Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Yayan Hartono
TRIBUNBENGKULU.COM, SELUMA - Kepala SMPN 5 Seluma, Fetri Harneli, mendadak menjadi sorotan setelah muncul surat penolakan sejumlah guru yang dikirim ke Bupati Seluma.
Dalam mediasi yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Seluma, enam guru mengaku tidak mengetahui surat yang mereka tandatangani berisi penolakan terhadap kepala sekolah.
Menyikapi persoalan tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Seluma langsung turun tangan untuk mengumpulkan informasi dan melakukan mediasi dengan pihak sekolah.
Mediasi Dikbud Seluma
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Seluma, Munarwan Safu'i, mendatangi langsung SMPN 5 Seluma pada Selasa siang (23/6/2026) guna mendengarkan keterangan dari para guru maupun pihak sekolah terkait polemik yang berkembang.
Menurut Munarwan, pihaknya menerima informasi adanya surat penolakan terhadap Kepala SMPN 5 Seluma, Fetri Harneli, yang telah ditandatangani oleh 35 guru dan dikirimkan kepada Bupati Seluma dengan tembusan ke Dikbud Seluma serta DPRD Kabupaten Seluma.
"Kami turun langsung untuk mendapatkan informasi yang utuh dan objektif terkait persoalan yang terjadi di SMPN 5 Seluma. Karena kami ingin mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya sebelum mengambil langkah lebih lanjut," kata Munarwan.
Namun, saat mediasi berlangsung, hanya tujuh orang guru yang hadir dari total 35 guru yang tercantum dalam surat penolakan tersebut.
Dari hasil dialog yang dilakukan, terungkap fakta bahwa enam dari tujuh guru yang hadir mengaku tidak mengetahui secara pasti tujuan surat yang mereka tandatangani.
Mereka mengaku saat itu hanya diminta membubuhkan tanda tangan tanpa mendapatkan penjelasan secara rinci mengenai isi dan tujuan surat tersebut.
"Dari guru yang hadir, sebagian besar menyampaikan bahwa mereka tidak mengetahui jika surat yang ditandatangani itu berisi penolakan terhadap kepala sekolah. Mereka mengaku hanya diminta menandatangani lembar yang disodorkan," ujar Munarwan.
Dirinya, ujar Kadisdikbud, belum dapat menyimpulkan kebenaran substansi surat penolakan tersebut dan akan melakukan pendalaman lebih lanjut.
Dalam waktu dekat, pihaknya akan memanggil guru-guru lain yang belum hadir dalam mediasi untuk dimintai keterangan secara langsung.
"Kami akan terus mengumpulkan bahan dan informasi. Guru-guru yang belum hadir akan kami panggil untuk dimintai penjelasan sehingga kami bisa mengetahui fakta yang sebenarnya," tegasnya.
Munarwan menegaskan setiap persoalan di lingkungan sekolah harus diselesaikan melalui mekanisme yang benar dengan mengedepankan komunikasi dan kepentingan dunia pendidikan.
"Setelah semua informasi terkumpul, baru kita dapat menyimpulkan untuk langkah selanjutnya menyudahi polemik ini," ucap Munarwan.
Tanggapan Kepala SMPN 5 Seluma
Sementara itu, Kepala SMPN 5 Seluma, Fetri Harneli, mengaku tetap menghormati berbagai masukan yang berkembang di SMPN 5.
Menurutnya, selama menjabat tidak ada persoalan pribadi dengan para guru maupun tenaga kependidikan di SMPN 5 Seluma.
"Saya menganggap semua guru di SMPN 5 Seluma adalah guru-guru terbaik. Tidak ada masalah pribadi dengan siapa pun," ujarnya.
Terkait adanya surat penolakan terhadap dirinya, Fetri menilai hal tersebut merupakan dinamika yang biasa terjadi dalam sebuah organisasi.
Ia mengaku sejak dipercaya memimpin SMPN 5 Seluma, dirinya menerapkan disiplin yang lebih ketat kepada seluruh guru dan pegawai sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
"Saya hanya menjalankan amanah yang diberikan kepada saya. Sejak awal saya memang menerapkan disiplin kepada seluruh guru dan pegawai karena saya ingin SMPN 5 Seluma menjadi lebih baik dan lebih maju," katanya.
Fetri menegaskan komitmennya untuk terus bekerja dan membangun sekolah sesuai tugas yang diberikan oleh pemerintah daerah.
"Kalau ada yang menentang kebijakan saya itu hal yang biasa. Namun yakinlah, apa yang saya lakukan semata untuk memajukan kualitas pendidikan SMPN 5 yang diamanahkan kepada saya," sampai Fetri Harneli.
Pendalaman Dikbud Seluma
Hingga saat ini, Dikbud Seluma masih melakukan pendalaman terhadap polemik yang terjadi di SMPN 5.
Hasil klarifikasi dari seluruh pihak nantinya akan menjadi dasar bagi Dikbud Seluma dalam mengambil keputusan terkait persoalan yang terjadi.
Tindakan tegas akan dilakukan baik kepada guru maupun kepala sekolah jika semua informasi telah didapatkan.