMN BRI

Lompatan besar JJC Rumah Jahit dari sebuah bengkel jahit lokal menjadi sebuah merek fesyen yang terstruktur tidak terjadi dalam semalam. 

Momentum emas itu bermula di awal tahun 2024, ketika Jihan menghadiri pelatihan yang diadakan oleh Jakpreneur dan bertemu dengan Chief Financial Officer (CFO) Rumah BUMN yang saat itu dijabat oleh Nova. 

Dari perkenalan tersebut, Jihan kemudian direkomendasikan kepada pengelola Rumah BUMN BRI Jakarta, termasuk Jajang Rohmana.

Sejak bergabung menjadi UMKM binaan Rumah BUMN BRI, Jihan bak spons yang menyerap seluruh ilmu hulu-ke-hilir yang disediakan. 

Mengingat lokasi Rumah BUMN BRI yang berpusat di Slipi, Jakarta Barat cukup jauh dari kediamannya di Koja, Jihan sangat terbantu dengan fleksibilitas sistem pelatihan yang digelar secara hibrida (online dan offline). 

Program pelatihan yang diikutinya mencakup spektrum bisnis yang sangat luas dan praktis: mulai dari pengurusan hak kekayaan intelektual (HAKI), sertifikasi halal, strategi pemasaran digital, peningkatan kesadaran merek (brand awareness), hingga hal-hal yang sering dianggap sepele oleh pelaku usaha mikro namun berdampak besar pada persepsi konsumen, yaitu desain pengemasan (packaging).

Program master yang menjadi batu loncatan terbesar bagi JJC Rumah Jahit Island adalah BRIncubator Lokal. 

Program ini merupakan inkubator bisnis eksklusif dari BRI yang dirancang dengan kurikulum berjenjang dan padat materi esensial.

"Periodenya singkat, tapi semua materinya benar-benar 'daging'. Setiap selesai menerima materi, kami langsung diberikan tugas yang memaksa kami mengevaluasi diri sendiri," kata Jihan.

"Kami dibimbing merumuskan kembali visi-misi perusahaan, memetakan Business Model Canvas (BMC), membenahi tata kelola finansial, hingga menyusun strategi penetrasi pasar digital dan rencana ekspor," tutur Jihan dengan antusias. 

Berkat ketajaman analisis dan komitmennya, JJC Rumah Jahit sukses menembus posisi Top 3 dalam program BRIncubator tersebut.

Keberhasilan program inkubasi ini diamini oleh Koordinator Rumah BUMN BRI Jakarta, Jajang Rohmana. 

Jajang memaparkan bahwa saat ini Rumah BUMN BRI telah menaungi dan membina sedikitnya 11.000 pelaku UMKM di wilayah Jabodetabek dan Banten. 

Rumah BUMN BRI didesain bukan sekadar sebagai tempat berkumpul para pelaku usaha, melainkan sebagai sebuah ekosistem inkubator produktif yang dipersiapkan untuk mencetak pengusaha lokal agar memiliki daya saing global.

"Kunci utama dari akselerasi kelas UMKM ini terletak pada kesinambungan program seperti BRIncubator. Kami menyaring peserta melalui sistem open call dan kurasi komitmen yang ketat. Kami sangat memahami tantangan terbesar pelaku usaha mikro: waktu adalah uang. Jika mereka harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk ikut pelatihan, mereka terpaksa mengorbankan waktu produksi yang berpotensi menurunkan omzet harian mereka," jelas Jajang Rohmana secara blak-blakan.

Untuk menjembatani tantangan tersebut, Rumah BUMN BRI menyiapkan insentif nyata berupa perluasan akses pasar sebagai solusi penyeimbang. 

"Karena itu, goal utama kami setelah menempa mereka di kelas adalah membawa para lulusan terbaik ini langsung ke pameran-pameran dagang strategis, baik skala lokal maupun pameran internasional seperti Trade Expo," tambah Jajang.

Janji kompensasi pasar itu diwujudkan secara konkret pada JJC Rumah Jahit. 

Sebagai salah satu jebolan Top 3 BRIncubator, usaha Jihan terus dilibatkan dalam berbagai ajang pameran premium yang difasilitasi penuh oleh BRI. 

Jihan mengaku sangat kagum dengan profesionalisme pengelolaan pameran oleh BRI.

"Semua fasilitas pameran yang diberikan BRI itu gratis untuk kami para binaan. Padahal, stan yang disediakan bagus sekali, fasilitasnya premium, pencahayaannya diatur sangat mendukung estetika pakaian, dan nama brand kami dipajang dengan jelas untuk memperkuat poin branding. Dari segi penjualan, bazar yang diadakan BRI selalu mencatatkan hasil yang bagus," puji Jihan.

Melalui rangkaian pameran di berbagai lokasi strategis seperti  Jakarta International Expo (JIExpo), kantor-kantor kementerian, Direktorat Jenderal Pajak (DJP), hingga Bank Indonesia, JJ Collection berhasil menjaring pasar korporasi (Business-to-Business). 

Selama dua tahun terakhir, JJC Rumah Jahit dipercaya oleh Universitas Trisakti untuk memproduksi busana seragam para dosen di beberapa fakultas, serta memenangkan proyek pengadaan pakaian untuk PT Pelindo pada tahun lalu. 

Katalog produk siap pakai yang rapi kini mempermudah Jihan melakukan presentasi bisnis kepada klien-klien korporat tersebut.

Infografis kisah dan strategi JJC Rumah Jahit: Transformasi tangguh dari penjahit rumahan menuju brand modern.
Infografis kisah dan strategi JJC Rumah Jahit: Transformasi tangguh dari penjahit rumahan menuju brand modern. (Tribunnews.com/NotebookLM)

Baca juga: Kisah Sebatang Duri Emas dari Jelambar: Dirawat Bak Anak, Dibesarkan Rumah BUMN BRI

Injeksi Modal KUR BRI

Ketika fondasi manajemen internal telah kokoh berkat BRIncubator, tantangan berikutnya yang dihadapi Jihan adalah keterbatasan modal kerja untuk melakukan lompatan besar (scaling up).  

Guna menembus pasar digital secara masif di platform Shopee dan mempersiapkan ekspansi konten ke TikTok Shop yang direncanakan meluncur pada Juli mendatang, Jihan membutuhkan modal yang tidak sedikit untuk memproduksi stok barang dalam jumlah besar.

Di sinilah peran Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI masuk sebagai katalisator. 

JJC Rumah Jahit saat ini tengah menjalankan fasilitas plafon KUR BRI sebesar Rp100 juta.  

Dana segar tersebut dialokasikan sepenuhnya sebagai modal kerja produksi massal awal, mulai dari pemesanan kain tenun ATBM dalam jumlah besar ke Jepara—di mana perajin menetapkan batas minimum pemesanan sebanyak 100 potong per warna—hingga pembelian material pelengkap dan pembiayaan iklan digital.

Pengalaman Jihan dalam mengakses pembiayaan di BRI dirasakannya sangat luar biasa dan mematahkan stigma bahwa birokrasi perbankan untuk UMKM itu rumit dan berbelit-belit.

"Prosesnya cepat sekali. Waktu itu saya sedang sibuk-sibuknya mengikuti pembinaan Jawara Bank Indonesia dan tidak punya banyak waktu untuk bolak-balik ke bank. Saya bilang ke petugas BRI yang mendampingi agar prosesnya jangan terlalu rumit. Luar biasa, hanya dalam hitungan dua sampai tiga jam di hari yang sama, pengajuan plafon itu langsung cair," kenang Jihan penuh kekaguman.

Ia menambahkan, kecepatan layanan ini kemungkinan besar juga dipengaruhi oleh faktor historis ibundanya yang telah puluhan tahun menjadi nasabah setia BRI dengan rekam jejak kredit (credit scoring) yang sangat bersih dan disiplin dalam pemenuhan kewajiban. 

Jihan menceritakan bahwa pascapandemi, sang ibu juga sempat menggunakan plafon kredit BRI untuk memutar otak mengembangkan toko alat jahit di sebelah butik dengan menambahkan lini produk Alat Tulis Kantor (ATK) guna menopang pendapatan keluarga yang sempat merosot.

Suntikan modal KUR ini terbukti menjadi bahan bakar yang ampuh. Efek instannya kini dirasakan langsung di saluran penjualan digitalnya. 

"Di dunia online, perilaku konsumen itu berbeda dengan offline. Pembeli digital tidak mau menunggu proses jahit; mereka klik, bayar, dan barang harus langsung siap dikirim. KUR BRI membantu kami menyediakan stok tersebut," jelas Jihan.

Peningkatan kapasitas modal ini juga berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja lokal.  

Jihan secara perlahan mampu mempekerjakan kembali para perajin dan penjahit di sekitarnya, di mana saat ini struktur karyawannya telah kembali berada di angka 10 orang dengan pembagian tugas yang profesional: mulai dari tukang potong, penjahit spesialis modiste, asisten butik, hingga staf khusus yang mengelola siaran langsung (live streaming) serta konsistensi pembuatan konten media sosial.

Langkah ekspansi yang terukur ini mulai membuahkan hasil global. 

Dalam pameran yang baru saja diikutinya di Grand Indonesia, produk Eunoia Jakarta milik Jihan kebanjiran animo dari turis mancanegara, terutama dari kawasan Eropa seperti Inggris, serta turis dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara. 

Bagi para turis tersebut, harga yang ditawarkan oleh JJC Rumah Jahit dirasa sangat terjangkau jika dibandingkan dengan kualitas pengerjaan tangan (handmade) dan nilai historis wastra yang terkandung di dalamnya. 

Hal ini menjadi indikator kuat bagi Jihan bahwa produknya memiliki kesiapan penuh untuk merambah pasar ekspor.

Kepuasan konsumen di lapangan juga tercermin nyata dari testimoni para pelanggan setianya, salah satunya Tri Meilani Ameliya yang menyatakan pengalamannya menggunakan jasa JJC Rumah Jahit.

"Pengalaman mengesankan jahit di JJC. Selain pelayanannya yang bintang lima, hasil jahitannya juga sesuai apa yang diharapkan. Hasilnya bagus banget sesuai ekspektasi, pengerjaannya cepat sekali, modelnya sangat sesuai apa yang kita request," puji Tri Meilani.

Butik JJC Rumah Jahit. Lokasi butik ini berada tak jauh dari Pasar Lontar, Koja Utara, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Butik JJC Rumah Jahit. Lokasi butik ini berada tak jauh dari Pasar Lontar, Koja Utara, Tanjung Priok, Jakarta Utara. (Tribunnews.com/Dodi Esvandi)

Baca juga: Siasat Pempek Vero Naik Kelas: Racikan Cuko Lubuk Linggau dan Sentuhan Manajemen Modern BRI

Komitmen BRI Mendukung Kemandirian Ekonomi Bangsa

Kisah sukses Jihan Astriningtrias bersama JJC Rumah Jahit di Koja Jakarta Utara merupakan satu dari jutaan potret keberhasilan program intervensi pembiayaan dan pendampingan terpadu yang digulirkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk di seluruh penjuru tanah air.

Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa sebagai lembaga keuangan yang memegang porsi penyaluran KUR terbesar di Indonesia, BRI memikul tanggung jawab besar untuk memperkuat kontribusinya terhadap program Asta Cita ke-2 Pemerintah, yaitu mewujudkan kemandirian bangsa melalui swasembada pangan dan penguatan sektor produktif.

Berdasarkan data performa hingga April 2026, akselerasi penyaluran KUR BRI menunjukkan angka yang sangat masif dan impresif. 

Dalam empat bulan pertama di tahun 2026 saja, realisasi penyaluran KUR BRI telah berhasil menembus angka Rp65,95 triliun yang didistribusikan kepada sekitar 1,3 juta debitur di berbagai wilayah Indonesia.

Sebagai bentuk dukungan nyata pada sektor riil dan penguatan ketahanan nasional, mayoritas aliran dana KUR tersebut disalurkan ke sektor-sektor produksi—yang mencakup sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan—dengan porsi agregat mencapai 66,47 persen. 

Dari total penyaluran tersebut, sektor pertanian tampil sebagai kontributor paling dominan dengan serapan mencapai Rp27,95 triliun atau setara 42,38?ri total portofolio, yang secara spesifik telah menjangkau 558 ribu petani dan 23 ribu nelayan di seluruh tanah air.

"KUR merupakan instrumen pembiayaan strategis BRI dalam mendukung sektor usaha mikro dan sektor produktif. BRI senantiasa menyalurkan KUR dengan memperluas akses permodalan yang tidak hanya berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja baru, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas usaha serta mempercepat perputaran roda ekonomi di berbagai daerah," jelas Akhmad Purwakajaya dalam keterangan resminya.

Dalam menjalankan mandat besar ini, Akhmad menegaskan bahwa BRI tidak semata-mata mengejar kuantitas penyaluran, melainkan tetap memegang teguh prinsip kehati-hatian (prudent banking) dengan mengedepankan aspek transparansi serta akuntabilitas yang tinggi. 

Hal ini krusial mengingat seluruh dana KUR yang disalurkan sepenuhnya bersumber dari likuiditas perbankan yang dihimpun dari tabungan dan deposito masyarakat, sehingga menjaga kualitas kredit (menekan angka kredit bermasalah) adalah sebuah kewajiban mutlak demi stabilitas sistem keuangan.

Indikator keberhasilan dari kombinasi pembiayaan KUR dan bimbingan teknis lewat Rumah BUMN ini tercermin nyata dari tingginya angka pelaku usaha yang berhasil "naik kelas". 

Hingga April 2026, tercatat sebanyak 307 ribu debitur BRI sukses meningkatkan skala bisnisnya ke level yang lebih tinggi, mengonfirmasi pencapaian sebesar 31,96?ri target tahunan perseroan yang mematok 962 ribu debitur naik kelas di tahun ini.

Di sisi lain, daya penetrasi jangkauan KUR BRI ke struktur sosial masyarakat paling mendasar—yaitu unit rumah tangga—menunjukkan tren kenaikan yang sangat konsisten dari tahun ke tahun. 

Data menunjukkan bahwa hingga April 2026, sekitar 19 dari setiap 100 rumah tangga di Indonesia telah memanfaatkan fasilitas KUR BRI sebagai motor penggerak ekonomi mereka. 

Angka penetrasi ini tercatat naik secara berkala dari tahun-tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2025 berada di posisi 18 rumah tangga, dan pada tahun 2024 di posisi 17 rumah tangga dari setiap 100 rumah tangga.

Butik JJC Rumah Jahit. Lokasi butik ini berada tak jauh dari Pasar Lontar, Koja Utara, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Butik JJC Rumah Jahit. Lokasi butik ini berada tak jauh dari Pasar Lontar, Koja Utara, Tanjung Priok, Jakarta Utara. (Tribunnews.com/Dodi Esvandi)

Baca juga: Sentuhan Magis Sisi: Racik Batik di Atas Keramik, Sukses Mendunia Bersama BRI

Jangan Pernah Berhenti Berpikir

Baginya, jurnalisme dan bisnis memiliki satu benang merah yang sama: keduanya membutuhkan kemampuan membaca situasi, menganalisis masalah, dan mengeksekusi solusi secara cepat tepat.

Dari sebuah wilayah pesisir Jakarta Utara, sepotong kain tenun yang sarat akan nilai sejarah kini bertransformasi menjadi busana modern yang siap bersaing di pasar global. 

Keberhasilan Jihan menghidupkan kembali bisnis keluarga adalah manifesto nyata dari sinergi apik antara ketekunan pelaku usaha lokal, pembinaan terstruktur dari Rumah BUMN BRI, serta dukungan modal kerja KUR BRI.

Sebagai penutup perbincangan hangat pagi itu, sang mantan jurnalis yang kini sukses menjadi desainer wastra ini memberikan pesan dan petuah mendalam bagi generasi muda maupun pelaku UMKM di seluruh Indonesia yang sedang ragu melangkah atau tengah berjuang melewati fase-fase sulit guncangan ekonomi:

"Sebenarnya konsepnya sederhana, apa yang saya rasakan sendiri: ketika belum mulai, ya mulai aja dulu. Karena kalau kita sudah berani memulai, secara otomatis akan muncul insting dan rasa tanggung jawab dalam diri kita untuk mencari jalan bagaimana caranya agar bisnis ini tidak boleh berhenti. Tapi kalau cuma dipikirkan dan tidak pernah dimulai, ya selamanya tidak akan pernah jalan," ujar Jihan dengan sorot mata tajam nan optimis.

Bagi mereka yang sudah berjalan namun tengah menghadapi badai ujian bisnis, Jihan menitipkan sebuah filosofi berharga yang ia petik dari salah satu sesi pelatihan di Rumah BUMN BRI:

"Untuk yang sudah jalan tapi mungkin sedang struggling karena situasi ekonomi makro kita yang sedang menantang, jangan pernah berhenti berjalan," katanya.

Jihan ingat ketika mengikuti sebuah pelatihan ia belajar bahwa tugas utama seorang owner atau pemilik bisnis adalah berpikir. 

"Jadi kalau kepala kita pusing, itu adalah hal yang sewajarnya. Pusing itu adalah tanda nyata bahwa kita sedang berpikir keras mencari strategi. Dan ketika kita tidak pernah berhenti berpikir memanfaatkan ekosistem pendukung seperti BRI, masa sih usaha kita tidak jalan? Masa sih usaha kita harus berhenti? Tetaplah berpikir dan terus melangkah," pungkas Jihan menyudahi obrolan dengan senyum penuh keyakinan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.