Penyebab 2 Calon Manajer Kopdes Meninggal Saat Latihan Militer, Alami Heat Stroke dan Henti Jantung
Angel aginta sembiring June 24, 2026 09:27 PM

TRIBUN-MEDAN.COM – Inilah penyebab dua calon manajer Kopdes Merah Putih meninggal saat pelatihan militer.

Adapun dua calon manajer Kopdes Merah Putih bernama Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil).

Anisa Muyassaroh mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Sementara Yonanda Muhammad Taufiq, dilaporkan meninggal setelah mengikuti pelatihan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Sumatera Selatan.

Keduanya meninggal dunia saat menjalani pelatihan militer yang merupakan bagian dari proses rekrutmen.

Kabar itu dibenarkan oleh Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI Rico Rico Sirait.

Baca juga: Kapolres Batu Bara dan Asahan Tabur Bunga, Mengenang Jejak Perjuangan Para Pahlawan

Melalui siaran pers pada Selasa (23/6/2026), Rico Sirait menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya dua calon pengelola Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan tersebut.

“Kemhan RI menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya 2 peserta program SPPI KDKMP dan KNMP Tahun 2026 yang sedang mengikuti Latsarmil di satuan pendidikan TNI,” kata Rico melansir Kompas.com.

Rico menyebut peserta pertama yang meninggal dunia bernama Anisa Muyassaroh.

Anisa mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan.

Anisa disebut mengalami gangguan kesehatan pada (18/06/2026). Berdasarkan keterangan medis, Anisa disebut mengalami heat stroke. 

Heatstroke adalah kondisi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu secara drastis hingga mencapai 40°C atau bahkan lebih. 

Heatstroke ditandai dengan berbagai macam gejala dan perlu diatasi dengan cepat agar penderitanya tidak hilang kesadaran atau koma.

“(Anisa) mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 dan telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit."

Baca juga: Siswa SD yang Bunuh Ibu Kandung di Medan Divonis 5 Bulan Pendampingan Kemensos

"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke,” ujar Rico.

Sementara itu, peserta kedua bernama Yonanda Muhammad Taufiq. Ia mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklatad), Baturaja.

Rico menyebut Taufiq mengalami penurunan kondisi kesehatan pada (17/06/2026). Ia dikabarkan meninggal dunia akibat henti jantung.

Henti jantung adalah kondisi darurat medis ketika jantung tiba-tiba berhenti berdetak dan memompa darah ke seluruh tubuh.

“(Taufiq) mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026 dan telah mendapatkan penanganan oleh tenaga kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit."

"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest (henti jantung),” ungkap dia.

Baca juga: Kapolres Pematangsiantar Pimpin Tabur Bunga, Meneguhkan Makna Pengabdian di Hari Bhayangkara

Kodam Mulawarman Berduka

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) VI/Mulawarman, Kolonel Inf Gatot Teguh Waluyo menyampaikan rasa duka cita mendalam atas tragedi yang menimpa salah satu peserta didik tersebut.

"Kami dari Kodam VI/Mulawarman mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan dan keluarga diberi ketabahan serta kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Kita tentu tidak berharap hal ini terjadi," ujar Gatot, Selasa (23/6/2026).

Gatot mengklarifikasi isu yang beredar di media sosial mengenai porsi latihan berat selama Diklat.

Ia menegaskan bahwa rangkaian kegiatan yang diikuti korban saat itu minim aktivitas fisik berat dan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan.

"Kami garis bawahi, kegiatan yang dilaksanakan tidak melibatkan kegiatan fisik yang dalam artian dominan. Pola latihannya dominan pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas," jelasnya.

Pihak Kodam juga memastikan seluruh instruktur, pelatih, unsur pendamping, hingga tim kesehatan selalu melekat memberikan pengawasan ketat di manapun peserta didik berada selama masa diklat.

Lebih lanjut, Gatot menerangkan bahwa prosedur kedaruratan medis di lapangan telah dilaksanakan secara cepat dan tepat begitu korban menunjukkan gejala sakit.

Ia menjelaskan, evakuasi dilakukan melalui tiga tahapan penanganan.

Yang pertama pemeriksaan awal secara langsung oleh tim medis yang bersiaga di lapangan.

Setelah itu korban langsung dilarikan ke Klinik Kesehatan internal Dodikjur Manggar untuk mendapatkan perawatan intensif.

"Karena melihat perkembangan kondisi korban yang terus menurun dan tidak membaik, tim medis langsung merujuk korban ke Rumah Sakit Dr. R. Hardjanto (RS Tentara) Balikpapan," sebut Gatot.

"Prosedur penanganan pada saat kejadian sudah dilaksanakan dengan tepat. Saat ini kami masih menunggu hasil dari pendalaman tindak lanjut terhadap kejadian yang menyebabkan satu siswi ini meninggal dunia," tambah Gatot.

Terkait pengurusan jenazah, Kodam VI/Mulawarman memastikan bertanggung jawab penuh secara institusi.

*/tribun-medan.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.