Oleh: Bruder Pio Hayon SVD
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan Katolik hari Kamis 25 Juni 2026.
Tema renungan katolik hari ini “Orang yang bijaksana”
Renungan katolik disiapkan untuk hari biasa pekan XII tahun A.
Hari biasa pekan XII tahun A dengan warna liturgi hijau.
Bacaan hari Kamis: BcE 2Raj 24:8-17; Mzm 79:1-2.3-5.8.9; Mat 7:21-29 dan BcO Ezr 9:1-9.15-10:5.
Baca juga: Renungan Katolik Kamis 25 Juni 2026, Masuk Surga: Melakukan Kehendak Tuhan
Yoyakhin berumur delapan belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan ia memerintah di Yerusalem selama tiga bulan. Nama ibunya ialah Nehusta binti Elnatan dari Yerusalem. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan ayahnya.
Pada waktu itu, orang-orang Nebukadnezar, raja Babel, maju menyerang Yerusalem dan kota itu dikepung. Nebukadnezar sendiri juga datang menyerang kota itu, sementara pasukannya mengepungnya.
Yoyakhin, raja Yehuda, keluar menemui raja Babel bersama ibunya, para pegawai, pembesar, dan pegawai istana. Raja Babel menangkap dia pada tahun kedelapan pemerintahannya.
Nebukadnezar mengambil segala barang perbendaharaan rumah TUHAN dan istana raja. Ia juga merobek emas dari semua perkakas emas yang dibuat Salomo di Bait TUHAN, sesuai dengan firman TUHAN.
Ia mengangkut penduduk Yerusalem ke dalam pembuangan: semua panglima, semua pahlawan yang gagah perkasa, sekitar sepuluh ribu orang tawanan, serta para tukang dan pandai besi. Tidak ada yang ditinggalkan kecuali orang-orang yang paling lemah dari rakyat negeri.
Yoyakhin juga diangkut ke Babel bersama ibunya, istri-istrinya, para pegawai istana, dan orang-orang berkuasa di negeri itu. Mereka dibawa sebagai orang buangan dari Yerusalem ke Babel.
Semua orang yang gagah perkasa, sekitar tujuh ribu orang, para tukang dan pandai besi sekitar seribu orang, serta para prajurit yang sanggup berperang juga dibawa ke Babel.
Kemudian raja Babel mengangkat Matanya, paman Yoyakhin, menjadi raja menggantikannya dan mengganti namanya menjadi Zedekia.
Mazmur Tanggapan: Mazmur Asaf: 79:1-5, 8-9
Ya Allah, bangsa-bangsa lain telah masuk ke dalam tanah milik-Mu, menajiskan bait kudus-Mu, dan membuat Yerusalem menjadi timbunan puing.
Mereka memberikan mayat hamba-hamba-Mu sebagai makanan kepada burung-burung di udara, dan daging orang-orang yang Kaukasihi kepada binatang-binatang liar di bumi.
Mereka menumpahkan darah orang-orang itu seperti air di sekeliling Yerusalem, dan tidak ada yang menguburkan mereka.
Kami menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi orang-orang di sekitar kami.
Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau murka terus-menerus, dan cemburu-Mu berkobar seperti api?
Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab kami sudah sangat lemah.
Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu. Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu.
Bait Pengantar Injil:
P: Alleluya
U: Alleluya
Bacaan Injil Katolik:
P: Inilah Injil Yesus Kristus karangan Santo Matius 7:21-29
U: Dimuliakanlah Tuhan
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!
Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Kemudian turunlah hujan, datanglah banjir, dan angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh karena didirikan di atas batu.
Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang bodoh yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
Kemudian turunlah hujan, datanglah banjir, dan angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”
Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.
P: Demikianlah Injil Tuhan
U: Terpujilah Kristus
Renungan Harian Katolik
“Orang yang bijaksana”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Hari ini kita diajak untuk merenungkan arti kebijaksanaan sejati. Bacaan pertama menyingkapkan kehancuran Yehuda karena raja dan umatnya tidak setia kepada Allah. Injil menegaskan bahwa kebijaksanaan sejati bukanlah sekadar mendengar firman, tetapi melaksanakannya. Orang bijaksana digambarkan sebagai yang membangun rumah di atas batu, kokoh menghadapi badai kehidupan.
Saudara-saudari terkasih.
Bacaan ini (2Raj. 24:8-17) ada kisah Raja Yoyakhin yang memerintah dengan lemah dan tidak setia, sehingga Yehuda jatuh ke tangan Babel. Kehancuran ini adalah akibat dari ketidaktaatan dan ketidaksetiaan kepada Allah. Bacaan ini menegaskan bahwa tanpa fondasi iman, bangsa maupun pribadi akan mudah runtuh. Dalam bacaan Injil (Mat. 7:21-29) Yesus menegaskan bahwa bukan setiap orang yang berseru “Tuhan, Tuhan” akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa. Orang bijaksana adalah yang mendengar dan melaksanakan firman, sehingga hidupnya kokoh seperti rumah di atas batu. Sebaliknya, orang bodoh adalah yang hanya mendengar tanpa melaksanakan, sehingga hidupnya rapuh. Poin refleksi kita adalah “Kesetiaan sebagai fondasi”: Kehancuran Yehuda menunjukkan bahwa tanpa kesetiaan kepada Allah, hidup mudah runtuh. Kesetiaan adalah fondasi yang membuat kita kuat menghadapi tantangan. “Melaksanakan firman”: Yesus menekankan bahwa kebijaksanaan sejati bukan hanya mendengar firman, tetapi melaksanakannya. Hidup yang kokoh lahir dari ketaatan nyata, bukan sekadar kata-kata. “Kebijaksanaan sejati”: Orang bijaksana adalah yang membangun hidup di atas batu, yaitu Kristus. Kebijaksanaan sejati berarti menaruh seluruh hidup pada kehendak Allah, sehingga tidak goyah meski badai datang.
Saudara-saudari terkasih,
Pesan untuk kita, pertama, kesetiaan kepada Allah adalah fondasi yang menjaga hidup tetap kokoh. Kedua, kebijaksanaan sejati terwujud dalam melaksanakan firman, bukan sekadar mendengar. Ketiga, hidup yang dibangun di atas Kristus akan tetap teguh menghadapi badai kehidupan. Tuhan memberkati kita.(Sumber iman katolik.or.id/www.renunganpkarmcse.com/adiutami.com/kgg).