Iran Tegas Tolak Negosiasi Rudal Balistik, Presiden Pezeshkian Beri Tanggapan
Tommy Kurniawan June 24, 2026 09:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa program rudal balistik negaranya tidak akan pernah dijadikan bahan tawar-menawar dalam perundingan damai maupun diplomasi internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian saat menerima kunjungan resmi Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, pada Selasa (23/6/2026).

Dalam pidatonya, Presiden Iran menekankan bahwa sektor pertahanan merupakan garis merah yang tidak dapat dinegosiasikan oleh pihak mana pun.

"Iran tidak akan mengorbankan keamanan nasionalnya di bawah tekanan pihak luar," tegas Pezeshkian seperti dikutip dari Iranian Students' News Agency (ISNA).

Menurutnya, keputusan mempertahankan program rudal balistik didasari kondisi keamanan kawasan Timur Tengah yang masih dipenuhi konflik dan ancaman militer.

Pezeshkian menilai kemampuan pertahanan menjadi faktor utama untuk menjaga kedaulatan negara sekaligus melindungi rakyat Iran dari berbagai bentuk tekanan asing.

Ketegangan Regional Jadi Alasan Iran Perkuat Pertahanan
Pernyataan keras Teheran muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Iran sebelumnya menuding Amerika Serikat dan Israel terlibat dalam serangan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa di wilayahnya selama konflik berlangsung.

Pemerintah Iran mengklaim sedikitnya 168 anak meninggal dunia akibat serangan tersebut.

Selain korban sipil, sejumlah pejabat pemerintahan, komandan militer, serta tokoh penting Iran juga dilaporkan menjadi korban dalam rangkaian konflik yang terjadi.

Situasi tersebut, menurut pemerintah Iran, semakin memperkuat alasan negara itu mempertahankan dan mengembangkan kemampuan pertahanannya, termasuk program rudal balistik.

Bagi Teheran, rudal balistik bukan hanya alat pertahanan militer, tetapi juga simbol kedaulatan dan kemampuan negara menjaga stabilitas nasional.

Pakistan Pastikan Rudal Iran Tak Dibahas dalam Kesepakatan

Di tengah munculnya berbagai spekulasi internasional, pemerintah Pakistan turut menegaskan bahwa isu rudal balistik Iran tidak pernah menjadi bagian dari nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang ditandatangani kedua negara.

Penegasan tersebut sekaligus membantah berbagai asumsi yang menyebut kemampuan militer Iran akan menjadi bagian dari agenda negosiasi atau kesepakatan regional.

Islamabad memastikan kerja sama yang dibangun dengan Teheran tidak menyentuh pembahasan mengenai pembatasan program pertahanan Iran.

Sikap Pakistan itu dinilai semakin memperkuat posisi Iran yang sejak awal menolak campur tangan pihak luar terhadap kebijakan pertahanan nasionalnya.

Iran Tetap Buka Jalur Diplomasi

Meski bersikap tegas soal program rudal balistik, Iran menegaskan tetap berkomitmen menjalankan berbagai kesepakatan internasional yang telah disepakati sebelumnya.

Pemerintah Iran menyatakan diplomasi tetap menjadi salah satu instrumen utama dalam menjaga hubungan dengan negara-negara lain.

Namun Teheran menekankan bahwa komitmen terhadap diplomasi tidak berarti mengurangi kemampuan pertahanan negara.

Iran menegaskan akan terus memenuhi kewajiban internasional selama pihak lain juga menghormati dan menjalankan komitmen yang sama.

Menurut Presiden Pezeshkian, prinsip saling menghormati dan kepatuhan terhadap perjanjian internasional menjadi kunci untuk menjaga stabilitas kawasan serta mencegah konflik yang lebih luas.

Karena itu, Iran menyatakan tetap membuka ruang dialog dan kerja sama internasional, namun tidak akan mengorbankan kepentingan strategis yang berkaitan dengan keamanan dan kedaulatan negaranya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.