Penjelasan IDAI Mengenai Perbedaan Gumoh Normal dan Gejala GERD pada Bayi
Cak Sur June 25, 2026 01:32 AM

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Banyak orang tua sering kali merasa khawatir saat bayi mereka mengalami gumoh, bahkan menganggapnya sebagai tanda penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).

Padahal, menurut para ahli dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sebagian besar kasus gumoh pada bayi adalah kondisi normal yang akan membaik seiring bertambahnya usia.

Mengapa Bayi Sering Gumoh?

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menjelaskan bahwa sistem saluran cerna bayi masih dalam tahap perkembangan. Hal ini menyebabkan terjadinya refluks atau aliran balik isi lambung yang keluar melalui mulut secara pasif, yang lazim disebut sebagai gumoh atau regurgitasi.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroenterohepatologi, dr. Sri Kesuma Astuti, menambahkan bahwa pada bayi, katup atau sfingter esofagus bawah belum bekerja sempurna.

Selain itu, pola makan cair dan posisi bayi yang lebih sering terlentang, membuat gumoh menjadi fenomena umum yang dialami sekitar 40 persen bayi berusia 2 hingga 5 bulan.

Perbedaan Gumoh Normal dan GERD

Penting bagi orang tua untuk membedakan antara gumoh fisiologis (normal) dengan GERD yang sudah termasuk kategori penyakit. Berikut poin penting perbedaannya:

  • Gumoh (Regurgitasi): Terjadi secara pasif tanpa usaha, isi lambung keluar tanpa kontraksi tubuh.
  • Muntah: Proses aktif yang melibatkan kontraksi tubuh secara jelas untuk mengeluarkan isi lambung.
  • GERD: Refluks yang telah menimbulkan gejala mengganggu, menyebabkan komplikasi pada kerongkongan, atau menghambat laju tumbuh kembang anak.

Dokter Soma, sapaan akrab dr. Sri Kesuma Astuti, menegaskan bahwa tubuh bayi sebenarnya memiliki mekanisme perlindungan alami seperti air liur dan gerakan peristaltik yang menetralkan asam lambung.

Oleh karena itu, kerusakan dinding kerongkongan pada bayi relatif jarang terjadi.

Edukasi untuk Mencegah Overdiagnosis

Dokter Piprim menekankan pentingnya edukasi agar tidak terjadi overdiagnosis. Tidak semua bayi yang gumoh membutuhkan penanganan medis atau obat-obatan tertentu.

Kesalahan dalam memberikan diagnosa atau pengobatan justru tidak efektif bagi kesehatan anak.

Orang tua diimbau untuk terus memantau tumbuh kembang si kecil. Jika gumoh disertai dengan tanda-tanda bahaya (red flags) seperti berat badan yang tidak naik atau gejala yang terus berlanjut hingga usia di atas 12-19 bulan, segera konsultasikan kepada dokter spesialis anak agar mendapatkan penanganan yang tepat dan akurat.

Kesimpulan: Gumoh pada bayi mayoritas merupakan proses perkembangan fisiologis normal yang akan hilang seiring bertambahnya usia, sehingga orang tua tidak perlu panik selama tumbuh kembang anak tetap berjalan optimal dan tidak ditemukan gejala GERD yang serius.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.