Taufik Hidayat Ditangkap, Aditya Peratama Eks Pemain Preman Pensiun Lega Bisa Keluar Rumah
Weni Wahyuny June 24, 2026 12:32 PM

 

TRIBUNSUMSEL.COM --  Seorang pria asal Bandung bernama Aditya Pratama akhirnya bisa bernapas lega setelah Taufik Hidayat, terduga pelaku penyekapan dan penganiayaan YTR, ditangkap Polda Jabar pada Selasa (23/6/2026) malam.

Sebelumnya, Aditya sempat menjadi bulan-bulanan warganet lantaran wajahnya dinilai mirip dengan pelaku. Akibat salah sasaran tersebut, ia sampai harus membuat klarifikasi dan merasa enggan untuk keluar rumah.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @aditya.peratama pada Selasa (23/6/2026), Adit terlihat sedang bersantai di atas tempat tidur di pojok kamarnya.

Tak lama kemudian, salah seorang anggota keluarganya datang membawa kabar bahwa Taufik Hidayat telah resmi ditangkap.

"Aa... sudah kena Aa, si Taufik Hidayat sudah kena?" ungkap salah seorang anggota keluarga, dikutip Tribunsumsel.com dalam rekaman video tersebut.

Mendengar hal itu, Adit yang awalnya berbaring langsung bangkit untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.

"Demi Allah? Bener enggak? Soalnya dari kemarin banyak yang bilang sudah ketangkap, sudah ketangkap, tahunya hoaks," tanya Aditya Pratama untuk memastikan.

Baca juga: Wajah Disebut Mirip DPO Taufik Hidayat, Aditya Peratama Warga Soreang Klarifikasi Takut Diamuk Massa

EKS PEMAIN PREMAN PENSIUN - Aditya Peratama Putra, warga asal Soreang, Kabupaten Bandung nyaris jadi korban salah tangkap oleh warga karena memiliki wajah mirip Taufik Hidayat
EKS PEMAIN PREMAN PENSIUN - Aditya Peratama Putra, warga asal Soreang, Kabupaten Bandung nyaris jadi korban salah tangkap oleh warga karena memiliki wajah mirip Taufik Hidayat (Instagram/aditya.peratama)

Pihak keluarga yang merekam video tersebut membenarkan informasi penangkapan Taufik Hidayat. Kabar ini juga sejalan dengan informasi yang disampaikan langsung oleh KDM terkait penangkapan pelaku.

Melihat dalam caption unggahannya tersebut, ia menuliskan apresiasi mendalam kepada aparat penegak hukum.

"Alhamdulillah…Terimakasih pihak kepolisian dan semua pihak yg terlibat. Bisa keluar rumah euy…nuhun pak, @dedimulyadi71" tulis Aditya menyertai unggahan videonya.

Rasa bahagia itu juga terpancar jelas dari ucapan spontannya di akhir video saat menyadari fitnah terhadap dirinya kini telah berakhir.

"Alhamdulillah ya Allah," ucap Aditya Pratama penuh rasa syukur.

"Bisa keluar ini mah, bisa ngebakso, bisa main, bisa jalan-jalan. Enggak perlu khawatir lagi ada yang narik baju, enggak perlu khawatir lagi ada yang ngeplak ya..." tutup Aditya dengan nada girang dan penuh semangat.

Sosok Aditya Peratama 

Sebelumnya tampang Aditya Peratama menjadi viral diberbagai platform media sosial hingga dunia nyata lantaran mukanya yang mirip dengan pelaku penganiayaan dan penyekapan perempuan asal Rancaekek Bandung selama 3 tahun lamanya.

Diketahui Nama Aditya Peratama Putra mendadak jadi sorotan setelah viral membuat video klarifikasi.

Warga asal Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini menjadi korban salah sasaran warga karena dinilai memiliki kemiripan wajah dengan Taufik Hidayat (TH), buronan kasus penyekapan dan penganiayaan ekstrem terhadap YTR (29).

Masifnya penyebaran foto Daftar Pencarian Orang (DPO) serta adanya sayembara berhadiah Rp250 juta dari Dedi Mulyadi membuat ruang gerak Aditya sempat terancam.

Bahkan, ia sempat dilabrak dan ditarik kerah bajunya oleh warga asing di sebuah minimarket karena dikira sebagai pelaku kriminal yang tengah diburu.

Baca juga: Pengakuan Sadis Taufik Hidayat Soal Dugaan Iris Bibir dan Congkel Mata Pacar di Bandung: Saya Pukul

Lantas siapa sosok Aditya Peratama Putra?

Di balik video klarifikasinya yang viral dan bernada jenaka tersebut, sosok Aditya Peratama Putra ternyata bukan orang baru di dunia hiburan, khususnya bagi para penggemar tayangan layar kaca.

Berdasarkan pantauan pada profil akun Instagram resminya, Aditya menuliskan bio unik bertuliskan "Alumni Copet".

Istilah tersebut merujuk pada rekam jejaknya yang pernah ikut beradu akting dalam sinetron populer Preman Pensiun dan Awas Banyak Copet.

Dalam sinetron yang berlatar di Bandung tersebut, Aditya diketahui sempat memerankan karakter sebagai salah satu copet yang menjadi anak buah dari tokoh ikonik Kang Saep, pimpinan dari "Academy of Bandung Copet" (ABC).

Hubungan Aditya dengan sinetron Preman Pensiun ternyata bukan sekadar profesionalisme kerja, melainkan menyisakan ikatan emosional yang sangat mendalam dengan sang pemeran utama copet, almarhum Cuk Nugroho alias Icuk Baros (pemeran Kang Saep).

Aditya sempat membagikan momen kenangan manis saat makan bersama almarhum sejak awal saling mengenal pada tahun 2015.

Dalam unggahan duka tersebut, Aditya memberikan kesaksian menyentuh mengenai tabiat asli sang mentor di dunia nyata.

Selain pernah berkecimpung di dunia akting, Aditya sekarang lebih dikenal sebagai konten kreator. humoris

Ia memiliki 23,4 ribu pengikut di Instagramnya.

Ia juga terlihat aktif membagikan konten bertema kuliner dengan menyematkan profil sebagai "Tukang Jajan".

Tidak hanya mengandalkan dunia hiburan dan media sosial, Aditya Peratama juga mengepakkan sayapnya di dunia wirausaha.

Diketahui, ia memiliki beberapa lini bisnis yang dikelolanya sendiri secara mandiri. Aditya tercatat menjalankan bisnis pakaian bekas layak pakai (thrifting baju), sektor kuliner dengan membuka usaha makanan, hingga bisnis kuliner lainnya.

Kini, setelah namanya viral dan sempat merasa terancam di jalanan akibat sayembara berburu DPO Taufik Hidayat, Aditya berharap pihak kepolisian serta masyarakat luas bisa lebih jeli membedakan dirinya dengan pelaku asli.

Ia pun telah secara terbuka meminta perlindungan kepada Dedi Mulyadi agar tidak menjadi korban amuk massa yang salah sasaran di tempat umum.

Alarm Bagi Sumsel

Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang menjadi perhatian nasional dinilai harus menjadi alarm bagi masyarakat Sumatera Selatan untuk lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan dalam relasi pasangan.

Pemerhati perempuan yang juga Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Palembang, Distiliana, mengatakan kasus tersebut tidak hanya dapat dilihat sebagai tindak kriminal semata, tetapi juga menunjukkan adanya relasi kuasa yang tidak sehat hingga membuat korban kehilangan kebebasan dan akses untuk meminta pertolongan.

"Kasus ini mengajarkan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak selalu tampak dalam bentuk luka fisik. Sering kali diawali dengan kontrol berlebihan, isolasi dari keluarga, hingga tekanan psikologis yang membuat korban merasa tidak memiliki pilihan," kata Distiliana, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, pertanyaan yang sering muncul di tengah masyarakat mengenai alasan korban tidak melarikan diri justru perlu dilihat secara lebih utuh. 

Dalam banyak kasus kekerasan, korban berada dalam kondisi ketakutan, ketergantungan, dan tekanan mental yang membuatnya sulit mengambil keputusan secara bebas.

"Jangan buru-buru menyalahkan korban. Yang perlu ditanya adalah mengapa pelaku bisa menguasai korban begitu lama tanpa terdeteksi lingkungan sekitar," ujarnya.

Distiliana menilai kasus yang terjadi di Bandung memiliki relevansi kuat dengan kondisi sosial di Sumsel. 

Meski masyarakat Sumsel dikenal memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat, masih terdapat budaya yang menganggap persoalan rumah tangga atau hubungan pasangan sebagai urusan pribadi yang tidak boleh dicampuri.

Padahal, menurut dia, sikap tersebut justru berpotensi membuat kasus kekerasan berlangsung dalam waktu lama tanpa penanganan.

"Budaya diam adalah ruang paling nyaman bagi pelaku kekerasan. Ketika tetangga, keluarga, atau lingkungan memilih tidak peduli, korban semakin sulit mendapatkan pertolongan," tegasnya.

Ia menjelaskan, sejumlah tanda hubungan yang tidak sehat perlu dikenali sejak dini, seperti larangan bertemu keluarga, pembatasan komunikasi, pengawasan berlebihan terhadap aktivitas pasangan, hingga ancaman ketika korban ingin mengakhiri hubungan.

Dalam perspektif keagamaan, Distiliana menegaskan bahwa tindakan mengontrol, menyekap, maupun menganiaya pasangan tidak memiliki dasar pembenaran.

"Islam mengajarkan kasih sayang dan penghormatan terhadap martabat manusia. Tidak ada ruang bagi kekerasan yang merendahkan atau menghilangkan kebebasan seseorang," katanya.

Lebih lanjut, Distiliana mendorong pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh agama, dan organisasi masyarakat di Sumsel untuk memperkuat edukasi mengenai kekerasan berbasis gender dan hubungan yang sehat.

Menurutnya, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum setelah kasus terjadi, tetapi juga harus dibangun melalui literasi masyarakat agar mampu mengenali gejala awal kekerasan.

"Kasus Bandung harus menjadi momentum evaluasi. Pertanyaannya bukan apakah kasus serupa ada di Sumsel, tetapi apakah kita cukup peka untuk mencegahnya sebelum terlambat," ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu melapor apabila menemukan indikasi kekerasan terhadap perempuan di lingkungan sekitar.

"Keselamatan korban harus lebih diutamakan daripada rasa sungkan mencampuri urusan orang lain. Kepedulian masyarakat bisa menjadi penyelamat sebelum korban mengalami kekerasan yang lebih berat," pungkasnya.

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.