TRIBUNKALTIM.CO - Tingkat pengangguran di Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan tren membaik pada Februari 2026.
Meski demikian, data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mengungkap masih terdapat lebih dari seratus ribu penduduk yang belum mendapatkan pekerjaan, dengan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi kelompok yang paling banyak terdampak pengangguran.
Berdasarkan publikasi ketenagakerjaan Kalimantan Timur Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 5,27 persen.
Angka tersebut berarti dari setiap 100 orang yang masuk dalam angkatan kerja, sekitar lima hingga enam orang belum memiliki pekerjaan.
Baca juga: Daftar Daerah di Kaltim dengan Penduduk Terbanyak Tidak Memiliki Ijazah Menurut data BPS
TPT sendiri merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur proporsi penduduk yang aktif mencari pekerjaan tetapi belum memperoleh pekerjaan.
Indikator ini menjadi salah satu ukuran penting untuk melihat kondisi pasar kerja di suatu daerah.
Meskipun angka TPT Kalimantan Timur mengalami penurunan dibanding Februari 2025 yang mencapai 5,33 persen, BPS mencatat masih ada 111.092 orang pengangguran di provinsi yang kini menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN) tersebut.
Menariknya, jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan, terdapat tiga kelompok lulusan yang memiliki tingkat pengangguran paling tinggi di Kalimantan Timur.
Data BPS menunjukkan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi di Kalimantan Timur pada Februari 2026.
Tingkat Pengangguran Terbuka untuk lulusan SMK mencapai 8,81 persen.
Artinya, dari setiap 100 angkatan kerja lulusan SMK, hampir sembilan orang masih belum mendapatkan pekerjaan.
SMK merupakan jenjang pendidikan menengah yang dirancang untuk menyiapkan lulusan siap kerja melalui pendidikan berbasis keterampilan dan kompetensi tertentu.
Namun dalam praktiknya, tingginya angka pengangguran lulusan SMK menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja yang tersedia.
Bahkan dibandingkan Februari 2025, kelompok lulusan SMK menjadi salah satu kategori yang mengalami peningkatan tingkat pengangguran.
Kondisi tersebut menjadikan lulusan SMK sebagai kelompok pendidikan dengan tantangan terbesar dalam memasuki pasar kerja Kalimantan Timur sepanjang awal tahun 2026.
Kelompok pendidikan kedua dengan tingkat pengangguran tertinggi berasal dari lulusan Diploma hingga perguruan tinggi atau kategori Diploma ke atas.
Kategori ini mencakup lulusan Diploma, Sarjana, Magister maupun jenjang pendidikan tinggi lainnya.
BPS mencatat tingkat pengangguran pada kelompok Diploma ke atas mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Bahkan jika dibandingkan Februari 2024, kategori ini menjadi satu-satunya kelompok pendidikan yang mengalami peningkatan tingkat pengangguran.
Data menunjukkan kenaikan TPT kelompok Diploma ke atas mencapai 1,68 persen poin dibanding Februari 2024.
Kondisi tersebut menggambarkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi belum sepenuhnya menjamin seseorang dapat langsung terserap ke pasar kerja.
Persaingan yang semakin ketat serta perubahan kebutuhan industri menjadi salah satu faktor yang kerap memengaruhi penyerapan tenaga kerja lulusan perguruan tinggi.
Posisi ketiga ditempati lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Meski tidak setinggi lulusan SMK maupun Diploma ke atas, lulusan SMA masih termasuk kelompok dengan tingkat pengangguran yang relatif tinggi dibanding jenjang pendidikan lainnya.
Namun terdapat kabar positif dari kelompok ini.
BPS mencatat selama periode Februari 2024 hingga Februari 2026 terdapat kecenderungan penurunan tingkat pengangguran lulusan SMA.
Selain itu, dibandingkan Februari 2025, tingkat pengangguran lulusan SMA juga mengalami penurunan sebesar 0,68 persen poin.
Tren tersebut menunjukkan adanya perbaikan dalam penyerapan tenaga kerja lulusan SMA di Kalimantan Timur.
Sementara itu, kelompok dengan tingkat pengangguran paling rendah justru berasal dari lulusan SD ke bawah yang hanya sebesar 1,56 persen.
Secara keseluruhan, kondisi ketenagakerjaan Kalimantan Timur pada Februari 2026 menunjukkan penurunan jumlah pengangguran.
Jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 2.106.306 orang atau turun 16.850 orang dibandingkan Februari 2025.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.995.214 orang bekerja dan 111.092 orang berstatus pengangguran.
Jika dibandingkan Februari 2025, jumlah pengangguran turun sebanyak 2.074 orang.
Namun pada saat yang sama jumlah penduduk bekerja juga berkurang sebanyak 14.776 orang.
Sementara dibandingkan Februari 2024, jumlah angkatan kerja justru meningkat sebanyak 96.789 orang.
Jumlah penduduk bekerja bertambah 101.220 orang, sedangkan jumlah pengangguran turun 4.431 orang.
Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, tingkat pengangguran laki-laki masih lebih tinggi dibanding perempuan.
Pada Februari 2026, TPT laki-laki tercatat sebesar 5,59 persen.
Sementara TPT perempuan berada di angka 4,65 persen.
Menariknya, dibandingkan tahun sebelumnya, tingkat pengangguran laki-laki justru naik sebesar 0,71 persen poin.
Sebaliknya, tingkat pengangguran perempuan turun cukup signifikan yakni 1,51 persen poin.
Data tersebut menunjukkan adanya perbaikan penyerapan tenaga kerja perempuan di Kalimantan Timur selama setahun terakhir.
Di tengah dinamika pasar kerja, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Kalimantan Timur.
Jumlah pekerja pada sektor tersebut mencapai 390.461 orang atau berkontribusi sebesar 19,57 persen terhadap total pekerja.
Posisi kedua ditempati sektor perdagangan besar dan eceran yang menyerap 338.446 tenaga kerja atau sekitar 16,96 persen.
Sebaliknya, sektor penyediaan listrik dan air menjadi sektor dengan jumlah pekerja paling sedikit yakni hanya 20.200 orang atau sekitar 1,01 persen dari total tenaga kerja.
BPS juga mencatat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kalimantan Timur pada Februari 2026 berada di angka 66,25 persen.
TPAK merupakan persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi, baik bekerja maupun sedang mencari pekerjaan.
Angka tersebut turun 0,15 persen poin dibanding Februari 2025.
Dari sisi gender, TPAK laki-laki mencapai 84,25 persen, jauh lebih tinggi dibanding perempuan yang sebesar 46,85 persen.
TPAK laki-laki meningkat 1,37 persen poin dibanding tahun sebelumnya, sedangkan TPAK perempuan turun 1,79 persen poin.
Kabar positif lainnya terlihat dari meningkatnya jumlah pekerja formal di Kalimantan Timur.
Pekerja formal merupakan tenaga kerja yang bekerja dengan hubungan kerja resmi, memiliki upah tetap, kontrak kerja, atau perlindungan ketenagakerjaan tertentu.
Pada Februari 2026 jumlah pekerja formal mencapai 1.106.348 orang atau sekitar 55,45 persen dari total pekerja.
Persentase tersebut meningkat 2,37 persen poin dibandingkan Februari 2025.
Sementara itu, persentase pekerja setengah penganggur mengalami penurunan sebesar 0,82 persen poin.
Sebaliknya, pekerja paruh waktu meningkat sebesar 0,92 persen poin dibanding tahun sebelumnya.