Sebelum Kena Kasus Suap, Eks Ketua BEM FH UBK Abdi Maludin Sempat Minta Mahasiswa Mencontoh Soekarno
Facundo Chrysnha Pradipha June 24, 2026 12:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (BEM FH UBK), Muhammad Abdi Maludin, sempat meminta rekannya sesama mahasiswa untuk mencontoh sosok Presiden pertama RI, Soekarno.

Hal itu disampaikan Abdi sebelum terjerat kasus suap yang diterimanya dari seorang polisi ketika aksi demonstrasi pada Senin (15/6/2026) lalu.

Sekilas informasi, Abdi kini tengah menjadi sorotan setelah mengakui telah menerima uang senilai Rp20 juta agar aksi demonstrasi dialihkan dari Istana Kepresidenan ke depan Gedung DPR/MPR di Senayan, Jakarta Pusat.

Selain dirinya, beberapa rekannya di BEM FH UBK juga turut menerima uang tersebut. 

Kini, Abdi dinonaktifkan sebagai Ketua BEM FH UBK setelah adanya keputusan dari pihak kampus pada Selasa (23/6/2026).

Sementara, pernyataan Abdi disampaikan akhir tahun lalu atau 29 Desember 2025 saat menjadi narasumber dalam sebuah siniar atau podcast di kanal YouTube Podcast Soekarno Muda.

Dalam wawancara tersebut, dia berpesan agar seluruh mahasiswa UBK mencontoh Soekarno seperti ideologi yang dianutnya hingga kekritisan yang dimilikinya.

"Bahwasanya sama sekali lupa akan ideologi Soekarno dan gaungkan terus nilai-nilai kritisnya. Lalu juga gaungkan terus nilai-nilai akademisnya," katanya dikutip, Selasa.

Baca juga: Eks Ketua BEM FH UBK Terima Suap Rp20 Juta, Menko Yusril Prihatin, tapi Tetap Hargai Upaya Jujurnya

Abdi menegaskan mahasiswa UBK juga harus bisa berperan dalam memajukan Indonesia.

"Salah satu kemajuan negara ada pada Soekarno muda di mana kita yang ada di dalam podcast ini. Tetap semangat dan tetap berjuang," tuturnya.

Pada momen tersebut, Abdi turut membeberkan kemauannya untuk menjabat sebagai Ketua BEM FH UBK.

Dia mengaku mau untuk menjabat karena ingin menambah pengalamannya di bidang organisasi. Selain itu, Abdi juga ingin mengetahui segala bentuk isu sosial yang tengah terjadi di masyarakat.

"Motivasi saya itu untuk menambah lagi wawasan saya dan pengalaman saya. Dan mungkin untuk menjabat Ketua BEM FH ini, mungkin saya bisa makin melek isu-isu sosial dan sebagainya," katanya.

Abdi Sudah Akui Terima Uang Rp20 Juta, Diterima Sebelum Demo

MAHASISWA UBK - Rektor Universitas Bung Karno Sri Mumpuni (tengah) bersama Wakil Rektor 3 Daniel Panda (kanan) dan Wakil Rektor 4 Franky Roring (kiri) memberikan keterangan saat konferensi pers di Universitas Bung Karno, Jakarta, Selasa (23/6/2026). Dalam keterangannya, Universitas Bung Karno akan membuat tim investigasi untuk mengusut kasus dugaan gerakan demonstrasi mahasiswa yang digelar sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas UBK, serta pihak UBK telah menonaktifkan Ketua BEM Fakultas Hukum Muhammad Abdimaludin usai menerima uang Rp 20 juta pasca aksi demonstrasi di kawasan Patung Kuda pekan lalu. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
MAHASISWA UBK - Rektor Universitas Bung Karno Sri Mumpuni (tengah) bersama Wakil Rektor 3 Daniel Panda (kanan) dan Wakil Rektor 4 Franky Roring (kiri) memberikan keterangan saat konferensi pers di Universitas Bung Karno, Jakarta, Selasa (23/6/2026). Dalam keterangannya, Universitas Bung Karno akan membuat tim investigasi untuk mengusut kasus dugaan gerakan demonstrasi mahasiswa yang digelar sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas UBK, serta pihak UBK telah menonaktifkan Ketua BEM Fakultas Hukum Muhammad Abdimaludin usai menerima uang Rp 20 juta pasca aksi demonstrasi di kawasan Patung Kuda pekan lalu. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Sebelumnya, Wakil Rektor III UBK, Daniel Panda mengatakan Abdi sudah mengakui telah menerima uang sebesar Rp20 juta dari polisi yang hingga kini belum diketahui identitasnya.

Adapun polisi tersebut memberikan uang terlebih dahulu ke alumni UBK sebelum diberikan kepada Aldi.

"Dalam kasus ini kami sudah memanggil Ketua BEM Fakultas Hukum, Saudara Abdi. Dia sudah membuat pengakuan secara resmi kepada pihak universitas bahwa dirinya menerima uang sebesar Rp 20 juta melalui seorang oknum senior alumni Fakultas Hukum UBK yang diserahkan oleh oknum aparat kepolisian," kata Daniel dalam konferensi pers di UBK, Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Dari pengakuannya, Abdi menyebut uang itu diserahkan pada Senin (15/6/2026) dini hari sebelum pelaksanaan aksi mahasiswa dari beberapa BEM Fakultas UBK.

"Dari pengakuan yang bersangkutan, uang tersebut diserahkan pada Senin dini hari menjelang aksi mahasiswa dari beberapa BEM di UBK dengan catatan agar mereka tidak melakukan demonstrasi ke Istana," ucapnya.

"Mereka disarankan oleh oknum alumni tersebut untuk melakukan demonstrasi di DPR RI. Namun hal itu ditolak oleh yang bersangkutan. Jadi mahasiswa tetap pergi ke Istana, meskipun mereka menerima uang tersebut," sambungnya.

Baca juga: Polisi yang Beri Uang Ketua BEM FH UBK Ajukan Syarat agar Demo di Istana Batal, Pindah ke Gedung DPR

Setelah itu, uangnya dibagikan oleh Abdi kepada sejumlah mahasiswa lainnya seperti yang viral di media sosial. 

"Diserahkan kepada beberapa mahasiswa atau pengurus BEM Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi, serta beberapa mahasiswa lainnya. Informasi ini sudah tersebar di media sosial dan merupakan pengakuan dari yang bersangkutan," jelasnya.

Untuk itu, UBK akan melakukan pendalaman lagi dengan memanggil saksi-saksi yang diduga terlibat dan menerima uang tersebut.

"Dalam proses ini, UBK sudah membentuk tim investigasi. Kami memiliki Komisi Etik yang diketuai oleh Mas Eko. Dalam proses ini kami akan menyelidiki dan meminta keterangan dari beberapa mahasiswa. Setelah itu kami akan menjatuhkan sanksi," jelasnya.

Awal Mula Abdi dkk Terungkap Terima Suap

Sementara, salah satu mahasiswa FH UBK, Nailah Hartono membeberkan awal mula pihak kampus dan mahasiswa mengetahui bahwa Abdi dkk menerima uang suap.

Dia mengatakan hal itu bermula dari terungkapnya ketidaksolidan dari empat BEM Fakultas di UBK untuk menggelar aksi demonstrasi.

Namun meski ada keretakan, keempat organisasi mahasiswa tersebut tetap menggelar aksi demonstrasi.

Empat BEM yang ikut yaitu  EM Fakultas Hukum, BEM Fakultas Teknik, BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

"Forum itu muncul karena banyaknya desakan dari para mahasiswa. Sebenarnya sebelumnya saat dua atau tiga hari aksi tersebut, memang banyak simpang siur di kalangan mahasiswa terkait aksi ini."

"Akhirnya kan yang ikut aksi tersebut ada dari beberapa BEM, ada BEM FH, BEM FISIP, BEM FT, dan BEM FE," katanya dalam program Saksi Kata yang diwawancarai redaksi Tribunnews dari Kantor Tribunnews Solo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa (23/6/2026).

Nailah menuturkan meski mau untuk mengikuti aksi demonstrasi, tetapi dia menyebut di internal keempat organisasi mahasiswa tersebut telah terjadi perselisihan.

Salah satunya terkait dugaan Ketua BEM FH UBK, Muhammad Abdi Maludin menerima uang suap. Dia mengatakan pertanyaan itu dilontarkan oleh perwakilan dari BEM FT dan FISIP.

Baca juga: Ketua BEM FH UBK Terima Uang Rp 20 Juta: Uang Diterima Dini Hari Sebelum Demo di Istana

Ia menjelaskan pertanyaan tersebut dilontarkan buntut sudah menjadi keresahan di kalangan mahasiswa UBK.

"Beberapa BEM FISIP dan BEM FT itu kayak untuk mencoba meminta Ketua BEM FH mengungkap apakah benar uang (dugaan suap) yang memang sudah dibicarakan para mahasiswa," katanya.

"Akhirnya dari situlah forum ini terjadi dihadiri oleh banyak mahasiswa dan juga ketua-ketua BEM yang ikut konsolidasi aksi," sambung Nailah.

Selain itu, Nailah juga menyebut adanya forum itu setelah mahasiswa UBK merasa kecewa karena adanya perwakilan dari kampusnya untuk bertemu Gibran.

Hal itu ditambah setelah ada akun anonim yang menginformasikan soal dugaan suap yang diterima oleh Abdi.

"Akan tetap semakin lama, ada muncul akun anonim menuntut bahwa katanya Abdi Maludin ini menerima uang. Dari situlah, akhirnya desakan-desakan itu ada dan terjadilah forum," ujarnya.

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto/Abdi Ryanda Shakti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.