AS Akan Buat Medan Tempur ala Perang Ukraina untuk Uji Teknologi Militer
Febri Prasetyo June 24, 2026 04:20 PM

TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) berencana membangun setidaknya dua lokasi latihan militer yang meniru kondisi medan perang di Ukraina sebagai bagian dari upaya mempercepat pengembangan teknologi tempur dan meningkatkan kesiapan pasukan menghadapi konflik modern.

Menteri Angkatan Darat AS Dan Driscoll mengatakan fasilitas tersebut akan mulai disiapkan dalam empat hingga enam minggu ke depan.

Menurutnya, lokasi latihan itu akan dirancang menyerupai garis depan pertempuran di Ukraina, termasuk menghadirkan lingkungan peperangan elektronik dan kondisi tempur yang diperebutkan seperti yang terjadi dalam perang Rusia-Ukraina.

"Kami akan mengidentifikasi setidaknya dua lokasi latihan dalam negeri yang dapat meniru garis depan di Ukraina. Anda dapat menciptakan semacam peperangan elektronik dan seluruh lingkungan yang diperebutkan, lalu melibatkan produsen drone dan pengembang sistem anti-drone dalam pengujian bersama," kata Driscoll kepada wartawan, Selasa (23/6/2026).

Fasilitas tersebut tidak hanya akan digunakan oleh industri pertahanan, tetapi juga oleh para prajurit AS untuk berlatih dan bekerja sama langsung dengan para pengembang teknologi militer.

"Kami juga ingin para prajurit dapat pergi ke sana, sehingga mereka dapat memperkuat keterampilan mereka dan bekerja sama dengan para pengembang," ujarnya.

Rencana tersebut muncul di tengah kekhawatiran Pentagon terhadap perubahan karakter peperangan modern yang semakin didominasi oleh penggunaan drone murah dalam jumlah besar.

Pengalaman perang di Ukraina menunjukkan bahwa teknologi berbiaya rendah dapat memberikan tekanan besar terhadap sistem pertahanan yang mengandalkan rudal-rudal mahal, lapor Defense Scoop.

AS Pertimbangkan Gandeng Negara Lain untuk Bangun Fasilitas Uji Coba

Selain membangun lokasi latihan di dalam negeri, Angkatan Darat AS juga mempertimbangkan pendirian fasilitas pengujian di luar negeri bersama negara sekutu.

Baca juga: Lavrov Blak-blakan, Sebut AS Bukan Lagi Mediator Netral di Perang Rusia-Ukraina

Namun, Driscoll menolak mengungkapkan negara mana yang akan menjadi mitra dalam proyek tersebut.

"Kami sedang mempertimbangkan lokasi global di luar Amerika Serikat yang memungkinkan Angkatan Darat dan industri melakukan pengujian yang jauh lebih agresif," katanya.

Pejabat Angkatan Darat AS menilai percepatan pengujian menjadi kebutuhan mendesak karena perusahaan pertahanan saat ini sering kali harus menunggu hingga 12 hingga 18 bulan untuk mendapatkan akses ke lapangan tembak militer guna menguji teknologi baru.

Kepala Pengadaan Angkatan Darat AS, Brent Ingraham, menyebut kondisi tersebut sebagai hambatan bagi inovasi, terutama bagi perusahaan rintisan yang mengembangkan teknologi pertahanan.

Sementara itu, pejabat Kantor Ancaman Strategis Angkatan Darat AS, Dwayne Hynes, menyoroti besarnya produksi drone dalam perang Rusia-Ukraina.

Menurutnya, Rusia saat ini mampu memproduksi sekitar 3.000 hingga 5.000 drone serang tipe Shahed setiap bulan, serta sekitar 600.000 drone FPV (first-person-view) yang lebih kecil.

Di sisi lain, Ukraina memproduksi sekitar 30.000 drone pencegat setiap bulan untuk menghadapi ancaman tersebut.

Hynes menilai model peperangan saat ini telah berubah menjadi perang gesekan yang mengutamakan volume produksi dibandingkan teknologi mahal semata.

"Ini bukan lagi hanya tentang keakuratan radar atau jangkauan maksimum. Ini adalah perang gesekan yang brutal, dan saat ini musuh memenangkan perlombaan logistik bahkan sebelum tembakan pertama dilepaskan," ujarnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan biaya antara sistem pertahanan modern dan ancaman yang dihadapi di medan perang.

"Kita baru saja menembakkan rudal pencegat canggih senilai 2 juta dolar AS untuk menghancurkan drone seharga 20 ribu dolar AS. Perhitungan seperti itu tidak bisa dipertahankan," kata Hynes.

Karena itu, Angkatan Darat AS kini mendorong pengembangan rudal pencegat murah yang dapat diproduksi dalam jumlah besar untuk melengkapi sistem pertahanan canggih seperti Patriot dan THAAD.

Driscoll mengibaratkan sistem pertahanan berteknologi tinggi tersebut sebagai "Ferrari" dalam dunia persenjataan.

"Sistem yang kita miliki saat ini luar biasa. Namun, kita membutuhkan beberapa solusi lain untuk melengkapinya," ujarnya.

Langkah pembangunan medan tempur ala Ukraina ini menjadi bagian dari transformasi besar militer AS dalam menghadapi era peperangan baru, di mana drone murah, peperangan elektronik, dan kemampuan produksi massal dinilai sama pentingnya dengan senjata canggih bernilai miliaran dolar, lapor CBS News.

Latar Belakang Perang Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia-Ukraina yang meletus pada 24 Februari 2022 berawal dari ketegangan yang telah berlangsung selama beberapa dekade sejak Ukraina memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991.

Hubungan antara Moskow dan Kyiv diwarnai oleh perbedaan pandangan terkait politik, keamanan, serta orientasi kebijakan luar negeri masing-masing negara.

Seiring waktu, Ukraina semakin mempererat hubungan dengan negara-negara Barat dan menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan NATO. Rusia memandang langkah tersebut sebagai ancaman terhadap kepentingan keamanannya karena berpotensi memperluas pengaruh aliansi militer Barat hingga mendekati wilayah perbatasan Rusia.

Ketegangan semakin meningkat pada tahun 2014 setelah terjadinya pergantian pemerintahan di Ukraina. Pada tahun yang sama, Rusia mengambil alih Semenanjung Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di wilayah Donetsk dan Luhansk di bagian timur Ukraina.

Berbagai upaya diplomatik dan kesepakatan perdamaian telah dilakukan selama bertahun-tahun, tetapi belum mampu menyelesaikan akar permasalahan yang mendasari konflik tersebut.

Situasi mencapai titik puncak pada Februari 2022 ketika Rusia melancarkan operasi militer berskala besar ke Ukraina. Moskow menyatakan operasi itu bertujuan melindungi masyarakat berbahasa Rusia dan mencegah ekspansi NATO, sedangkan Ukraina bersama negara-negara Barat menilai tindakan tersebut sebagai invasi terhadap negara yang berdaulat.

Sejak konflik dimulai, Ukraina memperoleh dukungan militer, ekonomi, dan politik dari Amerika Serikat serta sejumlah negara Eropa. Di sisi lain, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang menargetkan sektor keuangan, energi, perdagangan, dan bidang strategis lainnya.

Dampak perang tidak hanya dirasakan oleh kedua negara yang terlibat, tetapi juga memengaruhi banyak negara lain melalui gangguan terhadap pasokan energi dan pangan dunia serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Hingga saat ini, konflik masih berlangsung meskipun berbagai upaya negosiasi dan mediasi terus dilakukan. Namun, proses menuju perdamaian kerap menghadapi hambatan akibat perbedaan kepentingan kedua pihak dan dinamika geopolitik internasional yang terus berubah.

Dalam sejumlah perundingan, Rusia mengajukan beberapa tuntutan, antara lain agar Ukraina tidak bergabung dengan NATO, mengakui status Krimea dan wilayah lain yang diklaim Moskow, membatasi kemampuan militernya, serta memperluas perlindungan bagi warga berbahasa Rusia.

Sementara itu, Ukraina tetap menolak tuntutan tersebut dan menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, serta keutuhan wilayahnya sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.