Rafi, Anak Yang Menemukan Bahasa Kakeknya
Subur Dani June 23, 2026 10:03 PM

Oleh: Muhammad Yusuf Bombang/Apa Kaoy *)

Pada hari pemakaman Teungku Mahmud, Rafi menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Bukan lagi karena kakeknya meninggal. 

Kehilangan itu memang sudah ada jauh sebelum lelaki tua itu dibaringkan di ruang tengah rumahnya. Ia baru menyadarinya saat itu, ketika rumah duka mulai dipenuhi orang-orang yang datang berkunjung.

Di kampung itu, Teungku Mahmud—kakek Rafi dari pihak ayahnya—dikenal sebagai salah seorang penutur hikayat terakhir. 

Ia hafal nama-nama alat pertanian yang mulai hilang dari ingatan orang, istilah-istilah adat yang jarang disebut, serta petuah-petuah lama yang dahulu hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Baca juga: Buloh Peurindu: Senandung Terakhir dari Geulanggang Labu

Karena itulah rumah duka dipenuhi pelayat dari berbagai kampung. Mereka mengenangnya dalam bahasa Aceh yang mengalir cepat dan alamiah. 

Sebagian percakapan dipahami Rafi, sebagian lagi lewat begitu saja seperti suara yang datang dari tempat yang jauh.

Rafi duduk di sudut ruangan dan mendengarkan semuanya, seperti seseorang yang sedang mendengarkan siaran radio dengan gelombang yang tidak sepenuhnya tertangkap. 

Sebagian kalimat dipahaminya. Sebagian lagi lewat begitu saja, tanpa makna dan tanpa jejak.

Saat itu usianya baru tujuh belas tahun, usia ketika seseorang merasa sudah mengenal dunia, padahal sering kali belum mengenal dirinya sendiri.

Aneh rasanya. Kakek-neneknya Aceh. Ayah-ibunya Aceh. Lahir dan besar di Aceh, dan sekolah juga di Aceh. 
Tetapi pada hari kematian kakeknya sendiri, ia tidak sepenuhnya memahami bahasa yang digunakan orang-orang untuk mengenang lelaki itu.

Baca juga: VIDEO Negosiasi AS-Iran Terancam Buntu, Lalu Lintas di Selat Hormuz Tersendat

Di luar rumah, hujan gerimis turun perlahan. Sawah-sawah yang membentang di belakang kampung terlihat kelabu. Sesekali angin membawa aroma tanah basah, jerami, dan sisa musim panen. 

Rafi memandang ke arah beranda. Di situlah biasanya Teungku Mahmud duduk setiap sore dengan buku catatan tua di pangkuannya. 

Memandangi jalan kampung dan menyapa siapa saja yang lewat. Kadang ia bercerita dan kadang hanya diam. Tetapi kini kursi itu kosong. Dan untuk pertama kalinya, kekosongan itu terasa begitu besar.

Delapan hari setelah pemakaman, keluarga mulai membereskan rumah. Saat membersihkan para rumah Aceh yang selama ini jarang disentuh, Rafi menemukan sebuah peti kayu tua yang tersimpan di sudut ruangan.

Di dalamnya tidak ada emas, tidak ada surat tanah, dan tidak ada harta peninggalan yang biasa diperebutkan orang-orang setelah kematian seseorang. 

Yang ada hanyalah puluhan buku dan kitab-kitab lama berhuruf arab. Catatan-catatan yang ditulis tangan dan tumpukan kertas yang mulai menguning. 

Dan sebuah amplop cokelat yang sudah kusam. Di bagian depannya tertulis: Untuk cucuku, jika suatu hari kelak engkau ingin mengenalku.

Baca juga: Sosok Taufik Hidayat, DPO Kasus Penyekapan dan Penganiayaan Wanita Bandung, Polisi Bentuk Tim Khusus

Rafi membuka amplop itu. Tulisan tangan kakeknya memenuhi beberapa lembar kertas. Tulisan yang selama ini hanya dianggapnya kebiasaan seorang tua yang gemar mencatat apa saja. Baru sekarang ia membacanya dengan sungguh-sungguh.

“Jika engkau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada. Aku tidak meninggalkan banyak harta. Aku hanya meninggalkan kata-kata. Aku berharap suatu hari engkau mau membacanya. Bukan untuk mengenalku. Tetapi untuk mengenal dirimu sendiri.”

Rafi membaca kalimat terakhir itu berulang kali. Mengenal dirimu sendiri. Apa hubungan kata-kata itu dengan dirinya? Ia tidak menemukan jawabannya saat itu. Namun entah mengapa, ia terpikir untuk membawa seluruh isi peti itu pulang ke kota.

Malam-malam berikutnya diisi dengan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ia membaca. Bukan novel, dan bukan pula buku pelajaran. Melainkan catatan-catatan tua peninggalan kakeknya. 

Di dalam catatan itu tersimpan kosakata Aceh, potongan hikayat, notasi rapa'i yang ditulis dengan pensil, serta cerita tentang malam-malam panjang di meunasah ketika haba jameun masih menjadi hiburan dan pelajaran hidup.

Di antara halaman-halaman itu, Rafi menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada semua yang lainnya. Cerita tentang keluarganya sendiri. Tentang ayah dan ibunya. Tentang masa yang tidak pernah mereka ceritakan secara lengkap.

Dalam salah satu catatannya, Teungku Mahmud juga menulis: "Anak-anak kampung sekarang belajar bahasa asing melalui telepon genggam.”

Itu baik. Tetapi ada yang membuat Rafi heran. Mereka dapat menyebut nama negara-negara yang belum pernah mereka lihat, tetapi tidak mengenal lagi nama tumbuhan yang tumbuh di halaman rumahnya sendiri.

Baca juga: Pengelolaan UP Tunai dan Reformasi Menuju UP KKP: Optimalisasi Kas Negara untuk Nilai Tambah Ekonomi

Ayah Rafi bernama Abdullah. Ia berasal dari sebuah kampung di daerah pegunungan utara. Ibunya bernama Nuraini, berasal dari kampung lain di pedalaman pantai barat. Keduanya masing-masing dibesarkan dalam keluarga petani. 

Bahasa Aceh adalah bahasa pertama yang mereka kenal. Bahasa yang digunakan untuk bercanda, bertengkar, berdoa, menghidupkan peradaban dan bahkan bahasa yang hadir dalam mimpi-mimpi mereka.

Ketika dewasa, mereka pergi merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. Mencari kehidupan yang lebih baik. Di kota mereka bertemu di sebuah toko tempat keduanya bekerja. Dari pertemuan itulah tumbuh cinta.

Mereka sering ditertawakan oleh teman-teman sekerjanya, bukan karena tidak bekerja keras. Bukan pula karena tidak jujur. Melainkan karena bahasa Indonesia mereka yang terdengar aneh. Logat Aceh yang sangat kental. 

Susunan kalimat yang sering terbalik, dan pilihan kata yang kadang keliru. Mereka juga ikut tertawa setiap kali orang lain tertawa. Tetapi tidak semua luka meninggalkan darah. Sebagian tinggal diam di dalam hati. Dan tumbuh perlahan tanpa disadari.

Dalam salah satu catatannya, Teungku Mahmud pernah menulis:

“Anakku di kota mulai malu berbicara. Bukan karena ia tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan. Tetapi karena ia takut salah mengatakannya.”

Ia teringat bagaimana mereka selalu memperbaiki ucapan satu sama lain. Ia teringat bagaimana ayah dan ibunya begitu bangga ketika guru-gurunya mengatakan bahwa bahasa Indonesianya bagus.

Perlahan ia mulai memahami sesuatu. Keputusan orang tuanya untuk membesarkannya dengan bahasa Indonesia bukanlah penolakan terhadap bahasa Aceh. Melainkan bentuk cinta kepada anaknya. 

Mereka ingin anaknya hidup lebih mudah. Mereka ingin anaknya tidak mengalami penghinaan yang sama. Mereka ingin membuka jalan yang dulu terasa tertutup bagi mereka. 

Baca juga: VIDEO - Mualem Lantik Misran Fuadi sebagai Kepala DSI Aceh

Mereka berhasil. Tetapi setiap keberhasilan ternyata memiliki harga. Dan harga yang mereka bayar ternyata juga tidak kecil. 

Mereka berhasil mengajarkan bahasa yang dibutuhkan anaknya untuk membuka pintu dunia, tetapi tanpa sadar hampir kehilangan bahasa yang dapat menunjukkan jalan pulang.

Semakin lama membaca, Rafi menyadari bahwa ketakutan kedua orang tuanya sebenarnya berlebihan. 
Sejak sekolah dasar, anak-anak kampung pun telah mengenal bahasa Indonesia melalui guru, buku pelajaran, televisi, dan pergaulan sehari-hari. 

Bahasa itu akan menemukan jalannya sendiri kepada mereka. Sebaliknya, bahasa ibu hanya dapat diwariskan oleh keluarga yang memilih untuk tetap menuturkannya.

Rafi juga teringat bagaimana setiap kali pulang ke kampung ayahnya saat lebaran, kakeknya selalu menyelipkan satu atau dua kata Aceh dalam percakapan mereka. 

Saat itu Rafi menganggapnya sekadar kebiasaan orang tua. Kini ia mulai memahami bahwa lelaki tua itu sebenarnya sedang berusaha membuka jalan yang suatu hari mungkin akan dibutuhkan cucunya untuk pulang.

Saat itu sepupu-sepupunya bercakap-cakap dalam bahasa Aceh, dan ia menjawab dalam bahasa Indonesia. Mereka tertawa. Rafi pun ikut tertawa.

Ayah dan ibunya tampak bangga. Seolah sedang menunjukkan hasil dari perjuangan panjang mereka. Adik-adik ayahnya juga ikut terkagum. Hanya Teungku Mahmud yang tidak pernah ikut tertawa.

Kini Rafi memahami mengapa. Kakeknya ternyata melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh yang lainnya. 
Ia melihat seorang cucunya yang tumbuh sehat, cerdas, dan penuh percaya diri. Tetapi perlahan kehilangan salah satu jalan menuju akar keluarganya sendiri.

Di antara semua catatan yang dibaca Rafi, ada satu kalimat yang terus mengganggunya. Kalimat itu ditulis dengan tinta biru yang mulai memudar.

“Setiap generasi ingin memberi kehidupan yang lebih baik kepada anak-anaknya. Tetapi kadang-kadang, tanpa sengaja, mereka juga mewariskan kehilangan.”

Rafi menutup buku itu. Lama sekali ia termenung. Di luar jendela, malam telah larut. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa seperti seseorang yang sedang berdiri di depan rumahnya sendiri, tetapi tidak memiliki kunci untuk masuk.

Baca juga: Jembatan Panton Labu Rusak, Safrizal Pastikan Bina Marga Lakukan Perbaikan Darurat

Beberapa hari setelah membaca kalimat itu, Rafi melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya. 

Ia mulai belajar bahasa Aceh. Bukan karena tugas sekolah. Bukan karena tuntutan pekerjaan. Bukan pula karena ingin dianggap lebih Aceh daripada orang lain. Ia hanya ingin memahami apa yang selama ini tidak dipahaminya.

Mula-mula ia membuka kembali buku kecil yang pernah diberikan Teungku Mahmud bertahun-tahun lalu. Buku yang dulu hanya diselipkannya ke dalam tas dan kemudian terlupakan di antara tumpukan buku pelajaran.

Di halaman-halamannya terdapat kosakata sederhana. Tentang rumah. Sawah. Sungai. Angin. Musyawarah. Persahabatan. Hal-hal yang tampak biasa, tetapi ternyata menyimpan cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan.

Ia mulai mencatat, menghafal, dan mencoba mengucapkannya pelan-pelan. Kadang terdengar aneh di telinganya sendiri. Kadang lidahnya terasa kaku.

Ironis sekali. Ia pernah belajar bahasa Indonesia di sekolah. Belajar bahasa Inggris dari internet. Tetapi bahasa keluarganya sendiri harus dipelajarinya dari buku catatan seorang kakek yang telah lama meninggal dunia.

Semakin sering ia membaca, semakin banyak hal yang dipahaminya. Bukan hanya tentang bahasa, melainkan tentang orang-orang yang dicintainya. Tentang ayah dan ibunya yang selama ini dianggapnya sekadar orang tua biasa.

Tentang perjuangan yang tidak pernah mereka ceritakan dengan lengkap. Tentang rasa malu yang mereka telan diam-diam. Tentang keyakinan bahwa bahasa Indonesia akan membuka pintu-pintu yang dulu tertutup bagi mereka.

Suatu malam, ketika Rafi masih membaca catatan peninggalan Teungku Mahmud, ayahnya duduk di sampingnya. Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat. Mereka sama-sama menatap buku tua itu.

"Ayah dulu, saat bekerja sebagai pelayan toko, sering dimarahi oleh pelanggan," kata ayahnya tiba-tiba.
Rafi menoleh. "Ayah salah bicara?"
Ayahnya tersenyum kecil. 

"Iya. Bukan sekali dua kali. Bertahun-tahun. Tetapi Ayah tidak pernah membenci bahasa Aceh. Ayah hanya takut…" lanjut ayahnya.
"Aku tahu, Ayah."

Untuk pertama kalinya Rafi memahami bahwa ketakutan sering kali menyamar sebagai cinta. Dan cinta, kadang-kadang, melahirkan kehilangan yang tidak pernah direncanakan.

Waktu terus berjalan, dan musim berganti. Catatan-catatan Teungku Mahmud yang semula terasa asing perlahan menjadi akrab. Rafi mulai mampu memahami rekaman hikayat yang ditemukan di dalam peti tua.

Mula-mula hanya beberapa kata. Lalu beberapa kalimat. Kemudian satu cerita penuh.

Baca juga: VIDEO Rusia Bom Kapal NATO, 2 Kapal Kargo Dihantam Rudal di Laut Hitam

Setiap kali berhasil memahami satu bagian, ia merasa seperti menemukan kepingan kecil dari dirinya sendiri. Ia mulai berbicara bahasa Aceh dengan ibunya. Masih terbata-bata. Masih sering keliru. Tetapi setiap kesalahan justru menghadirkan tawa yang hangat.

Tawa yang berbeda dari tawa orang-orang yang pernah mempermalukan kedua orang tuanya. Tawa yang lahir karena sesuatu yang hilang perlahan lalu ditemukan kembali.

Setahun setelah Teungku Mahmud meninggal, keluarga besar berkumpul di kampung untuk mengadakan doa bersama. Rafi ikut pulang ke kampung asal ayahnya. Perjalanan yang dulu terasa biasa kini tampak berbeda.

Nama-nama tempat yang dulu hanya terdengar seperti bunyi kini memiliki arti. Sawah, sungai, bukit, jalan kampung, semuanya seperti sedang memperkenalkan diri kembali kepadanya.

Sesampainya di kampung, beberapa sepupunya langsung mengajaknya berbincang. Dan untuk pertama kalinya, percakapan itu mengalir tanpa harus diterjemahkan. Memang tidak terlalu sempurna, masih ada kesalahan.

Masih ada kosakata yang lupa. Tetapi ia tidak lagi merasa menjadi tamu. Ia tidak lagi merasa berdiri di luar lingkaran. Ia mulai menjadi bagian dari percakapan yang selama ini hanya didengarnya dari kejauhan.
Sore itu ia duduk bersama neneknya di beranda rumah Aceh tua.

Tempat yang dahulu menjadi tempat duduk Teungku Mahmud. Sawah terbentang di depan mereka. Burung-burung kecil terbang rendah di atas padi yang menguning. Nenek memandangnya lama. Lalu tersenyum.

"Kalau Abusyikmu masih ada, beliau pasti senang."

Rafi memandang kursi kosong di samping mereka. Entah mengapa, ia merasa lelaki tua itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam cerita, dalam catatan, dan dalam kata-kata yang ditinggalkannya.

Baca juga: Pemkab Telusuri Identitas Warga Aceh Tamiang yang Tewas di Malaysia

Malam harinya, meunasah kampung dipenuhi warga. Seperti masa-masa yang sering diceritakan Teungku Mahmud dalam catatannya. Anak-anak muda duduk bersila. Orang-orang tua bercakap pelan sambil menyeruput kopi yang mengepul di serambi meunasah.

Sebelum acara berakhir, sebagaimana susunan acara yang telah disiapkan, bapak Geuchik meminta Rafi membacakan salah satu catatan peninggalan kakeknya. Rafi sempat kembali ragu. Namun akhirnya ia membuka buku tua yang selalu dibawanya.

Di antara halaman-halaman yang mulai menguning, ia menemukan sebuah catatan pendek yang belum pernah dibacanya di depan orang lain.

Catatan itu berbunyi: "Bahasa bukan sekadar alat untuk berbicara. Bahasa adalah cara sebuah keluarga mengingat dirinya. Sebab yang pertama hilang dari sebuah bangsa bukanlah tanahnya. Melainkan ingatannya."

Suasana meunasah mendadak sunyi. Tak seorang pun bergerak. Tak seorang pun menyela. Rafi melanjutkan membaca hingga selesai.

Dan ketika ia menutup buku itu, ia merasa seolah mendengar suara Teungku Mahmud kembali mengalun dari sudut ruangan. Tenang. Jernih. Seperti dahulu.

Malam semakin larut. Acara pokok sudah selesai. Orang-orang sebagian mulai pulang. Lampu-lampu meunasah satu per satu dipadamkan. Sebelum menyimpan buku itu ke dalam tas, di antara para sepupunya, para pemuda sebayanya, bapak Geuchik dan berberapa aparatur gampong, Rafi membuka halaman terakhir.

Di sana hanya ada satu kalimat. Tulisan tangan yang mulai pudar. Tulisan tangan kakeknya. Ia membaca pelan dengan suara sedikit besar dan bergetar.

"Kelak mungkin cucuku akan belajar banyak bahasa. Aku hanya berharap ia tidak melupakan bahasa yang pertama kali mengenali namanya."

Rafi membaca kalimat itu berkali-kali. Kemudian menutup buku perlahan. Bertahun-tahun kemudian, ia mungkin akan menguasai lebih banyak bahasa. Bahasa yang membawanya ke berbagai tempat. Ke berbagai pertemuan. Ke berbagai kesempatan.

Bahasa yang pernah hilang di antara cinta, ketakutan, dan harapan kedua orang tuanya. Bahasa yang akhirnya membawanya kembali kepada kakeknya. Dan kepada dirinya sendiri.

Bertahun-tahun kemudian, Rafi benar-benar belajar banyak Bahasa. Namun tidak ada bahasa yang lebih sulit dipelajarinya daripada bahasa yang seharusnya diwariskan kepadanya sejak lahir. Dan tidak ada perjalanan yang lebih jauh daripada perjalanan pulang menuju kata-kata yang pernah hilang dari keluarganya sendiri.

Ketika akhirnya ia mampu menuturkan bahasa itu dengan lancar, ia tahu bahwa yang ditemukannya bukan sekadar bahasa kakeknya. Ia menemukan kembali sebuah bagian dari Aceh yang hampir hilang di dalam dirinya.

Banda Aceh, 13 Juni 2026.

DAFTAR ISTILAH
Abusyik : Sebutan dalam bahasa Aceh untuk kakek.
Geuchik : Kepala desa atau pemimpin gampong di Aceh.
Haba Jameun : Cerita atau kisah masa lalu yang dituturkan secara lisan.
Hikayat : Sastra lisan atau syair tradisional yang berisi cerita, petuah, sejarah, atau nilai-nilai kehidupan.
Meunasah : Surau atau pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat Aceh.
Para rumoh : Ruang di bagian atas rumah Aceh tradisional yang digunakan untuk menyimpan berbagai barang.
Rapa'i : Kesenian musik tradisional Aceh yang menggunakan alat pukul bernama rapa'i.
Teungku : Gelar kehormatan bagi tokoh agama atau orang yang dihormati dalam masyarakat Aceh.

Tentang Penulis:

Muhammad Yusuf Bombang, yang akrab disapa Apa Kaoy, adalah seorang budayawan dan seniman Aceh yang berdomisili di Banda Aceh. Ia dikenal sebagai praktisi seni tutur tradisional, dengan dedikasi besar dalam melestarikan syair dan hikayat Aceh. Selain menulis cerpen, karya-karyanya kerap menghadirkan potret sosial, budaya, dan adat istiadat Aceh, sekaligus menjadi refleksi atas dinamika masyarakat yang terus berubah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.