Gelandang Inggris, Jude Bellingham, menjadi pusat kontroversi baru di Piala Dunia setelah hasil imbang tanpa gol melawan Ghana pada Selasa lalu. Kamera televisi menangkap momen ketika Bellingham menutupi mulutnya saat berbicara dengan kapten Ghana, Jordan Ayew. Dengan adanya aturan baru FIFA terkait menutupi mulut yang sudah menyebabkan kartu merah pertama di turnamen ini, banyak penonton mempertanyakan mengapa bintang Inggris tersebut tidak mendapat hukuman.
Insiden itu terjadi dalam laga yang berakhir 0-0 antara Inggris dan Ghana di Boston, hasil yang membuat Grup L tetap terbuka menjelang pertandingan terakhir fase grup.
Interaksi Bellingham dengan Ayew langsung menarik perhatian karena FIFA telah memperkenalkan peraturan baru menjelang Piala Dunia 2026 yang memungkinkan pemain dikeluarkan dari lapangan jika mereka menutupi mulut saat berhadapan dengan lawan.
Namun, kata kunci dalam aturan tersebut adalah "konfrontasi".
Apa sebenarnya isi aturan baru FIFA tentang menutupi mulut?
Aturan ini diperkenalkan setelah Presiden FIFA, Gianni Infantino, mendorong penerapan langkah-langkah yang lebih ketat menyusul insiden yang melibatkan pemain sayap Benfica, Gianluca Prestianni, yang dijatuhi larangan bermain enam laga oleh UEFA karena tindakan homofobik terhadap penyerang Real Madrid, Vinícius Júnior, dalam pertandingan Liga Champions awal tahun ini.
Menjelang Piala Dunia, Kepala Wasit FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan bahwa tindakan menutupi mulut itu sendiri tidak dilarang.
“Pemain masih boleh menutupi mulut dengan tangan atau kaus karena mungkin mereka sedang berbincang dengan teman,” jelas Collina sebelum turnamen dimulai.
“Adalah hal yang normal untuk berbicara sebelum, selama, atau setelah pertandingan.
“Jadi, jika percakapan itu bersifat ramah, mereka tetap bisa melakukannya tanpa masalah.
“Namun, ketika percakapan itu bersifat konfrontatif, menutupi mulut berarti kamu mungkin sedang melakukan sesuatu yang salah, dan sanksinya adalah kartu merah.”
Pembedaan ini menjadi hal yang krusial dalam kasus Bellingham.
Mengapa Bellingham tidak dihukum
Meski gambar Bellingham yang berbicara dengan Ayew tersebar luas, tidak ada indikasi bahwa percakapan tersebut bersifat agresif atau bermusuhan.
Sumber yang dikutip oleh ESPN menyebutkan bahwa pembicaraan antara Bellingham dan kapten Ghana itu tidak dianggap mengandung unsur agresi, sehingga insiden tersebut tidak memenuhi kriteria untuk tindakan disipliner di bawah peraturan baru FIFA.
Pemain, pelatih, dan bahkan wasit sering terlihat menutupi mulut mereka selama percakapan sepanjang turnamen ini. Kekhawatiran FIFA secara khusus terfokus pada situasi yang melibatkan perdebatan, konfrontasi, atau potensi penggunaan bahasa yang kasar.
Akibatnya, baik wasit Hector Said Martinez Sorto maupun asisten wasit video tidak menganggap insiden tersebut layak untuk ditinjau ulang.
Perbedaan dengan kartu merah Miguel Almirón
Perbandingan yang paling sering muncul adalah dengan kasus penyerang Paraguay, Miguel Almirón, yang menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang dikeluarkan berdasarkan aturan baru ini.
Almirón diusir saat Paraguay menghadapi Türkiye di Grup D setelah terlibat dalam konfrontasi panas dengan bek Turki, Mert Müldür.
Insiden tersebut terjadi setelah Isidro Pitta dari Paraguay terjatuh akibat tekel dari Ismail Yüksek, yang memicu keributan antar pemain kedua tim. Selama konfrontasi itu, Almirón menutupi mulutnya ketika berbicara kepada Müldür.
Setelah tinjauan VAR, para ofisial menilai situasi itu bersifat konfrontatif dan memberikan kartu merah.
Setelah insiden tersebut, Infantino menegaskan kembali sikap FIFA.
“Masalah menutupi mulut ini bagi kami adalah aturan yang sangat, sangat penting,” ujarnya.
“Ini tentang rasa hormat. Ini tentang contoh yang harus kita berikan.
“Jika kamu tidak punya hal yang perlu disembunyikan, kamu tidak akan menutupi mulutmu ketika berbicara dengan seseorang.
“Aturannya sudah dijelaskan dengan sangat jelas kepada semua pihak.”
Bellingham juga menanggapi insiden dengan bangku cadangan Ghana
Meski percakapan dengan Ayew dianggap tidak berbahaya, Bellingham juga terlibat dalam insiden lain selama pertandingan yang dimulai di babak pertama dan berlanjut ke babak kedua.
Gelandang Real Madrid itu terlibat dalam adu argumen panas dengan staf pelatih Ghana, termasuk pelatih kepala Carlos Queiroz dan asisten John Paintsil, setelah melakukan tekel keras terhadap bek Ghana, Jerome Opoku. Ketegangan awalnya muncul saat jeda babak pertama setelah tekel berbahaya tersebut, dan berlanjut ketika kedua kubu menunjukkan reaksi emosional sepanjang pertandingan.
Setelah pertandingan, Bellingham mengakui bahwa ia salah waktu dalam melakukan tekel tersebut, namun menegaskan bahwa ketegangan itu muncul karena intensitas pertandingan yang tinggi.
“Saya melakukan tekel yang bodoh, jujur saja. Saya mencoba merebut bola dan sedikit terlalu keras hingga mengenai pemainnya. Saya sudah berbicara dengan dia setelahnya, lalu para staf mereka berdiri mencoba membuat saya mendapat kartu kuning,” kata Bellingham.
“Jadi ya, saya pikir manajer mereka, saya baru sadar, ternyata dia adalah orang yang dulu melatih Manchester United [Carlos Queiroz]. Saya sangat menghormatinya, dan semuanya hanya bagian dari semangat kompetitif di lapangan.”