SURYA.CO.ID, SURABAYA - Politisi Partai Demokrat sekaligus Anggota DPRD Surabaya, Herlina Harsono Njoto, resmi meraih gelar doktor setelah menyelesaikan ujian terbuka Program Doktor Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jawa Timur.
Dalam disertasinya, Herlina membedah komitmen afektif kader partai politik untuk mengungkap faktor pembentuk loyalitas dalam organisasi politik.
Sidang terbuka yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah hingga akademisi.
Di antara yang hadir tampak Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Sekretaris DPD Demokrat Jatim H. Mugianto, serta Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri.
Promotor Herlina, Prof. Dr. Suryanto MSi, Psikolog, memberikan apresiasi tinggi terhadap capaian ini.
Menurutnya, karya disertasi tersebut lahir dari paduan pengalaman panjang Herlina di dunia politik praktis dengan ketajaman analisis akademik.
Suryanto menilai Herlina memiliki keunggulan, karena tidak mengamati dunia politik dari luar.
Ia melihat bahwa kehidupan partai tidak hanya ditentukan oleh struktur formal, melainkan juga faktor psikologis.
"Bertahan tidak selalu berarti mencintai organisasi. Seseorang dapat bertahan karena merasa tidak memiliki pilihan atau mempertimbangkan kerugian, bukan karena keterikatan emosional," ujar Suryanto pada Senin (22/6/2026).
Dalam paparannya, Herlina menegaskan bahwa komitmen emosional kader partai tidak terutama dibangun melalui hubungan transaksional. Berdasarkan temuannya, faktor yang lebih menentukan adalah:
Herlina menjelaskan, bahwa temuan ini memperluas Social Exchange Theory. Di Indonesia, relasi kuasa yang bersifat patronase dan ketimpangan distribusi sumber daya membuat pertukaran sosial tidak selalu menjamin loyalitas yang kuat.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam psikologi politik Indonesia, komitmen kader dibangun oleh seberapa kuat kader merasa menjadi bagian dari partai," tambahnya.
Menanggapi pertanyaan penguji terkait proporsi responden dari Partai Demokrat sebesar 27,9 persen, Herlina mengakui adanya researcher proximity bias.
Namun, ia menegaskan bahwa riset tersebut menguji model relasional antar konstruk, bukan perbandingan antarpartai.
"Temuan bahwa identitas sosial menjadi prediktor terkuat berakar pada karakteristik politik Indonesia yang figur-sentris. Ini adalah potret sah tentang mekanisme komitmen afektif secara agregat, bukan potret satu partai saja," tegasnya.
Bagi Herlina, gelar ini merupakan awal dari tanggung jawab besar untuk terus berkontribusi pada pengembangan ilmu psikologi politik di Tanah Air.
Penelitian Herlina Harsono Njoto ini, memberikan kontribusi signifikan bagi pemahaman dinamika loyalitas kader di tengah kompleksitas politik Indonesia.