Sekolah Anggap Kenakalan Biasa, Kasus Perundungan Anak di Batang Berujung Fatal hingga Trauma Medis
Rustam Aji June 24, 2026 01:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BATANG – Anggapan keliru bahwa intimidasi di ranah pendidikan hanyalah kenakalan biasa memicu dampak fatal. 

Sebanyak dua orang anak di Kabupaten Batang terpaksa dilarikan ke rumah sakit dan harus mendapatkan perawatan medis serius setelah mengalami gangguan psikologis akut akibat kasus perundungan anak yang dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan.

Dokter spesialis anak di RSUD Kalisari Batang, dr. Tan Evi Susanti, mengungkapkan bahwa praktik perundungan di lingkungan sekolah masih terus memakan korban. Dalam penanganan terbaru, pihaknya merawat dua pasien anak dari jenjang SD dan SMP yang mengalami kondisi depresi berat hingga trauma psikis mendalam.

"Sebenarnya sudah lama kasus bullying itu ada di Kabupaten Batang, cuma tampaknya tidak terselesaikan dengan tuntas. Terakhir kemarin saya menangani langsung dua orang anak yang sampai membutuhkan perawatan," ujar dr. Tan Evi kepada Tribun Jateng, Rabu (24/6/2026).

Pihak Sekolah Disebut Abaikan Dampak Psikologis Perundungan

Kasus pertama menimpa seorang siswa SMP yang menjadi korban ejekan verbal secara terus-menerus mengenai kondisi fisiknya. Korban kerap disebut menyerupai anak perempuan hingga mendapat cercaan fisik berupa kata 'cebol'. Akumulasi cercaan tersebut merusak mental korban hingga memicu perubahan perilaku yang ekstrem.

Baca juga: Tolak 16 Orang Minta Jastip Murid Baru, Komisi 4 DPRD Banyumas Beri Peringatan

"Anak tersebut sampai depresi berat, menolak masuk sekolah, bahkan saat diajak berbicara pun kondisinya sudah linglung," urai dr. Tan Evi.

Ironisnya, laporan yang dilayangkan keluarga ke pihak institusi pendidikan mandek. Pihak sekolah, mulai dari wali kelas hingga kepala sekolah, justru menormalisasi tindakan tersebut sebagai dinamika remaja biasa dan berdalih bahwa karakter sang anak yang kurang mampu beradaptasi dalam pergaulan.

Intimidasi Bertahun-tahun Picu Depresi Anak Sekolah

Tragedi serupa menimpa korban kedua, seorang siswi kelas 4 SD di wilayah Kecamatan Bandar. Korban diduga telah mengalami rentetan kekerasan sistematis sejak duduk di bangku kelas 1 SD.

Bentuk penindasan yang dialami tidak hanya berupa pengucilan sosial, melainkan sudah mengarah pada tindakan fisik dan perusakan properti pribadi.

"Sepeda listrik milik korban sering kali dipakai paksa oleh oknum pelaku hingga dayanya habis, sehingga korban terpaksa menuntun sepedanya saat pulang. Di hari lain, ban sepedanya ditusuk jarum, rambutnya dijambak, hingga teman-temannya diancam agar tidak mendekati korban," jelas dr. Tan Evi menggambarkan beratnya tekanan yang dialami pasiennya.

Akibat rangkaian teror psikis yang membekas selama bertahun-tahun, siswi malang tersebut mengalami kehilangan kepercayaan diri total dan menolak keras untuk bertemu dengan pelaku maupun kembali ke sekolah.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan bahwa tindakan perundungan tidak boleh lagi dianggap sebagai candaan fiktif. Tanpa adanya intervensi tegas dan langkah nyata untuk stop bullying anak dari pihak sekolah dan orang tua, dampak destruktifnya akan berujung pada cedera mental jangka panjang yang merusak masa depan generasi muda.(Ito) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.