Pemkab Maros Libatkan Ratusan Relawan Remaja di 103 Desa Cari Suspek TB
Acos Abdul Qodir June 24, 2026 04:20 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros melibatkan ratusan relawan remaja, termasuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), di 103 desa dan kelurahan untuk membantu menemukan suspek tuberkulosis (TB) melalui program Sipakatau.

Langkah ini ditempuh karena masih banyak warga yang enggan memeriksakan diri akibat stigma dan rasa takut terhadap penyakit tersebut.

Bupati Maros Chaidir Syam mengatakan program Sipakatau atau Strategi Akselerasi Pencegahan dan Penanganan Tuberkulosis lahir dari kebutuhan untuk mempercepat penemuan kasus TB yang selama ini belum terdeteksi.

Saat ditemui usai menerima penghargaan Cita Loka Fest di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (24/6/2026), Chaidir menjelaskan salah satu tantangan terbesar penanganan TB di daerahnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kondisi kesehatan.

"Karena masyarakat biasanya takut dengan TB lah, penyakit, enggak mau dikatakan (terjangkit penyakit) TB. Kemudian kalau dia kena TB, bagaimana dia dikawal minum obat," kata Chaidir.

Remaja Jadi Ujung Tombak Program Sipakatau

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Maros menggandeng berbagai pemangku kepentingan, termasuk ratusan relawan remaja yang tersebar di seluruh kecamatan, desa, dan kelurahan.

Menurut Chaidir, keterlibatan generasi muda dinilai penting untuk membangun kesadaran kesehatan hingga tingkat lingkungan terkecil.

"Akhirnya kita libatkan stakeholder, ya remaja-remaja kita di 14 kecamatan, 103 desa. Kemudian kita buat Peraturan Desa, Perbup di desa itu melahirkan peraturan-peraturan desa di 103 desa kelurahan melahirkan strategi yang dilakukan di desa dan kelurahan untuk penanganannya," tegas dia.

Baca juga: Pemkab Bogor Perluas Desa Siaga TB Demi Percepat Target Eliminasi Tuberkulosis Daerah

Selain relawan remaja, program ini juga melibatkan pemerintah kecamatan, desa, kelurahan, serta kader kesehatan untuk memperluas jangkauan edukasi dan penemuan kasus di tingkat komunitas.

Chaidir menjelaskan, istilah Sipakatau diambil dari nilai budaya Bugis-Makassar yang bermakna saling menghargai dan memanusiakan sesama. Nilai tersebut menjadi landasan pendekatan program dalam mendampingi warga yang berisiko maupun telah terdiagnosis TB.

Selain melibatkan relawan, pemerintah daerah juga menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) yang kemudian ditindaklanjuti dengan berbagai aturan dan strategi penanganan TB di tingkat desa dan kelurahan.

Temuan Suspek TB Meningkat

Chaidir mengungkapkan pendekatan berbasis komunitas tersebut mulai menunjukkan hasil.

Tingkat penemuan suspek TB di Kabupaten Maros meningkat dari sekitar 30 persen pada periode 2022-2024 menjadi 47,6 persen saat ini.

Program Sipakatau yang dijalankan Pemkab Maros juga mendapat pengakuan nasional. Dalam ajang Cita Loka Fest 2026 di Jakarta, program tersebut diapresiasi karena dinilai memperkuat upaya pencegahan dan penanganan TB melalui pendekatan kolaboratif berbasis masyarakat.

Pemerintah daerah menargetkan angka penemuan suspek terus meningkat hingga mendekati seluruh kasus yang berpotensi ditemukan sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut.

"Kita berharap sampai akhir tahun ini kita temukan dulu suspek ini, ini bisa sampai 90 persen—100 persen, sehingga kita bisa kawal penanganan penyembuhan masyarakat kita," ujarnya.

Peningkatan angka suspek yang terdeteksi menjadi penting karena semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula pasien dapat memperoleh pengobatan dan pendampingan untuk mencegah penularan.

Baca juga: Daftar Pemenang Cita Apresiasi 1 di Cita Loka Fest 2026: Intip Deretan Pemda dan Swasta yang Berjaya

Stigma Masih Jadi Hambatan

Meski demikian, Chaidir mengakui upaya penanggulangan TB masih menghadapi tantangan besar berupa stigma yang melekat di masyarakat.

Banyak warga yang memilih mengabaikan gejala awal atau enggan memeriksakan diri karena khawatir mendapat penilaian negatif dari lingkungan sekitar.

"Iya, memang ini yang menjadi kendala kita bahwa masyarakat kadangkala malu atau tabu lah untuk pergi memeriksakan dirinya. Dia selalu menganggap bahwa dia hanya batuk biasa atau apa," kata dia.

Untuk mengurangi rasa takut tersebut, fasilitas layanan kesehatan di Maros mulai menyediakan ruang atau layanan khusus bagi warga yang mengalami gejala batuk agar tetap merasa nyaman dan privasinya terjaga.

"Akhirnya kita bikin pojok tersendiri bagi yang terkena batuk misalnya, kita bikin pojok tersendiri sehingga dia nyaman dan akhirnya kita tahu bahwa dia tidak malu lagi dikatakan TB. Ini hanya antara dokter, perawat, dan mereka sendiri sehingga tidak diketahui oleh publik, privasi buat mereka," tukas Chaidir.

Fasilitas tersebut dikenal sebagai Pojok Sipakatau yang tersedia di puskesmas sebagai ruang informasi, edukasi, deteksi dini, dan konseling bagi masyarakat yang ingin memeriksakan diri tanpa khawatir terhadap stigma sosial.

Pemkab Maros menjadikan relawan remaja sebagai salah satu ujung tombak penemuan suspek TB di tingkat desa dan kelurahan. Di tengah masih kuatnya stigma terhadap penyakit tersebut, pendekatan berbasis komunitas, pelibatan generasi muda, dan layanan yang menjaga privasi pasien diharapkan mampu mempercepat deteksi kasus serta meningkatkan keberhasilan penanganan TB.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.