Seorang wisatawan asal Belanda berulah di Jepang. Dia tertangkap kamera melakukan drifting di area museum, hingga kemudian juga diketahui bahwa itu adalah mobil sewaan.
Peristiwa itu memicu perdebatan di kalangan netizen Jepang soal etika wisatawan di negara tersebut. Dikutip dari , Rabu (24/6/2026) Kepolisian Prefektur Tochigi mengumumkan penangkapan seorang pria berusia 32 tahun bernama Roy Witte, warga negara Belanda yang tengah berkunjung ke Jepang.
Dia diduga melakukan aksi berbahaya dengan mengemudikan mobil sewaan secara tidak bertanggung jawab di area publik. Rekaman kamera pengawas pada 15 Juni menunjukkan Witte mengendarai Nissan Skyline R34 sewaan di area parkir Oya History Museum yang berada di Kota Utsunomiya.
Dalam rekaman tersebut, mobil terlihat berputar dengan kecepatan tinggi hingga menghasilkan asap dari ban, meninggalkan jejak ban yang jelas di permukaan aspal.
Pengelola museum menyebut kerusakan yang ditimbulkan tidak bisa dianggap sepele. Jejak ban yang tertinggal di area parkir disebut membutuhkan biaya perbaikan dan pembersihan yang tidak sedikit.
Meski drifting dikenal luas sebagai bagian dari budaya otomotif Jepang dan menjadi salah satu negara yang memopulerkannya, praktik tersebut tidak serta-merta diterima dilakukan di sembarang tempat. Di Jepang, drifting umumnya dilakukan secara terbatas di lokasi khusus atau jalanan sepi dan bukan di area publik seperti parkiran fasilitas umum.
Budaya otomotif di Jepang sendiri menekankan etika dan tanggung jawab, termasuk tidak mengganggu ketertiban umum. Karena itu, aksi seperti memutar mobil di area parkir tanpa alasan jelas dianggap sebagai pelanggaran dan bukan bagian dari teknik drifting yang sesungguhnya dalam dunia otomotif Jepang.
Tak heran, kasus ini menuai respons negatif dari masyarakat Jepang di media sosial, termasuk dari sebagian penggemar otomotif. Banyak yang menilai tindakan tersebut tidak menghormati aturan dan lingkungan setempat, terlebih dilakukan dengan mobil sewaan.
"Lakukan itu di negaramu sendiri," komentar netizen menanggapi video itu.
"Suruh dia mengganti kerugian museum," tulis komentar lainnya.
Adapun komentar yang mengatakan jika wisatawan itu jangan diberi ampun alias berikan hukuman yang setimpal dengan kerugian yang ia timbulkan.
"Tolong jangan ringankan tuntutan terhadapnya," bunyi komentar itu.
Di Jepang kendaraan sewaan tetap dianggap sebagai barang milik orang lain yang harus dijaga dengan baik. Karena itu, pihak perusahaan rental juga berpotensi mengambil langkah atas kerusakan yang terjadi akibat penggunaan kendaraan di luar batas kewajaran.
Kasus ini juga kembali memunculkan diskusi di Jepang mengenai penanganan pelanggaran yang dilakukan wisatawan asing. Sebagian warga menilai selama ini hukuman terhadap wisatawan yang melanggar aturan cenderung ringan, bahkan dalam beberapa kasus pelaku langsung dipulangkan ke negara asal tanpa proses hukum yang setara.
Seiring meningkatnya kasus serupa, muncul desakan agar penegakan hukum terhadap wisatawan mancanegara dilakukan lebih tegas dan setara dengan warga lokal, agar kejadian serupa tidak terus berulang di kemudian hari.




