Kulon Progo Tribunjogja.com - Pemadaman listrik bergilir yang belakangan ini terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menimbulkan keresahan masyarakat.
Aktivitas sehari-hari terganggu, usaha merugi, dan produktivitas menurun. Namun, kondisi berbeda dirasakan oleh sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di Padukuhan Kedungroh, Kalurahan Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulon Progo.
Mereka tetap menikmati aliran listrik stabil berkat Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) yang dikelola secara swadaya.
Ketua Pengurus Komunitas Mikrohidro Terpadu Indonesia PLTMh Kedungroh, Sumberini, menjelaskan bahwa listrik dari PLTMh menjadi sumber utama bagi warga.
Sementara listrik dari PLN hanya digunakan sebagai cadangan.
“Pemadaman listrik bergilir kemarin sama sekali tidak dirasakan efeknya, aktivitas warga tetap berjalan aman berkat PLTMh,” ujarnya, Selasa (23/06/2026).
Pendirian PLTMh berawal pada tahun 2009 melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).
Mahasiswa melihat potensi besar dari aliran Saluran Irigasi Kalibawang yang deras, ditambah keberadaan air terjun yang mengalir kuat.
Awalnya, PLTMh sederhana dibangun menggunakan turbin kecil untuk penerangan jalan.
Namun, perkembangan pesat terjadi pada 2012 dengan dukungan Pemda DIY dan perguruan tinggi. PLTMh yang lebih besar selesai dibangun pada November 2012 dan mulai digunakan untuk rumah warga.
Sistem Pengelolaan Swadaya
PLTMh Kedungroh kini dikelola secara swadaya oleh warga. Setiap KK cukup membayar iuran sebesar Rp12 ribu untuk 35 hari.
Iuran dibayarkan melalui Ketua RT masing-masing.
Biaya ini terbilang murah, mengingat listrik PLTMh digunakan tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga usaha warga.
Menariknya, iuran tetap sama untuk setiap KK, tanpa membedakan besar-kecilnya kebutuhan listrik.
“Kapasitas PLTMh saat ini mencapai 18 ribu watt, masih sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan listrik warga di sini,” jelas Sumberini, yang menjabat Ketua sejak 2025 hingga 2030.
Partisipasi Warga dalam Perawatan
Manfaat besar dari PLTMh membuat warga memberikan perhatian serius terhadap perawatannya. Mereka rutin melakukan pembenahan melalui kerja bakti. Gotong royong menjadi kunci keberlanjutan PLTMh.
Meski demikian, Sumberini berharap ada dukungan lebih luas dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.
“Harapannya bisa berkembang lebih jauh dan layanannya bisa lebih luas,” katanya.
Kisah Warga: Umi Amini
Salah satu warga, Umi Amini, merasakan manfaat besar dari PLTMh. Dengan iuran Rp12 ribu per bulan, ia bisa menjalankan usaha salon dan tata rias.
Sejak 2012, Umi memanfaatkan listrik PLTMh. Awalnya hanya untuk lampu, namun kini ia bisa menggunakan berbagai peralatan listrik: televisi, penanak nasi, kulkas, pendingin udara, hingga peralatan salon.
“Kalau pakai listrik PLN saja bebannya tidak kuat, sering jeglek karena kapasitasnya hanya 450 watt,” jelas Umi.
Saat ini, pemakaian listrik dari PLTMh mendominasi hingga 70 persen, sementara listrik PLN hanya digunakan sebagai cadangan 30–40 persen. Umi menilai listrik PLTMh lebih stabil dan tidak terpengaruh pemadaman bergilir.
“Sebab biayanya lebih murah dan lebih ramah lingkungan juga,” ujarnya. (alx)
Keunggulan PLTMh
PLTMh Kedungroh menghadirkan sejumlah keunggulan:
PLTMh Kedungroh menjadi contoh nyata bagaimana energi terbarukan dapat menjawab masalah pemadaman listrik bergilir. Dengan biaya murah, pasokan stabil, dan pengelolaan swadaya, warga Kedungroh berhasil mandiri energi (alx)
• Pelaku Transportasi VW Wisata Borobudur Magelang Keluhkan Pemadaman Listrik Bergilir