Pengendalian Banjir Sungai Cibanten Dimulai, Puluhan Bangkai Kapal dan Sedimentasi Jadi Tantangan
Abdul Rosid June 24, 2026 07:01 PM

 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Ahmad Haris

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Proyek pengendalian banjir Sungai Cibanten dan pengerukan alur pelayaran di kawasan Pelabuhan Karangantu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten mulai dikerjakan.

Program tersebut menjadi langkah pemerintah untuk mengatasi persoalan banjir yang selama ini terjadi di sekitar aliran Sungai Cibanten sekaligus mengembalikan fungsi jalur pelayaran nelayan yang terganggu akibat pendangkalan muara.

Gubernur Banten Andra Soni meninjau langsung lokasi proyek pada Rabu (24/6/2026) untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana.

Dalam kunjungan tersebut, Andra Soni didampingi Wali Kota Serang Budi Rustandi serta perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau-Ciujung-Cidurian (C3).

Baca juga: Insentif Guru Madrasah Nonsertifikasi di Banten Ditarget Cair Akhir Juni 2026, Segini Nominalnya

Menurut Andra, proyek pengendalian banjir Sungai Cibanten merupakan tindak lanjut dari aspirasi masyarakat dan nelayan Karangantu yang selama ini menghadapi dua persoalan utama, yakni banjir dan terganggunya akses kapal akibat sedimentasi di kawasan muara.

“Setelah kami melakukan audiensi dengan para nelayan dan menerima berbagai keluhan masyarakat Kota Serang terkait banjir, Alhamdulillah melalui koordinasi yang baik dengan Balai C3, program penanganan ini akhirnya bisa terlaksana,” ujar Andra Soni saat meninjau lokasi.

Pekerjaan yang dilakukan mencakup pengendalian aliran Sungai Cibanten serta pengerukan alur pelayaran sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer di kawasan muara Karangantu.

Selain untuk mengurangi risiko banjir, pengerukan tersebut diharapkan dapat memperlancar aktivitas nelayan yang selama ini mengalami kendala saat keluar masuk pelabuhan akibat jalur yang semakin dangkal.

Namun, dalam proses penanganan tersebut, pemerintah menemukan sejumlah persoalan yang menjadi tantangan besar, salah satunya keberadaan puluhan bangkai kapal yang telah lama berada di kawasan muara.

Andra Soni menyebut terdapat sekitar 80 bangkai kapal yang terbengkalai selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun dan ikut menghambat aliran air maupun aktivitas pelayaran nelayan.

“Kita melihat sendiri ada kurang lebih 80 bangkai kapal yang sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun tidak tertangani. Kondisi ini menghambat alur pelayaran para nelayan,” katanya.

Selain itu, sedimentasi yang menumpuk di kawasan muara juga dinilai sangat tinggi. Berdasarkan perkiraan awal, volume sedimentasi yang akan ditangani mencapai sekitar 190.000 meter kubik.

Tingginya sedimentasi tersebut tidak hanya mempersempit alur pelayaran kapal nelayan, tetapi juga mengurangi kapasitas sungai dalam menampung debit air saat musim hujan.

Kondisi itu kerap menyebabkan genangan hingga banjir di sejumlah wilayah sekitar Sungai Cibanten dan kawasan pesisir Karangantu.

Pemerintah memperkirakan proses pengerukan dan penataan kawasan akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Selama pekerjaan berlangsung, aktivitas nelayan diperkirakan akan terdampak, terutama di sekitar area pengerjaan.

Karena itu, Andra meminta dukungan seluruh pihak agar proyek dapat berjalan lancar hingga selesai.

“Kami mohon dukungan seluruh masyarakat, khususnya para nelayan yang kemungkinan aktivitasnya akan sedikit terganggu selama proses pengerjaan berlangsung. Mudah-mudahan pekerjaan ini dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga meminta masyarakat turut mengawasi pelaksanaan proyek agar berjalan sesuai ketentuan dan menghasilkan manfaat maksimal.

“Kami berharap masyarakat ikut mengawasi pelaksanaan program ini sehingga pengerjaannya dapat berjalan dengan baik dan sesuai harapan bersama,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.