Kondisi Korban Penyekapan di Bandung, Terancam Alami Gangguan Psikologis Serius, Harus Rehab Lama
Talitha Daren June 23, 2026 08:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Kasus penyekapan dan penganiayaan yang dialami YTR, perempuan asal Rancaekek, Kabupaten Bandung, tidak hanya menyisakan luka fisik yang serius, tetapi juga berpotensi menimbulkan trauma mendalam.

Dugaan kekerasan yang berlangsung selama bertahun-tahun itu kini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk kalangan medis.

Sebelumnya, YTR diduga menjadi korban penyekapan dan penganiayaan oleh kekasihnya, TH, selama sekitar tiga tahun.

Selama periode tersebut, korban diketahui tinggal bersama pelaku di sebuah rumah kontrakan di kawasan Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Kasus ini terungkap setelah YTR ditemukan dalam kondisi memprihatinkan dan dibawa ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Keluarga korban awalnya menerima pesan dari nomor tak dikenal yang mengabarkan bahwa YTR sedang menjalani perawatan di rumah sakit akibat kecelakaan.

Namun, kondisi luka yang ditemukan pada tubuh korban kemudian memunculkan dugaan kuat adanya tindak kekerasan yang dialaminya.

Selain menjalani pemulihan fisik, korban juga diperkirakan membutuhkan pendampingan psikologis dalam jangka panjang.

Dokter spesialis kejiwaan dr. Teddy Hidayat, Sp.KJ (K), mengungkapkan bahwa korban kekerasan dalam hubungan intim berisiko mengalami berbagai gangguan mental.

Mulai dari gangguan stres pascatrauma (PTSD), depresi berat, hingga gangguan kecemasan yang dapat memengaruhi kualitas hidup korban dalam waktu lama.

Baca juga: Taufik Hidayat Terduga Pelaku Penyekapan Wanita Bandung Main Aplikasi Kencan, Pakai Foto Editan

Dokter Jiwa Buka Suara

Korban kekerasan dalam hubungan intim seperti yang dialami YTR berisiko mengalami berbagai gangguan kejiwaan, mulai dari stres pascatrauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), depresi berat, hingga gangguan kecemasan seperti yang diungkap Dokter spesialis kejiwaan, dr. Teddy Hidayat, Sp.KJ (K).

Menurut Teddy, perhatian publik seharusnya tidak hanya terfokus pada pelabelan pelaku sebagai psikopat, tetapi juga pada kondisi korban yang kemungkinan menghadapi trauma mendalam akibat kekerasan yang dialaminya.

“Kalau kita lihat dari sisi psikiatri, yang lebih penting justru memahami dampak yang dialami korban. Kasus ini memenuhi karakteristik Intimate Partner Violence atau kekerasan dalam hubungan intim,” kata dokter Teddy saat dihubungi, Selasa (23/6/2026).

Ia menjelaskan, terdapat sejumlah indikator yang terlihat dalam kasus tersebut.

Selain kekerasan fisik berat, terdapat dugaan intimidasi melalui ancaman terhadap keselamatan korban maupun keluarganya, pemutusan hubungan korban dengan lingkungan sosial dan keluarga, serta terjadinya kekerasan dalam konteks hubungan asmara yang dekat secara emosional.

Baca juga: Masa Kecil Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Bandung, Aktif Mengaji di Madrasah & Tak Pernah Berulah

WANITA DISIKSA PACAR - Kondisi korban penyekapan di Bandung, terancam mengalami gangguan psikologis yang serius (Istimewa/via TribunBogor)

Gangguan Psikologis Serius

Menurutnya, kombinasi faktor-faktor tersebut menjadi prediktor kuat munculnya gangguan psikologis serius pada korban.

Salah satu gangguan yang paling mungkin muncul adalah PTSD. Kondisi ini biasanya ditandai dengan munculnya kembali ingatan tentang peristiwa traumatis secara berulang, mimpi buruk, kewaspadaan berlebihan, hingga ketakutan yang terus-menerus.

“Korban bisa mengalami flashback, yaitu peristiwa penyiksaan itu muncul kembali dalam pikirannya. Kemudian nightmare atau mimpi buruk, hypervigilance atau kewaspadaan yang berlebihan, serta menghindari pembicaraan yang mengingatkan pada kejadian tersebut,” ujarnya.

Selain PTSD, dokter Teddy menilai korban juga berpotensi mengalami depresi berat. Risiko tersebut semakin tinggi karena korban tidak hanya mengalami kekerasan fisik, tetapi juga kehilangan rasa aman dan mengalami pengkhianatan dalam hubungan yang sebelumnya dipercayai.

Terlebih, jika korban mengalami gangguan penglihatan permanen akibat penganiayaan yang dialaminya, kondisi tersebut dapat memperbesar risiko munculnya depresi.

“Faktor kehilangan fungsi penglihatan, kehilangan rasa aman karena terus diancam, dan pengkhianatan dalam hubungan intim merupakan faktor-faktor yang sangat kuat memicu depresi berat,” katanya.

Gejala depresi yang mungkin muncul antara lain perasaan putus asa, menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan kepercayaan diri, hingga munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup.

Dokter Teddy menegaskan pentingnya pemeriksaan kesehatan mental secara menyeluruh terhadap korban, termasuk skrining risiko bunuh diri.

“Ini harus diperiksa, jangan sampai kita hanya fokus pada luka fisiknya, tetapi mengabaikan risiko bunuh diri yang mungkin muncul akibat trauma dan depresi yang berat,” ujarnya.

Baca juga: Murka Atalia Praratya & Denny Sumargo Lihat Wanita Korban Penyekapan Bandung: Pelaku Kayak Binatang

Gangguan lain yang berpotensi muncul adalah kecemasan berat. Korban dapat mengalami serangan panik, rasa takut berlebihan, serta kekhawatiran bahwa ancaman atau kekerasan serupa akan kembali terjadi.

Melihat kompleksitas kondisi yang mungkin dialami korban, dokter Teddy menilai penanganan yang diperlukan tidak cukup hanya berupa perawatan fisik.

Ia menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin yang melibatkan psikiater, psikolog, pekerja sosial, hingga dukungan hukum untuk memastikan pemulihan korban berjalan secara menyeluruh.

“Kasus ini merupakan psikotrauma yang sangat berat. Selain luka fisik, ada risiko PTSD, depresi, dan gangguan kecemasan yang bahkan bisa menyebabkan disabilitas mental permanen bila tidak ditangani dengan baik,” katanya.

Dokter Teddy menambahkan, korban membutuhkan pemeriksaan psikiatri komprehensif, terapi obat bila diperlukan, psikoterapi, serta pendampingan psikososial dan rehabilitasi jangka panjang.

“Pemulihan psikologis korban tidak bisa selesai dalam waktu singkat. Dampaknya bisa berlangsung bertahun-tahun sehingga membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan,” tuturnya.

(TribunTrends/TribunJabar.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.