Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Polemik Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMK Negeri 1 Puhpelem, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah yang sempat memicu protes warga akhirnya menemukan solusi.
Sebanyak 35 siswa asal Kecamatan Puhpelem yang tidak lolos seleksi dipastikan tetap mendapatkan akses pendidikan melalui program kemitraan dengan SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro.
Sebelumnya, sejumlah warga mendatangi SMKN 1 Puhpelem pada Rabu (17/6/2026) untuk memprotes hasil SPMB.
Mereka menilai banyak siswa dari wilayah setempat gagal diterima karena terbatasnya kuota jalur domisili dan kalah bersaing dalam nilai seleksi dengan pendaftar dari daerah perbatasan Jawa Timur.
Permasalahan tersebut kemudian dibahas dalam audiensi yang melibatkan Dinas Pendidikan Jawa Tengah, perwakilan masyarakat, dan sejumlah anggota DPRD Wonogiri pada Senin (22/6/2026).
Salah seorang perwakilan warga mengungkapkan, terdapat sekitar 35 siswa asal Kecamatan Puhpelem yang tidak lolos dalam proses SPMB tahun ini.
Namun, hasil pertemuan di tingkat provinsi memastikan seluruh siswa tersebut tetap dapat melanjutkan pendidikan.
"Tetap bisa sekolah. Tapi masuknya di SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro. Ada program kemitraan informasinya," katanya.
Menurutnya, persoalan biaya pendidikan dan transportasi menjadi perhatian utama para orang tua.
Karena itu, seluruh pihak sepakat agar kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan di wilayah Kecamatan Puhpelem.
Dalam skema yang telah disepakati, guru dari SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro akan datang langsung ke Puhpelem untuk mengajar satu rombongan belajar (rombel).
"Kesepakatannya gurunya yang ke Puhpelem. Nanti ruangnya dicarikan dari gedung kosong seperti bekas sekolah yang diregroupping," ujarnya.
Warga menyambut positif solusi tersebut.
Selain memastikan anak-anak tetap bisa bersekolah, seluruh biaya pendidikan juga akan ditanggung melalui program kemitraan yang difasilitasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
"Masyarakat respon positif. Yang penting anak bisa sekolah. Kita juga matur, tahun depan bisa dievaluasi. Atau rombelnya ditambah. Kalau bisa diproritaskan warga, tidak luar wilayah," imbuh dia.
Baca juga: Protes SPMB SMK Negeri 1 Puhpelem Wonogiri, Wali Murid Harap Ada Tambahan Rombongan Belajar
Masyarakat berharap pemerintah melakukan evaluasi terhadap sistem penerimaan siswa baru di wilayah tersebut.
Pasalnya, persoalan serupa disebut hampir selalu muncul setiap tahun, terutama di kawasan perbatasan.
Terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Wonogiri, Titik Sugiyarti, memastikan 35 siswa tersebut akan diterima di SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro, sementara kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung di Kecamatan Puhpelem.
"Gurunya nanti yang ngalahi ke Puhpelem," kata Titik.
Menurutnya, keputusan tersebut mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari biaya transportasi, faktor keselamatan siswa selama perjalanan, hingga aspirasi masyarakat yang menginginkan anak-anak tetap bersekolah di wilayah Puhpelem.
"Sekolahnya gratis nanti. Nanti akan dicarikan gedungnya. Sudah ada pandangan juga perwakilan. Misal seperti di gedung sekolah yang diregrouping," jelasnya.
Baca juga: Keluhan SPMB SMK Negeri 1 Puhpelem Wonogiri Disebut Terjadi Hampir Setiap Tahun, Sistem Dikritik!
Dalam audiensi itu, warga juga menyampaikan kekecewaan karena sebelumnya mendukung pendirian SMKN 1 Puhpelem, namun banyak siswa dari wilayah setempat justru tidak dapat diterima di sekolah tersebut.
"Solusi ini sudah bagus. Nanti ada yang ngalahi datang ke Puhpelem untuk satu rombel. Sudah disepakati dan sudah clear," pungkasnya.
(*)