TRIBUNbANTEN.COM, CILEGON – Ekspor produk baja asal Provinsi Banten ke pasar internasional terus menunjukkan perkembangan positif.
Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah melihat potensi industri baja, khususnya di Cilegon, sebagai modal besar untuk mendorong Banten menjadi pusat industri manufaktur modern sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Dimyati berharap wilayahnya menjadi pusat industri manufaktur modern dan gerbang utama ekspor Indonesia di pasar dunia.
"Mari kita jadikan Banten sebagai pusat industri manufaktur modern, pusat perdagangan internasional, sekaligus gerbang ekspor Indonesia menuju pasar dunia," kata Dimyati dalam sambutannya diwakilkan Kadisperindag Banten, Iwan Hermawan di Cilegon, Banten, Selasa (23/6/2026).
Baca juga: Euforia Piala Dunia 2026 di Cilegon, 48 Bendera Negara Peserta Hiasi Kampung Kubang Lesung
Dimyati menyampaikan bahwa Cilegon merupakan klaster industri baja terbesar di Indonesia yang telah puluhan tahun menjadi tulang punggung pembangunan nasional.
Ia menyebut, saat ini produk baja asal Banten tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, melainkan telah mampu menembus pasar internasional berkat kualitasnya yang tinggi.
Keberhasilan menembus pasar Kanada, menurut Dimyati, menjadi pencapaian yang patut diapresiasi karena standar negara tersebut sangat ketat, terutama terkait kondisi geografisnya yang ekstrem.
"Kondisi geografis Kanada yang ekstrem menuntut pemenuhan kebutuhan baja dengan spesifikasi khusus seperti weathering steel, corrosion resistance steel, dan heavy steel structure," ungkapnya .
Hubungan dagang yang semakin erat antara Indonesia dan Kanada, dikombinasikan dengan kapasitas produksi Cilegon, dinilai menjadi peluang emas yang sangat prospektif.
Lebih lanjut, Dimyati menekankan pentingnya penguatan hilirisasi industri.
Ia berharap Banten tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan baku mentah, melainkan mampu menghasilkan produk manufaktur dan pabrikasi berteknologi tinggi yang memiliki nilai tambah.
Untuk mendukung target tersebut, Pemerintah Provinsi Banten berkomitmen untuk terus mempermudah investasi dan membangun infrastruktur yang terintegrasi.
"Pemerintah Banten berkomitmen untuk terus mendorong penguatan ekosistem industri, kemudahan investasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pembangunan infrastruktur pendukung perdagangan dan logistik," tegasnya.
Optimisme Wagub Banten ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan data performa perdagangan luar negeri, industri besi dan baja mencatatkan performa gemilang di awal tahun ini.
"Sampai saat ini, di periode Januari sampai dengan April, ekspor kita tumbuh dan ranking kesatu ekspor dari Banten itu adalah untuk industri manufaktur dari baja dan besi," ungkap Dimyati.
Peningkatan aktivitas ekspor ini diharapkan dapat memberikan efek domino bagi perekonomian daerah, mulai dari menarik investasi baru, memperluas lapangan kerja, hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat Banten.
Direktur Utama PT TFE Bobby Judoprawiro menyampaikan, sebanyak 127,3 metric tons baja struktural dikirim ke Toronto dan Vancouver, Kanada dengan nilai ekspor dari pengiriman ini mencapai USD 216,600 atau setara Rp3,8 Miliar.
"Kita sudah ekspor ke Kanada, Australia, dan Singapura. Hari ini kami secara resmi melepas 127,3 metric tons yang terdiri dari komponen baja struktural menuju Toronto dan Vancouver, Kanada," kata Bobby.
Bobby mengatakan, seluruh komponen yang keluar dari workshopnya di Kawasan Industri Krakatau Steel, Cilegon tersebut layak dan memenuhi standar internasional.
Ekspor ini, lanjut Bobby, semakin memperkuat posisi Cilegon sebagai salah satu pusat industri baja dan fabrikasi strategis di Indonesia dengan daya saing internasional.
Melalui ekspor ini, kata Bobby, PT TFE membawa nama Indonesia ke pasar internasional dan menunjukkan produk “Made in Indonesia” memiliki kualitas dan kapabilitas yang mampu bersaing secara global.
"Ini adalah bukti nyata produk rekayasa Indonesia bersertifikasi nasional, dikerjakan oleh tangan-tangan terampil putra-putri daerah Cilegon, mampu bersaing, dan dipercaya di pasar global," ujar dia.
Menurut Bobby, pengiriman baja struktural ini menjadi salah satu tahapan penting bagi perusahaan dalam memenuhi komitmen ekspor pada semester I-2026.
Bobby mencatat, sepanjang semester I-2026, PT TFE telah mengekspor sebanyak 3.117 metric tons produk pabrikasi baja dengan nilai mencapai Rp78 miliar
Memasuki semester II-2026, PT TFE berencana melayani pesanan baru dari berbagai negara, seperti Kanada, Australia, Inggris, Uni Eropa, hingga Amerika Serikat.
"Keberhasilan ekspor ini diharapkan memberikan dampak positif yang luas bagi peningkatan devisa, pertumbuhan ekonomi daerah," kata dia.
"Kemudian penguatan posisi Cilegon sebagai Kota Baja dan peningkatan reputasi Indonesia di pasar global," sambung Bobby.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, menambahkan ekspor baja struktural yang dilakukan PT TFE memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Kalau ekspornya naik, berarti kita dapat memenuhi permintaan pasar global. Harapannya, pasar tentu semakin besar dan industri kian bertumbuh. Selain itu, penciptaan lapangan kerja juga akan semakin luas," kata Fajarini ditempat yang sama.
Ekspor sektor baja sendiri, kata Fajarini berkontribusi sebesar 10,5 persen terhadap total ekspor Indonesia pada tahun 2025.
"Jadi, kontribusi sektor baja terhadap ekspor kita memang cukup signifikan. Nah, pada periode Januari–April ini, kontribusinya masih berada di kisaran tersebut, yaitu hampir 10 persen," ujar dia
"Mudah-mudahan pada kuartal kedua ini terjadi peningkatan seiring dengan ketegangan konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang sudah mulai mereda," tandasnya.