Di tengah aktivitasnya sebagai konten kreator yang aktif mempromosikan berbagai produk di media sosial, Fuji kini mulai merasakan dampak langsung dari kondisi ekonomi yang menurutnya semakin menekan daya beli masyarakat.
Perubahan nilai tukar rupiah yang melemah serta meningkatnya harga kebutuhan pokok disebut bukan hanya menjadi isu makro ekonomi, tetapi juga berdampak pada pola konsumsi pengikutnya di media sosial, yang selama ini menjadi pasar utama dalam aktivitas afiliasi produk yang ia jalankan.
Situasi tersebut, menurut Fuji, membuat penjualan produk yang ia promosikan ikut mengalami penurunan signifikan karena masyarakat semakin selektif dalam membelanjakan uang mereka.
Selain dikenal sebagai konten kreator, Fuji juga menjalankan peran sebagai afiliator berbagai produk di media sosial, mulai dari makanan, fashion, hingga produk kecantikan. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ia mengaku mulai merasakan perubahan perilaku konsumen yang cukup nyata di lapangan digital.
"Penjualan begitu rerasa banget, kak," ungkap Fuji saat ditemui di kawasan Bogor, Jawa Barat, Selasa (23/6/2026).
Ia menyebut, pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut memberikan efek domino terhadap harga barang dan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut, menurutnya, tidak hanya berdampak pada satu sektor, tetapi merata pada berbagai kebutuhan hidup.
"In this economy dolar naik, rupiah melemah itu sangat berasa mulai dari hal apa pun," kata Fuji.
Fuji juga menuturkan bahwa respons para pengikutnya di media sosial memperkuat gambaran kondisi tersebut. Banyak dari mereka, kata dia, kini mulai mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan non-esensial karena tekanan biaya hidup yang semakin meningkat.
Bahkan, tidak sedikit warganet yang secara langsung menyampaikan alasan mereka tidak lagi membeli produk yang dipromosikannya.
"Mau menjual segala sesuatu pasti netizen-netizen aku komen, 'aku nggak ada uang' gitu," ujarnya.
Menurut Fuji, kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok menjadi faktor utama yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Mulai dari harga bahan bakar hingga biaya produksi barang, semuanya ikut mengalami kenaikan dan berdampak pada harga akhir di tingkat konsumen.
"Dikarenakan bahan baku untuk segala macam itu naik, mulai dari bensin, bahan baku semuanya," ucapnya.
"Jadi mereka akan memangkas biaya mereka untuk belanja-belanja, untuk jalan-jalan," lanjut Fuji.
Selain dampak di dalam negeri, Fuji juga mengaku merasakan langsung efek melemahnya rupiah saat dirinya bepergian ke luar negeri, termasuk ketika mengunjungi Monaco beberapa waktu lalu. Perbedaan nilai tukar membuat pengeluaran yang ia keluarkan di luar negeri terasa jauh lebih besar dibandingkan kondisi normal.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang membuatnya semakin menyadari betapa kuatnya pengaruh nilai tukar mata uang terhadap daya beli, baik bagi pelaku usaha maupun konsumen di level individu.