Dampak Tumpahan Ribuan Ton Batu Bara di Perairan Pangandaran Ganggu Musim Pendaratan Penyu
Dedy Herdiana June 24, 2026 04:05 PM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Tumpahan ribuan ton batu bara di perairan perbatasan Pantai Sukaresik dan Pantai Batu Hiu, Kabupaten Pangandaran, memicu keseriusan terhadap ekosistem laut, terutama terhadap keberlangsungan musim pendaratan penyu yang sedang dinantikan para pegiat konservasi.

Pengelola konservasi penyu di kawasan Pantai Batuhiu, Kurdys Zovansckha, mengecam keras insiden itu karena dinilai berpotensi menimbulkan dampak ekologis jangka panjang.

"Dengan insiden ini, saya sebagai pengelola pelestari penyu di Batuhiu sangat mengecam. Dampaknya bisa menjadi terbesar, apalagi saat ini merupakan musim pendaratan penyu yang sudah lama kami nantikan," ujar Kurdys kepada sejumlah wartawan di lokasi konservasi penyu di Batuhiu, Rabu (24/6/2026) siang.

Menurutnya, kehadiran penyu di wilayah itu tidak selalu terjadi setiap tahun. Bahkan pada tahun sebelumnya, aktivitas pendaratan penyu sangat minim sehingga momen pada Juni tahun ini menjadi harapan besar bagi para pegiat konservasi.

Baca juga: Diduga Terdampak Tumpahan Batu Bara, Ratusan Benih Lobster di Parigi Pangandaran Mati

Namun harapan tersebut terancam setelah terjadi tumpahan batu bara dari kapal tongkang di wilayah yang selama ini dikenal sebagai jalur dan lokasi pendaratan penyu.

"Lokasi kejadian merupakan area pendaratan penyu. Ini menjadi kondisi yang menyakitkan bagi induk-induk penyu yang hendak naik ke pantai untuk bertelur," katanya.

Ia menilai dampak pencemaran tidak hanya mengancam penyu, tapi juga memengaruhi kualitas perairan dan rantai makanan di laut.

Karena, biota laut yang selama ini menjadi sumber pakan berbagai jenis ikan maupun penyu berpotensi ikut tercemar.

"Dampaknya bukan hanya terlihat dari ada atau tidaknya hewan yang mati. Kerusakan bisa saja sudah terjadi di dalam air meskipun belum tampak secara kasat mata," ucap Kurdys.

Meskipun demikian, hingga kini pihaknya belum menerima laporan adanya penyu yang ditemukan mati akibat dugaan paparan batu bara.

Memang, upaya pelestarian penyu di Pangandaran selama ini sudah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari abrasi, perubahan iklim, hingga aktivitas manusia di wilayah pesisir yang berlebihan.

"Aktivitas manusia yang berlebih di kawasan laut, termasuk insiden kapal pengangkut batu bara dan penangkapan benih bening lobster (BBL) saat musim pendaratan penyu, menjadi ancaman terhadap keberhasilan konservasi," ujarnya.

Kini, pihaknya mengajak masyarakat untuk terlibat aktif menjaga kawasan pesisir. Sejumlah kelompok warga sudah dibentuk untuk mendukung kegiatan penghijauan dan pemantauan habitat penyu.

"Kami punya komunitas pejuang pantai untuk penghijauan dan pejuang penyu di Kalangjaladri. Konservasi tidak akan berjalan tanpa keterlibatan masyarakat," kata Kurdys.

Kurdys pun mengingatkan pencemaran laut akibat tumpahan batu bara berpotensi membuat penyu menunda pendaratan bahkan bisa meninggalkan kawasan itu dalam beberapa waktu.

"Kalau kondisi laut tidak mendukung saat musim pendaratan seperti sekarang, ada kemungkinan penyu tidak datang," ujarnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.