Ambulans Terhalang Konvoi Pesilat di Karanganyar, Pasien Wafat, PSHT: Takdir, Kok Kami Dipojokkan
ninda iswara June 24, 2026 02:38 AM
 

TRIBUNTRENDS.COM - Aksi konvoi yang dilakukan sejumlah anggota perguruan silat kembali menjadi sorotan publik karena dinilai kerap menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Dalam beberapa kejadian, konvoi tidak hanya menyebabkan kemacetan, tetapi juga berujung pada kerusakan fasilitas warga, korban luka, hingga hilangnya nyawa.

Salah satu insiden terjadi di kawasan Tenggilis Mejoyo, Surabaya, Jawa Timur, pada Rabu (17/6/2026).

Saat itu, konvoi perguruan silat diduga berujung pada aksi perusakan terhadap rumah warga, mobil, dan sepeda motor yang berada di sekitar lokasi.

Kasus tersebut kemudian ditindaklanjuti aparat kepolisian dengan menetapkan empat warga asal Jombang, Jawa Timur, sebagai tersangka.

Belum reda perhatian publik terhadap peristiwa di Surabaya, konvoi serupa kembali terjadi di Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada Sabtu (20/6/2026).

Baca juga: Tragedi Pilu Pasien Karanganyar yang Gagal Diselamatkan Akibat Macet Terhambat Konvoi Pesilat

Puluhan sepeda motor yang tergabung dalam rombongan memenuhi ruas Jalan Solo–Tawangmangu dan menyebabkan arus kendaraan tersendat.

Kemacetan yang terjadi membuat sejumlah pengguna jalan kesulitan melintas, termasuk kendaraan darurat.

Di tengah kepadatan lalu lintas tersebut, sebuah ambulans yang membawa pasien kritis bernama Hadi Sukat (60) turut terjebak antrean kendaraan.

Perjalanan menuju fasilitas kesehatan pun terhambat karena kondisi jalan yang dipadati rombongan konvoi.

Setelah berhasil tiba di puskesmas, Hadi Sukat dinyatakan meninggal dunia.

Keluarga korban menilai keterlambatan penanganan medis menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi pasien.

Mereka juga menyoroti pengaturan lalu lintas yang dianggap tidak berjalan maksimal saat konvoi berlangsung.

Selain itu, pihak keluarga menyebut rombongan perguruan silat tidak memberikan akses yang cukup bagi ambulans untuk melintas lebih cepat.

Rangkaian peristiwa tersebut kembali memunculkan desakan agar kegiatan konvoi di jalan raya diawasi lebih ketat demi menjaga keselamatan dan kenyamanan masyarakat.

“Harusnya polisi lintas kan mengatur jalan, ngasih jalan, harusnya kalau mau dikasih ruang itu dilakukan di lokasi yang tidak menghalangi jalan.” 

“Kalau menurut saya pribadi sebenarnya, jangan sampai mengganggu pengguna jalan, sangat disayangkan sekali, itu kan setahun sekali harusnya bisa menempatkan,” ujar putri korban, Dwi Purnamasari (36), Minggu (21/6/2026).

Keluarga telah mengikhlaskan kepergian korban dan berharap insiden serupa tak terjadi.

"Kemarin polisi datang ke sini mengucapkan rasa duka, dan saya juga memberikan uneg-uneg saya kepada mereka, perlu ada evaluasi agar dikemudian hari tidak terjadi seperti ayah saya," ucapnya.

Sementara itu, Ketua PSHT 17 Cabang Karanganyar, Sutarmo, mengaku heran organisasinya disalahkan atas kematian pasien kritis di Karangpandan.

Menurutnya, kematian merupakan takdir dari tuhan.

Ilustrasi ambulans siap mengantarkan jenazah ke rumah duka.
Ilustrasi ambulans siap mengantarkan jenazah ke rumah duka. (Ist)

Ia tak dapat mengidentifikasi peserta konvoi karena banyak anggota yang tak mematuhi imbauan dari panitia.

"Kami juga sudah memberikan imbauan kepada anggota kami yang tidak berkepentingan dalam pengesahan anggota baru kemarin agar tidak hadir."

"Namun, imbauan kami tidak semuanya diterima. Jiwa muda ingin bertemu dan sulit diajak berkomunikasi. Kami juga tidak tahu itu pihak mana karena PSHT ada dua, yakni di Madiun dan Jakarta, sehingga sulit membedakan," tuturnya.

Sutarmo mewakili PSHT Karanganyar menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

"Kami dari pengurus Cabang PSHT Karanganyar turut berduka cita dan memohon maaf apabila memang itu akibat konvoi yang dilakukan adik-adik kami," pungkasnya.

Salah satu relawan Karangpandan (Rendan), Agung, menerangkan jalan utama Solo–Tawangmangu dipenuhi ratusan orang berpakaian serba hitam yang mengendarai sepeda motor.

“Saat menuju ke rumah pasien, perjalanan mobil ambulans terhalang sama mereka, jalan Solo-Tawangmangu saat itu tak bisa dilewati,” ujarnya, Minggu (21/6/2026), dikutip dari TribunSolo.com.

Meski sudah bisa menjemput pasien, jalanan kembali sulit dilewati karena konvoi memenuhi badan jalan.

“Saat sampai di puskesmas, kondisinya dicek dan sudah tidak ditemukan denyut nadi dan dinyatakan meninggal dunia,” katanya.

(TribunTrends/Tribunnews/Mohay)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.