SRIPOKU.COM, PALEMBANG – PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) menggelar pelatihan teknis panen dan pascapanen kelapa sawit bagi 96 petani sawit asal Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin.
Kegiatan yang berlangsung pada 22–26 Juni 2026 di Palembang itu merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026.
Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas petani dalam menerapkan standar panen yang benar, menekan kehilangan hasil, menjaga mutu TBS, serta meningkatkan rendemen minyak sawit.
Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Ahli Muda sekaligus Ketua Tim Pemberdayaan dan Peningkatan Kapabilitas Ditjenbun, Tulus Tri Margono, mengatakan peningkatan kualitas sumber daya manusia petani menjadi langkah mendasar untuk meningkatkan produktivitas perkebunan sawit rakyat yang hingga kini masih belum optimal.
Baca juga: Harga TBS Sawit Sumsel Periode II Juni Naik Jadi Rp 3.704 per Kilogram, Petani Sawit Sumringah
“Produktivitas kebun sawit rakyat saat ini masih berkisar 2–3 ton per hektare per tahun, sementara potensi optimal dapat mencapai 7–8 ton per hektare per tahun,” kata Tulus kepada Sripoku.com, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, salah satu penyebab kesenjangan produktivitas tersebut adalah masih terbatasnya pemahaman teknis petani, terutama pada tahapan panen dan pascapanen.
“Potensi kita besar, tetapi belum sepenuhnya dimaksimalkan. Selain dukungan pupuk, alat, dan infrastruktur, pengetahuan petani menjadi fondasi utama agar investasi pemerintah bisa berdampak nyata,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, M. Ichwansyah, menegaskan bahwa panen bukan sekadar tahap akhir dalam budidaya kelapa sawit, melainkan momentum paling menentukan hasil akhir produksi.
“Panen yang tepat berarti mengambil buah pada tingkat kematangan optimal dengan kerusakan seminimal mungkin. Salah panen bisa berdampak langsung pada mutu tandan buah segar (TBS), rendemen minyak, hingga harga jual petani,” ujarnya.
Ichwansyah menambahkan, pemahaman mengenai ciri-ciri kematangan buah, pengelolaan brondolan, serta kecepatan distribusi hasil panen menjadi aspek penting yang harus dikuasai petani.
Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) di bawah RPN, Dr. Winarna, menegaskan bahwa hasil riset dan inovasi teknis harus terus ditransfer kepada petani agar dapat diterapkan langsung di lapangan.
Baca juga: Komisi IV DPR RI Puji Ketegasan Menteri Amran: Harga TBS Sawit, Telur, dan Ayam Mulai Naik
“Kualitas TBS ditentukan saat panen. Kesalahan dalam menentukan tingkat kematangan, kehilangan brondolan, maupun keterlambatan pengangkutan dapat menurunkan rendemen dan nilai jual. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan petani memiliki keterampilan praktis untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan secara berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Perizinan dan Penyuluhan Perkebunan Dinas Perkebunan Musi Banyuasin, Sunarso, turut mengapresiasi pelatihan tersebut. Menurutnya, peningkatan kapasitas petani pada sektor panen dan pascapanen merupakan solusi konkret untuk memperbaiki kualitas produksi sawit rakyat.
Sebagai bagian dari pembelajaran berbasis praktik, para peserta juga dijadwalkan mengikuti kunjungan lapang ke PTPN IV pada 25 Juni 2026 untuk melihat langsung penerapan sistem panen yang efektif dan efisien di lapangan.
Melalui kolaborasi antara RPN, BPDPKS, dan Ditjenbun, pelatihan ini diharapkan menjadi investasi jangka panjang dalam memperkuat kompetensi petani, meningkatkan kualitas TBS, serta memperkuat daya saing sawit rakyat secara berkelanjutan.