TRIBUNMATARAMAN.COM, BLITAR - Harga telur ayam di tingkat peternak di Kabupaten Blitar semakin anjlok.
Sekarang, harga telur dari kandang peternak sekitar Rp 17.500 per kilogram sampai Rp 18.000 per kilogram.
"Harga telur semakin turun, kemarin harga telur dari kandang Rp 17.500 per kilogram," kata Yoga Dwi Sasana Putra (27), peternak ayam petelur di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Rabu (24/6/2026).
Yoga mengatakan, turunnya harga telur di tingkat peternak pada tahun sangat parah.
Baca juga: Mas Dhito Pacu Kemandirian Fiskal Kabupaten Kediri, Direktur BUMD Baru Wajib Capai Target Kinerja
Harga telur turun di saat harga bahan baku pakan naik.
"Kondisi ini sangat parah bagi peternak. Harga telur turun saat harga bahan baku pakan naik," ujarnya.
Ia berharap, pemerintah segera mengeluarkan kebijakan untuk membantu agar harga telur kembali naik.
"Produksi telur banyak dan serapan telur sedikit. Akibatnya harga anjlok," katanya.
Usulkan Beberapa Poin ke Pemprov Jatim
Ketua Koperasi Berkah Telur Blitar sekaligus Ketua Pusat Koperasi Gugus Ternak Jawa Timur, Yesi Yuni Astuti mengatakan, sempat melakukan audensi dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur membahas terkait kondisi peternak saat ini, pada 18 Juni 2026.
Dalam audensi itu, ada beberapa kesepakatan bersama, antara lain, imbauan kepada kepala daerah untuk mendorong pembelian telur oleh ASN secara langsung kepada peternak rakyat sebagai upaya meningkatkan penyerapan produksi telur dan membantu stabilisasi harga di tingkat peternak.
Perlu tindak lanjut terhadap Surat Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 285/RS.02.02/K/06/2026 tanggal 9 Juni 2026 kepada Satgas Pangan terkait pengawasan pelaksanaan Harga Acuan Pembelian (HAP) telur ayam ras di tingkat produsen dan konsumen guna menjaga stabilitas harga dan melindungi peternak.
Tindak lanjut berupa surat kepada Badan Gizi Nasional (BGN) terkait komitmen penyerapan telur produksi Jawa Timur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan kesepakatan menu telur pada hari yang disepakati sebagai tindak lanjut notulensi rapat pada 5 Juni 2026.
Percepatan penyaluran Jagung SPHP oleh Bulog diperlukan untuk membantu ketersediaan bahan baku pakan dengan perpanjangan waktu dan penambahan kuota.
Perlu usulan imbauan dan pengawasan afkir dini terhadap populasi ayam petelur dengan jumlah sama dengan atau lebih besar dari 100.000 ekor serta afkir dini pada grand parent stock (GPS) ayam petelur sebagai langkah pengendalian produksi guna mengurangi tekanan over supply telur di pasar.
"Selain itu, diperlukan penghitungan ulang kebutuhan impor GPS ayam petelur berdasarkan kondisi produksi dan kebutuhan riil nasional agar tidak memperbesar potensi kelebihan pasokan telur di masa mendatang," katanya.
Peternak juga meminta skema pembelian bahan baku pakan melalui satu pintu oleh PT Berdikari perlu dikaji lebih lanjut karena berpotensi menyebabkan harga bahan pakan menjadi lebih tinggi dibandingkan mekanisme pasar yang berjalan saat ini.
Peternak juga mengusulkan Bapanas menugaskan Bolug untuk melakukan penyerapan telur peternak sebagai instrumen stabilisasi harga dan pengamanan pasar saat terjadi kelebihan pasokan.
"Tapi, sampai sekarang pemerintah belum melaksanakan usulan kami yang disepakati dalam audensi itu. Sedang harga telur di peternak terus turun," ujarnya.
(Samsul Hadi/TribunMataraman.com)