Mengapa Fisik Ronaldo Masih Bugar pada Usia 41 Tahun? Ini Rahasianya Menurut Sains
GH News June 24, 2026 08:09 PM
Jakarta -

Pesepakbola asal Portugal, Cristiano Ronaldo, membuktikan diri fisiknya yang sudah berusia 41 tahun, belum habis pada Piala Dunia 2026. Pada Rabu (24/6/2026) dini hari, Ronaldo berhasil mencetak dua gol ke gawang Uzbekistan sekaligus menjadi sejarah sebagai pemain pertama yang mencetak gol di 6 Piala Dunia berbeda.

Bagaimana pandangan sains tentang fisik Ronaldo?

Seorang ahli fisiologi olahraga di Universitas Birmingham, Inggris, Dr Liam Anderson, mengatakan atlet sebenarnya tetap menua secara fisik. Namun, kemajuan sains membantu para atlet memperlambat laju penuaan.

"Yang telah dilakukan ilmu olahraga adalah membantu mereka memperlambat laju penurunan dan memaksimalkan apa yang tersisa," ucapnya, dikutip dari The Guardian.

Kombinasi kemajuan sains, disiplin puluhan tahun, dan pemahaman taktis lain bisa membuat atlet tetap bugar secara fisik sampai akhir karier.

"Ketika itu dikombinasikan dengan pengalaman puluhan tahun dan pemahaman taktis, kita semakin sering melihat atlet tetap kompetitif hingga akhir karier mereka," imbuhnya.

Pentingnya Kekuatan Otot

Ilmuwan olahraga dan latihan di Universitas Westminster, Dr Paul Hough, mengatakan bahwa salah satu rahasia kebugaran adalah terkait kekuatan otot. Menurutnya, kebugaran yang menurun berkaitan dengan daya ledak atau kemampuan otot untuk menghasilkan kekuatan.

Biasanya, jika terjadi pada pemain sepak bola, saat muda akan memiliki pergerakan yang sangat cepat. Namun, saat usia jelang akhir karier, permainan akan berbeda karena menyesuaikan daya ledak otot.

"Jika Anda seorang pemain sepak bola yang mengandalkan kecepatan, maka Anda mungkin harus memodifikasi cara Anda bermain atau akhirnya pensiun lebih cepat," ujar Hough.

Sebagai contoh, Cristiano Ronaldo, yang awalnya menjadi pemain sayap dan mengandalkan kecepatan, secara bertahap menjadi penyerang murni yang tidak perlu lari sepanjang waktu.

"Dia memulai kariernya sebagai pemain sayap dan sangat mengandalkan kecepatan dan daya ledaknya, tetapi dia secara bertahap menyesuaikan permainannya, sehingga sekarang dia lebih menjadi penyerang murni dan tidak perlu lagi melakukan sprint sepanjang waktu, karena dia lebih memahami permainan," imbuh Hough.

Gaya Hidup Disiplin

Anderson menjelaskan bahwa fisik bukan faktor utama mengapa atlet seperti Ronaldo bisa tetap bugar sampai usia 40-an. Faktor lain seperti kestabilan emosi juga menjadi penentu.

"Pengalaman, kesadaran taktis, antisipasi, pengambilan keputusan, dan pengendalian emosi sering kali terus meningkat seiring bertambahnya usia," katanya.

Di sisi lain, gaya hidup sehat yang disiplin juga berperan dalam memperpanjang karier para pemain. Atlet modern berlatih, memulihkan diri, makan, dan tidur dengan tingkat disiplin yang sangat kuat.

Menurut Anderson, semuanya tidak dilakukan begitu saja. Namun, diawali dengan perbaikan kecil dalam setiap pengalaman hidup.

"Strategi pemulihan yang lebih baik, manajemen beban latihan yang lebih canggih, kemajuan dalam rehabilitasi, nutrisi yang lebih baik, dan pemahaman yang lebih besar tentang tidur semuanya telah membantu atlet mempertahankan performa lebih lama," paparnya.

Meski begitu, pola hidup ini bukan semata hanya bisa dilakukan oleh atlet. Ilmuwan olahraga di Universitas Birmingham, yang pernah bekerja dengan Liverpool FC, Dr Tom Brownlee, menekankan bahwa orang biasa juga bisa mencontoh.

"Mengatur pola tidur, nutrisi, latihan, dan istirahat dengan baik, dan di situlah seharusnya kita fokus," kata Brownlee.

Kemajuan Sport Science

Bugarnya atlet sampai usia 40-an tidak lepas dari kemajuan . Jika atlet mengalami cedera, pengobatan olahraga dan rehabilitasi telah mengalami kemajuan yang dramatis.

"Cedera seperti cedera ligamen krusiatum mungkin akan mengakhiri karier, bahkan mungkin 25 hingga 30 tahun yang lalu," kata Dr. Alex Ireland dari Manchester Metropolitan University.

"Sekarang, cedera seperti itu mungkin hanya membutuhkan waktu enam hingga sembilan bulan untuk pemulihan, dan banyak pemain yang kembali dan memiliki karier yang cemerlang setelah itu," tambahnya.

Menurut Brownlee, faktor pemulihan sangat penting karena seorang atlet bisa memaksimalkan adaptasi, bisa tetap berkarier.

"Jika Anda belum pulih sepenuhnya, Anda tidak bisa langsung berlatih sekeras itu lagi keesokan harinya," katanya.

Selain itu, dengan penggunaan pelacak GPS, para ilmuwan olahraga dapat mengukur tidak hanya seberapa jauh seorang pemain telah berlari, tetapi juga berapa banyak sprint, akselerasi, dan deselerasi yang telah mereka lakukan. Ini akan membantu memahami bagaimana performa atlet seiring bertambahnya usia.

"Artinya, jika seorang atlet yang lebih tua telah melakukan banyak gerakan eksplosif, mereka dapat mengidentifikasi kapan sebaiknya mengurangi intensitas latihan, atau berlatih lebih banyak," kata Hough.

Meski begitu, ilmuwan sepakat bahwa penurunan kinerja fisik seiring bertambahnya usia tidak dapat dihindari. Hal yang membedakan atlet seperti Ronaldo dan bukan adalah bagaimana kerja keras dalam mempertahankan performa tetap dijaga.

"Keterlibatan dalam kerja keras dan aktivitas yang menantang ini merupakan prediktor yang jauh lebih baik untuk mempertahankan performa daripada usia," tutur Dr Lorcan Daly, seorang ahli fisiologi di Universitas Teknologi Shannon di Irlandia.

fahri zulfikar
Jurnalis detikcom. Bergabung dengan detikcom sejak 2019. Aktif meliput isu-isu pendidikan, riset & analisis, concern terhadap isu iklim dan lingkungan, serta menyukai dunia sepak bola. Kini jadi penulis buku.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.