TRIBUN-BALI.COM - Setelah rangkaian Hari Raya Kuningan berakhir, umat Hindu di Bali masih akan kembali menyambut rerahinan suci berikutnya sesuai Kalender Bali.
Dalam waktu terdekat, Purnama Kasa akan diperingati sebagai hari suci yang identik dengan momentum penyucian diri, persembahyangan, serta memohon sinar suci dan kerahayuan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Purnama juga menjadi waktu yang baik bagi umat Hindu untuk meningkatkan sradha dan bhakti melalui doa serta pelaksanaan yadnya sesuai tradisi yang berlaku.
Jadwal rerahinan terdekat setelah Hari Raya Kuningan adalah Purnama Kasa yang jatuh pada tanggal 29 Juni 2026.
Baca juga: 8 Hari Lagi Galungan, Simak Jadwal Rerahinan Hindu Bulan Juni 2026 Sesuai Kalender Bali
Purnama, pada umumnya di kalangan umat Hindu, sangatlah meyakini mengenai rasa kesucian yang tinggi pada saat hari Purnama.
Sehingga hari itu dikatakan ‘’Dewasa Ayu’’.
Oleh karena itu, setiap datangnya hari-hari suci yang bertepatan dengan hari Purnama disebut Ayu.
Hal ini tergantung juga dari patemon dina dalam perhitungan Wariga.
Pada 29 Juni 2026 merupakan Purnama Kasa, tepatnya pada Soma Paing Langkir.
Purnama ini jatuh pada bulan pertama dalam sistem kalender Bali.
Hari Raya Purnama ini diperingati sebulan sekali yaitu saat bulan penuh atau sukla paksa.
Dalam lontar Sundarigama dikatakan bahwa Purnama merupakan payogan Sang Hyang Candra.
Terkait Purnama ini disebutkan:
Mwah hana pareresiknira sang hyang rwa bhineda, makadi sang hyang surya candra, yatika nengken purnama mwang tilem, ring purnama sang hyang ulan mayoga, yan ring tilem sang hyang surya mayoga.
Artinya:
Ada lagi hari penyucian diri bagi Dewa Matahari dan Dewa Bulan yang juga disebut Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu saat Tilem dan Purnama.
Saat purnama adalah payogan Sang Hyang Wulan (Candra), sedangkan saat Tilem Sang Hyang Surya yang beryoga.
Lebih lanjut dalam lontar Sundarigama disebutkan:
Samana ika sang purohita, tkeng janma pada sakawanganya, wnang mahening ajnana, aturakna wangi-wangi, canang nyasa maring sarwa dewa, pamalakunya, ring sanggat parhyangan, laju matirta gocara, puspa wangi.
Purnama juga merupakan hari penyucian diri lahir batin.
Oleh karena itu semua orang wajib melakukan penyucian diri secara lahir batin dengan mempersembahkan sesajen berupa canang wangi-wangi, canang yasa kepada para dewa, dan pemujaan dilakukan di Sanggah dan Parahyangan, yang kemudian dilanjutkan dengan memohon air suci.
Selain itu, Purnama juga merupakan hari baik untuk melakukan dana punia.
Mengenai sedekah, disebutkan dalam Sarasamuscaya, 170 berbunyi:
Amatsaryam budrih prahurdanam dharma ca samyamam, wasthitena nityam hi tyage tyasadyate subham.
Nihan tang dana ling sang Pandita, ikang si haywa kimburu, Ikang si jenek ri kagawayaning dharmasadhana, apan yan langgeng ika, nitya katemwaning hayu, pada lawan phalaning tyagadana.
Artinya:
Yang disebut dana (sedekah) kata sang pandita, ialah sifat tidak dengki (iri hati), dan yang tahan berbuat kebajikan (dharma) sebab jika terus menerus begitu, senantiasa keselamatan akan diperolehnya, sama pahalanya dengan amal yang berlimpah-limpah.
Dalam petikan Bhagawad Gita, XVII. 25 juga disebutkan:
Tat ity anabhisanshaya
Phalam yajna-tapah-kriyah,
Dana-kriyas ca vividhah
Kriyante moksa-kansibhih
Yang artinya:
dengan ucapak “Tat” dan tanpa mengharap-harap pahala atas penyelenggaraan ucapan yajna, tapabrata dan juga dana punia yang berbagai macam jenisnya, dilaksanakan oleh mereka yang mengharapkan moksa.
Itu tadi penjelasan singkat terkait Purnama Kasa.
Semoga bermanfaat bagi semeton Tribunners yang membutuhkan.
(*)