POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Geliat aktivitas perdagangan di Pasar Lipat Kajang Manggar, Desa Baru, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, kian meredup. Lorong-lorong pasar hanya menyisakan tumpukan barang dagangan yang tak kunjung disentuh pengunjung.
Kondisi pilu ini dirasakan langsung oleh Amir (40), seorang pedagang yang sudah empat tahun terakhir menggantungkan hidupnya dari berjualan bumbu dapur dan sayur-mayur di pasar tersebut.
Amir menilai lesunya pasar kali ini menjadi yang terparah sepanjang dirinya berjualan. Jika pada tahun-tahun sebelumnya masa sepi hanya bertahan sekitar satu pekan, kali ini penurunan justru terjadi secara berangsur-angsur tanpa ada tanda-tanda pemulihan.
“Kalau tahun-tahun lalu sepi paling semingguan saja, habis itu ramai lagi. Tapi tahun ini sepinya berangsur-angsur terus begini. Memang sepi sekali, Bang,” ujar Amir, Rabu (24/6/2026).
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan harian Amir yang menurun drastis. Ia mengatakan omzet penjualannya merosot tajam hingga 40 persen dalam kurun waktu dua sampai tiga minggu terakhir.
“Omzet turun jauh. Biasanya per hari pendapatan bisa di angka 10 sampai 12, sekarang untuk dapat 7 atau 8 saja susah sekali. Semua sektor kena dampaknya,” ucapnya.
Satu-satunya waktu ketika Amir bisa sedikit bernapas adalah saat akhir pekan. Hari Sabtu dan Minggu kini menjadi harapan terakhirnya karena bertepatan dengan momen warga lokal berbelanja kebutuhan mingguan.
Namun, begitu hari bergeser ke Senin, kesunyian kembali menyelimuti lapaknya.
Kelesuan ini semakin nyata ketika melihat perubahan perilaku para pembeli subuh, yang mayoritas merupakan pedagang keliling atau penggerai yang menjajakan sayur ke pelosok-pelosok kampung di Belitung Timur. Akibat sepinya permintaan di perkampungan, para penggerai ini terpaksa memangkas anggaran belanja modal mereka.
“Penggerai yang subuh-subuh biasa belanja sampai Rp400 ribu atau Rp500 ribu per hari, sekarang tidak berani lagi. Kalau hari ini belanja Rp500 ribu, besoknya mereka cuma belanja Rp200 ribu atau Rp300 ribu karena barang di pelosok tidak terlalu laku. Mereka hanya menambah barang yang kurang dari hari sebelumnya,” ungkap Amir.
Tak hanya itu, ibu-ibu rumah tangga yang biasanya meramaikan pasar pada pagi hari kini juga berkurang drastis. Konsumen yang datang hanya membeli bumbu dapur dalam jumlah sangat terbatas, sekadar untuk kebutuhan memasak satu hari.
Menurunnya omzet penjualan bumbu dinilai Amir sebagai bukti anjloknya daya beli masyarakat. Hal itu, menurutnya, dipengaruhi lesunya sektor perekonomian utama daerah, seperti pertambangan timah dan minimnya lapangan pekerjaan di Belitung Timur.
“Ekonomi turun ini dampaknya sampai ke urusan makan masyarakat. Kalau orang lagi punya rezeki banyak, mereka pasti mau beli bumbu macam-macam untuk masak ini-itu. Tapi kalau keuangannya tidak cukup seperti sekarang, warga memilih hemat,” katanya.
Amir berharap ada perbaikan perputaran ekonomi daerah yang mampu membuka kembali peluang pendapatan bagi para pencari kerja lokal, terutama di sektor komoditas unggulan daerah.
“Harapan saya tentu ekonomi daerah bisa kembali maju. Kalau pencari kerja rezekinya banyak, otomatis belanja mereka ke pasar juga banyak. Roda ekonomi di pasar ini baru bisa berputar kalau masyarakat punya uang,” tutupnya.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)