Jangan Nodai Suara Mahasiswa
Ratino Taufik June 25, 2026 06:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - KABAR mengejutkan datang dari demonstrasi mahasiswa yang digelar pada 15 Juni 2026. Sebuah fakta krusial terungkap: unjuk rasa yang selama ini dikenal murni tanpa mobilisasi paksa, apalagi bayaran, kini tercoreng.

Selama ini, suara mahasiswa dipandang sangat dipercaya karena murni mewakili hati nurani rakyat dan jauh dari kesan “demo pesanan”. Namun, pengakuan Ketua BEM Fakultas Hukum (FH) Universitas Bung Karno (UBK), Muhammad Abdimaludin, yang menerima uang sebesar Rp 20 juta usai berdemonstrasi dan bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, tentu sangat memalukan.

Pengakuan ini disampaikan dalam forum klarifikasi terbuka yang digelar oleh mahasiswa pada Senin (22/6) malam. Forum ini diadakan karena mahasiswa menuntut transparansi dari pengurus BEM yang sebelumnya bertemu dengan Wapres Gibran.

Sebelumnya, pertemuan dengan Wakil Presiden Gibran tersebut memicu banyak kecurigaan. Apalagi dalam video yang beredar, para mahasiswa yang hadir tampak gelagapan seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Kecurigaan makin menguat ketika Abdimaludin tidak hadir sejak awal forum klarifikasi. Setelah didesak hadir, barulah ia memberikan penjelasan.

Dan, terucaplah pengakuan yang menghebohkan itu. Dia mengaku menerima sejumlah uang dengan pesan agar kelompok mahasiswa memindahkan titik aksi dari depan Istana Negara ke Gedung DPR RI. Meski rencana pemindahan itu gagal dan mahasiswa tetap bertahan di Istana Negara, pengakuan tersebut tetap memicu kekecewaan mendalam dari mahasiswa yang mempertanyakan integritas pengurus organisasi mereka.

Akibat ulah oknum tersebut, publik menuntut harus diusut tuntas. Tidak boleh hanya selesai di sidang internal atau pengadilan terbuka kalangan kampus. Saat ini, Abdimaludin telah dinonaktifkan sebagai Ketua BEM FH UBK. Namun, pengakuan mengenai penerimaan uang tersebut harus ditelusuri hingga ke akarnya.

Siapa pelaku utama yang menyuruh memindahkan lokasi demo? Sangat mungkin ada aktor intelektual di balik semua ini.

Apalagi, Abdimaludin mengaku bahwa pengaturan uang dan instruksi pemindahan lokasi demo tersebut datang atas arahan alumni sesama organisasi kampus. Bahkan, dia sempat menyebut ada keterlibatan oknum aparat.

Meskipun pada akhirnya demonstrasi tetap berjalan di depan Istana Negara—tidak sesuai dengan harapan pihak pemberi uang—integritas gerakan telah ternoda karena uang tersebut telanjur diterima dan dibagikan kepada tujuh orang mahasiswa.

Noda dalam demonstrasi ini harus menjadi pelajaran berharga dan jangan sampai menjadi bumerang bagi gerakan mahasiswa selanjutnya. Jangan kendur, mahasiswa! Ulah segelintir oknum tidak bisa disamaratakan untuk seluruh gerakan. Adili oknumnya, tetap kritis, dan buktikan kepada publik bahwa idealisme mahasiswa tidak bisa dibeli! (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.