TRIBUN-MEDAN.COM,- Tanggal 25 Juni 2026 bertepatan dengan 10 Muharram 1448 Hijriah.
Tanggal 10 Muharram bagi umat Islam adalah hari istimewa yang sangat begitu penting.
Pada 10 Muharram, Nabi Muhammad S.A.W pernah menyerukan agar umat Islam melaksanakan puasa sunnah, yakni Puasa Asyura.
Baca juga: Puasa Asyura Digabung dengan Puasa Kamis Apakah Boleh? Ini Bacaan Niatnya
Puasa Asyura ini sebagai bentuk syukur dan ketaqwaan kepada Allah S.W.T atas selamatnya Nabi Musa dan pengikutnya dari kejaran Firaun.
Tapi di sisi lain, jauh setelah anjuran Puasa Asyura disampaikan Rasulullah, ada sebuah peristiwa yang sangat memilukan.
Peristiwa itu dikenal dengan sebutan tragedi Karbala.
Di saat tragedi Karbala terjadi, cucu Nabi Muhammad S.A.W, imam Husain bin Ali wafat di tangan pasukan Yazid bin Muawiyah.
Yazid adalah putra dari Muawiyah bin Abi Sufyan, pendiri dan Khalifah Umayyah.
Baca juga: Puasa Asyura dan Tragedi Karbala: Kisah Gugurnya Imam Husain di 10 Muharram
Tragedi Karbala tidak serta merta terjadi begitu saja.
Ada rentetan panjang yang terjadi, sebelum akhirnya imam Husain bin Ali terbunuh di tanah Karbala.
Tragedi Karbala merupakan buntut dari politik dan kekuasaan di masa itu.
Baca juga: Puasa Asyura dan Kisah Rasulullah yang Ingin Berpuasa di 9 Muharram
Yazid bin Muawiyah yang merasa berhak berkuasa, melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan imam Husain bin Ali, sosok yang saat itu diyakini sebagai khalifah yang adil.
Dilansir dari Britanbica dengan judul Battle of Karbala, rentetan peristiwa berdarah ini berawal setelah Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat dalam Islam wafat.
Dari berbagai literasi yang ada, penerus Ali mestinya adalah Hasan bin Ali, putra Ali bin Abi Thalib.
Namun, kekuasaan justru beralih ke tangan Muawiyah bin Abi Sufyan.
Dalam sejarahnya, putra imam Ali, Hasan kemudian meninggal karena diduga diracun di Madinah pada 28 Safar 50 H (sekitar April 670 M).
Baca juga: Dalil Puasa Asyura dan Tradisi Hari Raya Anak Yatim 10 Muharram
Orang yang diduga meracun imam Hasan adalah Ja'dah binti al-Asy'ats, istri dari imam Hasan.
Ada dugaan, bahwa tindakan ini ada kaitannya dengan dorongan politik pada masa itu.
Setelah Hasan wafat, maka kekalifahan dilanjutkan oleh Muawiyah.
Seiring berjalan waktu, ketika Muawiyah mulai sakit-sakitan dan kondisinya menurun, ia mewasiatkan agar kekhalifahan diteruskan oleh Yazid.
Yazid adalah putra Muawiyah.
Namun, keputusan ini ditentang banyak pihak, terutama kalangan Ahlul Bait, dan juga penduduk Syam.
Baca juga: Khutbah Jumat Bulan Muharram: Memaknai Puasa Asyura yang Dianjurkan Rasulullah
Yazid dianggap tidak pantas menjadi khalifah, karena sifatnya yang haus kekuasaan.
Pada masa itu, keturunan Rasulullah yang masih hidup adalah imam Husain bin Ali.
Atas dorongan para pengikutnya, terutama masyarakat di Syam, imam Husain bin Ali bersama pengikutnya kemudian berangkat dari Mekah kue Kufah.
Di perjalanan, Gubernur Umayyah di Irak, Ubaidillah bin Ziyad ternyata diam-diam menyusun rencana untuk menghempang kehadiran imam Husain.
Ubaidillah yang bersekongkol dengan Yazid lantas menekan para pendukung Husain.
Banyak warga Kufah yang sebelumnya berjanji mendukung akhirnya menarik dukungan mereka karena takut terhadap tindakan pemerintah.
Baca juga: Niat Puasa Asyura dan Keutamaannya yang Harus Anda Ketahui
Dalam kondisi pendukung yang jumlahnya semakin menurun, rombongan Husain dicegat pasukan Umayyah dan diarahkan ke dataran Karbala, dekat Sungai Efrat.
Di sana mereka dikepung oleh pasukan yang jumlahnya jauh lebih besar.
Sejarawan mencatat bahwa pengikut Husain yang siap bertempur berjumlah sekitar 72 orang, sementara pasukan lawan berjumlah ribuan.
Saat itulah, pertempuran di Kabrala pun terjadi.
Baca juga: Puasa Asyura Tapi Tidak Puasa Tasua, Apakah Boleh? Begini Penjelasan Buya Yahya
Para pengikut setia imam Husain bin Ali banyak yang tewas terbunuh.
Bahkan, putra imam Husain, Ali al-Asghar ibn Husayn tewas akibat dipanah pasukan Yazid bin Muawiyah.
Dengan kondisi yang seperti itu, pendukung imam Husain tetap bertahan, hingga akhirnya imam Husain pun tewas di tangan pasukan Yazid.
Wafatnya imam Husain bin Ali menimbulkan duka mendalam di kalangan umat muslim kala itu.
Apalagi, pasukan Yazid, yang sering dikaitkan dengan Syimr bin Dzil-Jawsyan atau Sinan bin Anas menghabisi imam Husain secara brutal.
Imam Husain dipenggal, dan kepalanya dibawa ke Kufah hingga Damaskus.
Baca juga: Istimewanya Puasa Asyura di 10 Muharram, Simak Pahala Luar Biasa yang Diperoleh
Tindakan ini menimbulkan kemarahan yang sangat luar biasa di kalangan umat muslim.
Mereka yang semula membenci imam Husain akhirnya menyesal, setelah mengetahui tindakan Yazid terhadap zuriat Nabi tersebut.
Umat muslim sangat berduka dan mengutuk kelompok Yazid.
Karena peristiwa yang begitu memilukan tersebut, maka hari Asyura kerap dikenang sebagai tragedi berdarah.
Di kalangan Syiah, kematian imam Husain bin Ali kerap diperingati dengan berbagai tradisi.
Ada yang mengunjungi makam imam Husain, dan ada yang melakukan tradisi memukul dada, sebagai ekspresi kesedihan yang begitu mendalam.(ray/tribun-medan.com)