TRIBUNNEWS.COM - Timnas Inggris gagal meraih kemenangan saat ditahan imbang tanpa gol oleh Ghana pada laga kedua Grup L Piala Dunia 2026 di Gillette Stadium, Rabu (24/6/2026) dini hari WIB.
Hasil ini memang masih menempatkan The Three Lions di puncak klasemen dengan empat poin, tetapi performa yang ditunjukkan justru memunculkan kekhawatiran baru jelang fase gugur.
Inggris sendiri menang dijagokan oleh beberapa pihak untuk menjuarai turnamen ini seperti yang diutarakan oleh Wakil Ketua Oranje Indoneisa, Arnan Binafsihi.
"Kalau untuk kandidat juara memang enggak akan jauh-jauh dari Top 10-nya FIFA, ada Prancis, Inggris, Portugal, Brasil ya termasuk, juara bertahan Argentina, ada Belgia juga, termasuk juga Belanda sama Jerman," kata Arnan Binafsihi, saat berbincang di Podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews, Karanganyar, Jawa Tengah.
Namun jika dilihat dari performa Inggris saat melawan Ghana dini hari nanti, harapan untuk juara rupanya cukup berat jika tak ada perubahan di laga berikutnya.
Di laga ini, Inggris tampil dominan dengan penguasaan bola sebesar 78 persen.
Namun dominasi itu lagi-lagi tidak dibarengi efektivitas di sepertiga akhir lapangan.
Skuad asuhan Thomas Tuchel tampak kesulitan membongkar pertahanan rapat Ghana yang bermain sangat disiplin sepanjang 90 menit.
Sejak menit awal, Inggris mencoba menekan dan memegang kendali tempo permainan.
Jude Bellingham, Declan Rice, dan Phil Foden silih berganti mengalirkan bola ke depan, tetapi aliran serangan Inggris terlalu mudah dibaca.
Ghana memilih bertahan dengan blok rendah, menumpuk pemain di area pertahanan, lalu menunggu kesempatan melakukan serangan balik cepat.
Hasilnya, Inggris memang unggul mutlak dalam penguasaan bola, tetapi sangat miskin peluang bersih.
Berdasarkan laporan dari ESPN, bahkan hingga menit ke-57, mereka hanya mampu mencatatkan satu tembakan tepat sasaran.
Thomas Tuchel mencoba mengubah ritme dengan melakukan sejumlah pergantian pemain.
Bukayo Saka, Eberechi Eze, Morgan Rogers, dan Marcus Rashford dimasukkan untuk menambah kecepatan sekaligus kreativitas.
Akan tetapi, perubahan itu tak cukup untuk membuka pertahanan Ghana yang sudah telanjur nyaman bermain rapat.
Baca juga: Komentar Harry Kane setelah Inggris Ditahan Ghana 0-0, Sebut Pertandingan yang Sulit
Salah satu sorotan terbesar dalam laga ini adalah minimnya kontribusi Harry Kane di area berbahaya.
Kapten Inggris itu terlihat kesepian di lini depan dan tak banyak mendapat suplai bola matang dari lini tengah maupun kedua sisi sayap.
Hingga pertengahan babak pertama, Kane bahkan menjadi salah satu pemain Inggris dengan jumlah sentuhan paling sedikit.
Situasi ini sangat berbeda dibanding laga pembuka melawan Kroasia, ketika Kane terlihat lebih hidup dan terlibat dalam kombinasi serangan.
Saat menghadapi Ghana, pergerakan Kane kerap terputus karena rapatnya pertahanan lawan dan lambatnya sirkulasi bola Inggris.
Peluang terbaik Kane baru hadir di fase akhir pertandingan.
Momen itu datang setelah Nico O’Reilly melepaskan tembakan yang membentur mistar gawang.
Bola liar mengarah ke Kane, tetapi penyelesaian akhirnya justru melambung jauh di atas gawang Ghana. Itu menjadi simbol frustrasi Inggris sepanjang laga.
"Ya, ini salah satu pertandingan seperti itu. Mereka adalah tim yang sulit ditembus dan jelas kami menguasai bola cukup banyak," kata Kane, dikutip dari BBC.
"Barangkali 15 menit terakhir di kedua babak adalah saat kami bermain paling baik dan punya beberapa peluang. Saya punya satu peluang bagus, Nico juga sempat membentur mistar. Ini bisa saja menjadi pertandingan yang kami menangi," ujar Kane.
Hasil imbang ini membuat Inggris masih berada di posisi aman, tetapi juga menegaskan bahwa mereka belum sepenuhnya meyakinkan sebagai kandidat juara.
Inggris masih punya satu laga tersisa melawan Panama untuk mengunci tiket ke babak 32 besar.
Secara kualitas, The Three Lions tetap lebih diunggulkan.
Namun jika masalah kreativitas, efektivitas serangan, dan koneksi dengan Kane tak segera dibenahi, maka tantangan di fase gugur bisa menjadi jauh lebih berat.
Kondisi tersebut membuat harapan fans Inggris agar Football is Comming Home di edisi kali ini rasanya cukup berat terealisasi.
(Tribunews.com/Hafidh Rizky Pratama)