China Kurangi Ketergantungan pada Minyak di Tengah Masifnya Peminat Kendaraan Listrik
Tribun-video June 23, 2026 08:42 PM

-Permintaan minyak China diperkirakan tidak akan kembali seperti sebelum perang Iran.

Salah satu penyebab utamanya adalah semakin banyak warga China yang beralih menggunakan kendaraan listrik.

Sejumlah analis menilai perubahan ini bisa berdampak jangka panjang terhadap konsumsi bahan bakar di negara pengimpor minyak terbesar dunia tersebut.

Bloomberg melaporkan, penggunaan kendaraan listrik yang terus meningkat membuat kebutuhan minyak di China ikut menurun.

Wakil Presiden Pasar Minyak Rystad Energy, Lin Ye, mengatakan banyak konsumen yang sudah beralih ke mobil listrik kemungkinan tidak akan kembali menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin.

"Perilaku konsumen sulit diubah. Mereka yang sudah beralih ke mobil listrik kemungkinan tidak akan kembali lagi kecuali harga bahan bakar turun jauh lebih murah," kata Lin Ye, dikutip dari Oilprice.

Menurut Rystad Energy, permintaan minyak China saat ini masih lebih rendah sekitar 200 ribu hingga 600 ribu barel per hari dibandingkan sebelum perang.

Sementara itu, Energy Aspects memperkirakan penurunan permintaan secara permanen bisa mencapai sekitar 300 ribu barel per hari.

Konsultan energi FGE NexantECA juga memperkirakan impor minyak China dapat turun hingga 3,3 juta barel per hari pada kuartal ini.

Penurunan tersebut dipengaruhi beberapa faktor, seperti berkurangnya aktivitas kilang minyak, berakhirnya masa penimbunan cadangan, serta kebijakan pemerintah China yang membatasi ekspor bahan bakar.

Kebijakan itu membuat pasokan bahan bakar di dalam negeri tetap melimpah sehingga kebutuhan impor minyak baru ikut berkurang.

Meski demikian, tidak semua analis memperkirakan tren ini akan berlangsung lama.

Perusahaan riset energi Kpler menilai China kemungkinan akan kembali meningkatkan impor minyak untuk mengisi cadangan energi yang sudah digunakan selama konflik berlangsung.

Di sisi lain, CNN melaporkan China menjadi salah satu faktor yang membantu menahan lonjakan harga minyak dunia selama perang Iran.
Saat banyak analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel, kenyataannya harga minyak tetap berada jauh di bawah angka tersebut.

Salah satu penyebabnya adalah turunnya impor minyak China.

Data yang dikutip dari CNN menunjukkan impor minyak mentah China turun dari sekitar 11,6 juta barel per hari menjadi 7,8 juta barel per hari, level terendah sejak 2017.

Selain mengandalkan cadangan minyak yang besar, China juga semakin terbantu oleh pesatnya pertumbuhan kendaraan listrik.

Kendaraan listrik menyumbang sekitar 42 persen dari total penjualan mobil baru di China pada Mei 2026, naik dari 38 persen pada Maret.

Meski subsidi kendaraan listrik mulai dikurangi, minat masyarakat terhadap mobil listrik masih terus meningkat.

Bahkan, armada kendaraan listrik di China diperkirakan telah mengurangi konsumsi minyak sekitar 1 juta barel per hari sepanjang tahun lalu.

Analis Ember, Daan Walter, mengatakan langkah China ikut membantu mengurangi tekanan terhadap pasar energi global.

Menurut para analis, kebijakan energi dan pola konsumsi China akan semakin berpengaruh terhadap pasar minyak dunia di masa depan.

Jika penggunaan kendaraan listrik terus bertambah, permintaan minyak China berpotensi tetap lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Editor Video:VP Magang Dwi Sulistyo Wati

#China #MinyakChina #MobilListrik #KendaraanListrik #EnergiGlobal #HargaMinyak #ImporMinyak #PasarEnergi #EkonomiChina #EVChina #TransisiEnergi 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.