Aturan Kurikulum Merdeka 2026 untuk Siswa Baru Kelas 10 SMA, Tidak Ada Lagi Jurusan IPA dan IPS
Siti Umnah June 24, 2026 01:27 PM

SRIPOKU.COM - Memasuki minggu pertama masa libur sekolah Semester Genap, para orang tua yang putra-putrinya baru saja lulus SMP kini tengah bersiap menyambut fase baru: dunia Putih Abu-Abu. 

Menjadi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) pada Tahun Ajaran Baru 2026/2027 tentu membawa kebanggaan tersendiri, namun di sisi lain juga mendatangkan banyak pertanyaan, terutama terkait sistem pembelajaran yang akan dihadapi.

Bagi generasi orang tua terdahulu, kata "masuk SMA" selalu identik dengan persaingan ketat untuk masuk ke Jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), Jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), atau Jurusan Bahasa. 

Baca juga: Aturan Seragam Sekolah Kemendikbud Tahun 2026/2027 Hingga Letak Atribut Badge SD, SMP Hingga SMA/SMK

Penjurusan ini biasanya sudah ditentukan sejak awal menginjakkan kaki di kelas 10 atau paling lambat di kelas 11.

Namun, ada hal mendasar yang wajib dipahami oleh orang tua dan siswa baru saat ini. 

Di bawah payung Kurikulum Merdeka, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi secara resmi telah menghapus sistem penjurusan tradisional (IPA/IPS/Bahasa) secara nasional.

Kebijakan ini kerap memicu kebingungan bagi orang tua yang belum familier dengan skema baru. 

Banyak yang bertanya: Kalau tidak ada jurusan, lalu anak-anak belajar apa? Bagaimana nanti kalau mau daftar kuliah medis atau teknik?

Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, mari kita kupas tuntas regulasi, skema transisi, serta mekanisme pemilihan mata pelajaran di jenjang SMA Kurikulum Merdeka berikut ini.

Mengapa Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa Dihapuskan?

Berdasarkan kajian akademik Kurikulum Merdeka yang dirilis pemerintah, penghapusan sekat jurusan ini dilakukan untuk mengatasi masalah "ketidakadilan akademik" dan pembatasan minat sejak dini.

Pada sistem lama, siswa yang masuk jurusan IPS sering kali dianggap "kelas dua" dan dibatasi ruang geraknya saat memilih program studi di perguruan tinggi. 

Sebaliknya, siswa IPA dianggap bisa masuk ke jurusan mana saja, meski terkadang mereka harus memaksakan diri mempelajari seluruh materi sains yang belum tentu linier dengan masa depan mereka.

Melalui Kurikulum Merdeka, pemerintah ingin memberikan fleksibilitas. 

Siswa tidak lagi dipaksa mengonsumsi satu paket penuh mata pelajaran yang kaku, melainkan diberikan kesempatan untuk meramu sendiri kombinasi mata pelajaran yang sesuai dengan minat, bakat, serta rencana karier mereka di masa depan.

Skema Belajar Jenjang SMA: Memahami Fase E dan Fase F

Dalam Kurikulum Merdeka, tingkatan kelas diubah menjadi istilah "Fase". Untuk jenjang SMA, proses belajar dibagi menjadi dua tahapan krusial:

1. Fase E (Kelas 10 SMA): Masa Penjajakan dan Fondasi Umum

Bagi siswa baru yang akan masuk pada Juli 2026 nanti, mereka akan berada di Fase E. Di tingkat kelas 10 ini, seluruh siswa di Indonesia akan menerima mata pelajaran yang sama secara merata.

Apa saja yang dipelajari? Siswa tetap belajar Fisika, Kimia, dan Biologi (yang masuk dalam rumpun IPA), serta Sosiologi, Ekonomi, Geografi, dan Sejarah (dalam rumpun IPS), di samping pelajaran wajib seperti Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris.

Mengapa polanya seperti ini? Kelas 10 dirancang sebagai masa penjajakan (exploration). 

Selama satu tahun penuh, siswa diajak mengenali materi-materi dasar dari semua disiplin ilmu agar mereka memiliki gambaran yang utuh dan tidak "membeli kucing dalam karung" saat menentukan pilihan di tahun berikutnya.

2. Fase F (Kelas 11 dan 12 SMA): Masa Penyelarasan Minat dan Karier

Setelah naik ke kelas 11, barulah perubahan besar itu terjadi. Di Fase F ini, sekolah akan memfasilitasi siswa untuk memilih kelompok Mata Pelajaran Pilihan.

Siswa wajib mengambil mata pelajaran umum (Agama, PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika Umum, Sejarah, Bahasa Inggris, dan Olahraga), kemudian mereka dibebaskan memilih 4 hingga 5 mata pelajaran pilihan dari kelompok yang disediakan oleh sekolah, tanpa ada sekat IPA atau IPS.

Contoh Implementasi: Cara Meramu Mata Pelajaran Lintas Rumpun

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bedah melalui simulasi kasus nyata berikut ini:

  • Kasus A (Cita-cita menjadi Dokter): Pada kurikulum lama, siswa wajib masuk jurusan IPA dan otomatis harus belajar Fisika tingkat lanjut. Di Kurikulum Merdeka, siswa tersebut bisa memilih fokus pada Biologi dan Kimia, lalu mengombinasikannya dengan mata pelajaran Sosiologi (karena kedokteran butuh ilmu komunikasi sosial) serta Matematika Lanjut.
  • Kasus B (Cita-cita menjadi Arsitek / Desainer Game): Siswa bisa mengawinkan pelajaran Fisika dan Matematika Lanjut (dari rumpun sains), dengan mata pelajaran Seni Rupa atau Prakarya dan Kewirausahaan (dari rumpun seni/keterampilan).
  • Kasus C (Cita-cita menjadi Hubungan Internasional): Siswa bisa memilih kombinasi Bahasa Inggris Tingkat Lanjut, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi.

Dengan skema lintas rumpun seperti ini, siswa jauh lebih fokus memperdalam ilmu yang benar-benar akan berguna bagi perkuliahan mereka, tanpa dibebani hafalan materi dari bidang lain yang tidak mereka minati.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua dan Siswa Selama Libur 3 Minggu Ini?

Mengingat sistem ini menuntut kemandirian siswa sejak dini, masa libur panjang ini adalah waktu emas yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Berikut langkah taktis bagi orang tua:

  • Ajak Anak Berdiskusi Santai: Manfaatkan momen liburan untuk mengobrol mengenai impian, cita-cita, atau jurusan kuliah yang kira-kira ingin mereka tuju setelah lulus SMA nanti.
  • Petakan Minat Lewat Bakat Dasar: Perhatikan nilai rapor SMP anak. Apakah anak lebih menonjol di bidang hitungan, analisis sosial, bahasa, atau seni? Ini akan menjadi modal awal mereka menghadapi asesmen bakat yang biasanya diadakan sekolah di awal masuk.
  • Pahami Program P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila): Di kelas 10 nanti, anak tidak hanya belajar di dalam kelas, tapi juga akan disibukkan dengan proyek kelompok nyata (P5). Berikan pemahaman kepada anak agar mereka mulai melatih mental untuk bekerja sama dalam tim dan berani berbicara di depan umum.

Sistem SMA tanpa jurusan ini bukanlah hal yang menakutkan, melainkan sebuah peluang besar. 

Dengan persiapan dan pemahaman yang matang sejak masa liburan, transisi anak dari bangku SMP ke SMA akan berjalan mulus, dan mereka siap menata masa depan dengan langkah yang lebih pasti.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.