POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Masakan khas NTT dari ulat bambu mengesankan para duta besar (dubes) negara sahabat yang hadir dalam jamuan santap malam pembuka Kunskring Dialogue, forum ekonomi restoratif yang berlangsung pada 24-26 Juni 2026 di Jakarta.
Masakan yang mereka santap, Fate Peri merupakan makanan asli NTT, yakni ulat bambu yang disangrai dan dibumbui hanya dengan garam. Makanan tinggi protein itu sangat umum di daerah Bajawa, Flores. Mereka takjub dan terkesan.
Kelima dubes itu , yakni Dubes Singapura Kwok Fook Seng, Dubes Inggris Dominic Jermey, Dubes Mesir Yasser Elshemy, Dubes Jerman Ralf Beste, dan Dubes Italia Roberto Colamine menyatakan hidangan khas Pulau Flores tersebut memiliki cita rasa unik, bahkan lezat di lidah Dubes Kwok Fook Seng.
Baca juga: Mantra: Masakan Nusantara, Melihat Kekayaan dari Kearifan Lokal Indonesia
"Saya mencobanya dan rasanya memang unik, tetapi memang lezat," kata Dubes Kwok Fook Seng dikutip pada Rabu (24/6/2026).
Dubes Inggris Dominic Jermey menyampaikan apresiasinya atas undangan ke jamuan tersebut.
"Untuk para Mama Wogo yang telah menyiapkan hidangan ini hanya ada satu kata: rasanya mantul," pujinya dengan Bahasa Indonesia yang fasih.
Adapun jamuan makan malam Ambassadors' Dinner berlangsung pada Selasa (23/6) di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, sebagai bagian dari pameran wastra NTT bertajuk Weaving Wonders serta Forum Ekonomi Restoratif Kunstkring Dialogue.
Hidangan itu disiapkan para Mama Wogo, nama sebuah kampung tradisional di Bajawa, Flores.
Selain aktif melakukan kegiatan konservasi menggunakan bambu, para mama juga aktif mengelola Kebun Pangan Perempuan sebagai sumber pangan lokal bergizi, serta melakukan pelestarian kuliner tradisional.
Forum menghadirkan sejumlah wakil menteri (wamen), akademisi, praktisi, serta komunitas adat.
Hadir pula Istri Dubes Slowakia Laura Ferko, Wamen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan, Wamen Pariwisata Ni Luh Puspa, Wamen Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Isyana Bagoes Oka, serta Wamen Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumawati.
"Kalau pada pameran Weaving Wonders kita tampilkan betapa tangguhnya perempuan NTT dalam menghadapi berbagai tantangan, (seperti) kemiskinan, kurangnya akses pendidikan, stunting, dan kekerasan rumah tangga. Bahkan saat menghadapi tantangan berlapis seperti itu mereka tetap mampu menghasilkan karya-karya indah. Maka pada Kunstkring Dialogue, kita menyusun langkah bersama banyak pihak untuk berkolaborasi mendampingi dan bekerja bersama para perempuan ini," ujar Monica Tanuhandaru, Ketua Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL).
Weaving Wonders dan Kunstkring Dialogue merupakan kolaborasi YBLL dengan Penabulu Oxfam dan Yayasan Uma Nusantara. Ketiga organisasi ini bekerja di tingkat akar rumput untuk memberdayakan masyarakat pedesaan di NTT.
"Kehadiran para duita besar ini merupakan upaya kita untuk memperluas jaringan dukungan bagi para mama dan membuka jalan untuk membawa karya-karya mereka ke dunia internasional," tegas Wamen PPPA Veronica Tan
Forum akan diisi sejumlah sesi diskusi yang membahas ekonomi restoratif, energi terbarukan, pariwisata berkesadaran, dan kepemimpinan perempuan dalam konservasi dan ekonomi desa. (cnn)