TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Banyak orang tua menganggap kebiasaan anak langsung tidur setelah makan sebagai hal yang biasa.
Padahal, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya gastroesophageal reflux disease (GERD) atau penyakit asam lambung pada anak.
Selama ini GERD memang identik dengan orang dewasa, namun anak-anak juga bisa mengalaminya akibat pola hidup yang kurang sehat.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Sri Kesuma Astuti, Sp.A, Subsp.G.H(K), mengatakan bahwa perubahan gaya hidup anak saat ini ikut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko GERD.
Menurutnya, anak-anak masa kini lebih sering menghabiskan waktu bermain gawai dalam posisi berbaring sambil ngemil atau makan.
Aturan Jeda Makan dan Waktu Tidur
Dr. Sri menjelaskan, salah satu aturan penting untuk mencegah GERD adalah memberikan jeda yang cukup antara waktu makan dan tidur.
Hal ini berkaitan erat dengan proses pencernaan di dalam tubuh.
"Jadi kita itu memang paling baik sebelum tidur, makan terakhir adalah 3 jam sebelum tidur," ujarnya.
Jeda waktu tersebut sangat diperlukan karena makanan membutuhkan waktu untuk berpindah dari lambung menuju usus halus.
Jika anak langsung berbaring setelah makan, isi lambung akan lebih mudah naik kembali ke kerongkongan.
Kondisi inilah yang kemudian menimbulkan keluhan seperti rasa tidak nyaman di dada hingga sensasi terbakar.
Bukan hanya posisi tidur setelah makan, Dr. Sri juga mengingatkan bahwa kebiasaan berbaring atau rebahan sambil bermain gadget dapat meningkatkan risiko refluks.
Dalam posisi telentang atau bersandar, aliran balik isi lambung ke kerongkongan menjadi lebih mudah terjadi.
Oleh karena itu, orang tua diminta lebih memperhatikan kebiasaan sehari-hari anak, terutama saat mereka makan dan beristirahat.
Jenis Makanan yang Sebaiknya Dibatasi
Selain pola tidur dan posisi tubuh, jenis makanan yang dikonsumsi anak juga berpengaruh besar terhadap munculnya gejala GERD. Dr. Sri menyebutkan bahwa makanan pedas dapat merangsang produksi asam lambung menjadi lebih banyak.
Sementara itu, makanan berlemak akan bertahan lebih lama di dalam lambung sehingga memperlambat proses pengosongan makanan.
Selain makanan pedas dan berlemak, ada beberapa jenis hidangan serta minuman tertentu yang dapat mempermudah terbukanya katup antara lambung dan kerongkongan.
"Seperti apa? Kafein, cokelat, makanan bersoda. Itu sebaiknya dihindari," jelas Dr. Sri.
Meski demikian, aturan ini bukan berarti melarang anak sama sekali untuk mengonsumsi jenis makanan tersebut.
Hal yang paling penting untuk diterapkan orang tua adalah pengaturan frekuensi dan jumlah konsumsi agar tidak berlebihan.
Melalui pengawasan terhadap kebiasaan makan, waktu tidur, serta jenis camilan anak, risiko penyakit asam lambung dapat ditekan sejak dini.
Sumber: Tribunnews.com