WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Di tengah hiruk-pikuk pusat Ibu Kota, Stasiun Gambir terus menjadi salah satu simpul transportasi paling penting di Indonesia. Tahun ini, stasiun yang berada di kawasan Jakarta Pusat tersebut menandai perjalanan panjangnya selama 155 tahun, dari sebuah halte kecil pada era kolonial hingga menjadi gerbang utama layanan kereta api jarak jauh PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Keberadaan Stasiun Gambir tidak hanya merekam perkembangan transportasi perkeretaapian nasional, tetapi juga menjadi saksi perubahan wajah Jakarta dari masa ke masa.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Stasiun Gambir memiliki nilai historis yang kuat karena tumbuh seiring perkembangan kota dan layanan kereta api di Indonesia.
“Stasiun Gambir adalah ruang perjalanan yang menyimpan banyak lapisan sejarah. Dari halte kecil di kawasan Koningsplein, berkembang menjadi stasiun besar, lalu bertransformasi menjadi stasiun layang modern yang sampai hari ini menjadi salah satu gerbang utama perjalanan kereta api jarak jauh,” ujar Anne dalam keterangannya.
Berdasarkan data KAI, jumlah pelanggan yang naik dan turun di Stasiun Gambir selama periode Januari hingga Mei 2026 mencapai 2.603.087 pelanggan. Angka tersebut meningkat 11,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 2.325.271 pelanggan.
Dari jumlah tersebut, pelanggan yang berangkat dari Stasiun Gambir mencapai 1.342.160 orang atau naik 11,86 persen dibandingkan Januari-Mei 2025 sebanyak 1.199.828 pelanggan.
Baca juga: Libur Sekolah, 171.541 Penumpang Tiba di Wilayah KAI Daop 1 Jakarta
Sementara itu, pelanggan yang tiba di Stasiun Gambir mencapai 1.260.927 orang atau meningkat 12,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 1.125.443 pelanggan.
Sepanjang tahun 2025, total pelanggan yang naik dan turun melalui Stasiun Gambir tercatat mencapai 5.990.911 orang.
Menurut Anne, angka tersebut menunjukkan peran penting Gambir sebagai gerbang perjalanan masyarakat dari dan menuju pusat Jakarta, baik untuk kepentingan pekerjaan, bisnis, pemerintahan, pendidikan, wisata, maupun kunjungan keluarga.
Sejarah Stasiun Gambir bermula pada tahun 1871 saat masih bernama Halte Koningsplein. Kala itu, fasilitas tersebut menjadi bagian dari perkembangan awal jaringan kereta api di kawasan Batavia.
Seiring berkembangnya aktivitas kota, halte tersebut kemudian ditingkatkan menjadi Stasiun Weltevreden pada 1884.
Memasuki dekade 1930-an, stasiun kembali mengalami pembaruan dan dikenal sebagai Batavia Koningsplein dengan mengusung gaya arsitektur Art Deco yang menjadi ciri khas bangunan kolonial saat itu.
Setelah Indonesia merdeka, nama Gambir semakin melekat sebagai identitas stasiun yang berada di pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat Jakarta.
Transformasi besar kembali terjadi pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an melalui pembangunan jalur layang Manggarai–Jakarta Kota.
Pada 5 Juni 1992, bangunan baru Stasiun Gambir diresmikan sebagai stasiun layang dengan desain atap bergaya joglo dan dominasi warna hijau yang hingga kini menjadi ciri khasnya.
“Transformasi Gambir menunjukkan bahwa stasiun selain tempat naik dan turun pelanggan, juga menjadi bagian dari cara kota menata mobilitas. Ketika layanan semakin mudah, perjalanan masyarakat menjadi lebih efisien, aktivitas ekonomi ikut terdorong, dan pusat kota semakin terhubung dengan berbagai daerah,” kata Anne.
Saat ini, Stasiun Gambir difokuskan sebagai stasiun keberangkatan dan kedatangan kereta api jarak jauh. Posisi tersebut menjadikannya sebagai etalase layanan antarkota KAI yang melayani perjalanan menuju berbagai kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur.
Seiring perkembangan zaman, fasilitas di Stasiun Gambir juga terus diperbarui untuk meningkatkan kenyamanan pelanggan.
Selain ruang tunggu, area komersial, pusat informasi, musala, toilet, area parkir, dan layanan pelanggan, stasiun ini kini dilengkapi fasilitas modern seperti Shower & Locker, Rail Transit Suite, ruang tunggu premium, hingga beragam tenant makanan dan minuman.
Di era digital, pelanggan juga dapat memesan tiket melalui aplikasi Access by KAI dan kanal resmi KAI, melakukan check-in mandiri, serta memperoleh informasi perjalanan secara lebih cepat dan praktis.
Anne menegaskan KAI terus berupaya menghadirkan pengalaman perjalanan yang nyaman bagi pelanggan sejak tiba di stasiun hingga naik ke dalam kereta.
“Bagi sebagian orang, Gambir adalah awal perjalanan kerja. Bagi yang lain, Gambir adalah jalan pulang ke keluarga. Ada juga yang datang untuk berwisata, menghadiri agenda penting, atau menjemput orang terdekat. Karena itu, KAI terus menjaga agar pengalaman pelanggan di Stasiun Gambir terasa aman, tertib, bersih, mudah dipahami, dan nyaman,” ujarnya.
KAI juga mengimbau pelanggan untuk merencanakan perjalanan dengan baik, memastikan data diri sesuai tiket, datang lebih awal ke stasiun, serta memanfaatkan aplikasi Access by KAI untuk mengelola kebutuhan perjalanan.
“Gambir telah melewati banyak zaman, tetapi perannya tetap sama yaitu menghubungkan pelanggan dengan tujuan, keluarga, pekerjaan, dan harapan. KAI akan terus merawat nilai sejarahnya, memperkuat layanannya, dan menjaga Gambir sebagai gerbang perjalanan yang membanggakan bagi Indonesia,” tutup Anne.