TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Bentuk protes para pelaku usaha timbangan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Pasangkayu terbilang unik dan mengundang perhatian masyarakat.
Jika biasanya papan informasi di depan timbangan berisi harga beli TBS sawit, kini sejumlah timbangan justru memasang tulisan-tulisan bernada sindiran seperti "Cape", "Loyo", "Off", hingga berbagai kalimat lain yang menggelitik.
Pantauan Tribun-Sulbar.com di sejumlah timbangan sawit di Kecamatan Pasangkayu, papan-papan tersebut dipasang di lokasi yang mudah terlihat pengendara maupun petani yang datang membawa hasil panen.
Baca juga: Pria di Mamasa Ditetapkan Tersangka Usai Cabuli Keponakan
Baca juga: Cristiano Ronaldo Bungkam Pengkritik, Portugal Hajar Uzbekistan Tanpa Balas
Fenomena ini muncul akibat kondisi yang dikeluhkan para pengepul dan pemilik timbangan dalam beberapa hari terakhir.
Banyak buah sawit milik petani dan pengepul yang terpaksa menumpuk di lokasi timbangan karena antrean panjang di pabrik kelapa sawit (PKS).
Akibatnya, sebagian buah mulai mengalami penurunan kualitas bahkan membusuk karena terlalu lama menunggu giliran untuk dibongkar di pabrik.
Galib, salah seorang kerani timbangan di Desa Ako, Kecamatan Pasangkayu, mengatakan tulisan-tulisan yang dipasang di papan informasi tersebut merupakan bentuk protes terhadap kondisi yang saat ini mereka alami.
"Sudah beberapa hari ini timbangan banyak yang tutup karena tidak bisa lagi menerima buah. Antrean di pabrik sangat panjang, sementara stok buah di timbangan masih menumpuk," kata Galib saat ditemui Tribun-Sulbar.com.
Menurutnya, sebagian besar timbangan terpaksa menghentikan sementara penerimaan TBS dari petani karena kapasitas penampungan sudah penuh.
Bahkan, kata dia, beberapa timbangan hanya menerima buah dari pelanggan tetap untuk menghindari penumpukan yang lebih besar.
"Kami sekarang hanya terima buah pelanggan tetap saja. Kalau terima semua, buah semakin menumpuk dan risikonya makin banyak yang rusak," ujarnya.
Galib menjelaskan kondisi tersebut tidak hanya merugikan pengepul, tetapi juga petani yang kesulitan menjual hasil panennya.
Selain harus menunggu lebih lama, kualitas buah yang menurun berpotensi memengaruhi harga jual TBS.
Menurutnya, pemasangan papan bertuliskan "Cape", "Loyo", dan "Off" merupakan cara sederhana yang dilakukan para pelaku usaha timbangan untuk menyampaikan keluhan mereka.
"Ini bentuk protes saja. Mau mengeluh ke mana lagi, rasanya tidak ada yang dengar. Jadi kami pasang tulisan begitu supaya orang tahu kondisi yang kami alami sekarang," katanya.
Ia berharap kondisi antrean di pabrik dapat segera teratasi sehingga arus pengiriman TBS kembali normal dan aktivitas pembelian buah sawit di tingkat timbangan dapat berjalan seperti biasa.
Sementara itu, sejumlah petani yang datang ke lokasi timbangan mengaku turut merasakan dampak dari panjangnya antrean di pabrik.
Mereka berharap ada solusi cepat agar buah sawit yang telah dipanen tidak terlalu lama menumpuk dan mengalami penurunan kualitas.
Hingga saat ini, antrean kendaraan pengangkut TBS menuju beberapa pabrik kelapa sawit di Kabupaten Pasangkayu masih menjadi keluhan utama para pelaku usaha sawit, mulai dari petani, pengepul hingga pemilik timbangan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan akan terus berdampak pada kualitas buah apabila tidak segera mendapat penanganan.(*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan