Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - PT Kusuma Mukti Remaja (KMR), selaku produsen minyak goreng (migor) yang dilaporkan berbau minyak tanah dan solar telah menindaklanjuti keluhan konsumen dengan menarik produk tersebut dari peredaran dan menggantinya dengan produk baru, termasuk di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah,
Hal itu disampaikan Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Surakarta, Nanang Harianto.
"Pihak produsen, PT KMR, sudah melakukan tindak lanjut atas keluhan terkait itu (migor berbau minyak tanah), dengan langsung dilakukan penarikan dan pergantian oleh produsen," ungkap Nanang kepada TribunSolo.com melalui sambungan telepon, Rabu (24/6/2026).
Baca juga: Minyak Goreng Bantuan Bermasalah di Karanganyar, Ada Warga yang Terlanjur Pakai Lalu Buang
Nanang mengatakan, penarikan dan penggantian migor yang berbau minyak tanah tersebut juga dilakukan di Kabupaten Karanganyar.
Pasalnya, pihaknya turut menerima keluhan serupa dari masyarakat di wilayah tersebut.
"Kita koordinasi dengan pihak produsen. PT KMR sudah dilakukan penggantian dan menerima yang sesuai. Setahu kami juga ada di Karanganyar dan langsung dilakukan penggantian oleh PT KMR, karena produsen sudah ada komitmen untuk mengganti dengan yang baru," pungkasnya.
Minyak goreng bantuan yang diduga berbau minyak tanah dan solar di Kabupaten Karanganyar memicu keresahan warga.
Bahkan, sebagian penerima bantuan mengaku sempat menggunakan minyak goreng tersebut sebelum akhirnya membuangnya setelah mencium aroma menyerupai bahan bakar minyak (BBM).
Keluhan itu muncul dari warga Kelurahan Tegalgede yang menerima bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng dari Bulog.
Lurah Tegalgede, Bowo Budi Setyo, mengatakan pihaknya menerima banyak laporan dari masyarakat terkait kondisi minyak goreng bantuan yang berbau tidak normal.
"Warga kami mendapatkan bantuan dari Bulog beras dan minyak goreng, untuk beras tidak ada permasalahan, namun untuk minyak goreng, banyak penerima bantuan itu, mengeluh," kata Bowo, Rabu (24/6/2026).
Di Kelurahan Tegalgede, tercatat sebanyak 850 kepala keluarga (KK) menerima bantuan tersebut.
Setelah menerima laporan warga, pemerintah kelurahan langsung berkoordinasi dengan Bulog untuk menindaklanjuti persoalan itu.
Pemerintah Kelurahan Tegalgede telah berkoordinasi dengan Bulog agar minyak goreng yang bermasalah dapat diganti dengan produk lain yang layak digunakan.
"Kita sudah koordinasi dengan Bulog. Ini diagendakan, ditukar sesuai jumlah yang dikembalikan, saya suruh kembalikan ke kantor, baik bermasalah maupun tidak bermasalah," ungkap dia.
Menurut Bowo, warga mulai mengembalikan minyak goreng bantuan sejak awal pekan ini.
Minyak yang dikembalikan terdiri dari kemasan yang masih tersegel maupun yang sudah dibuka.
"Warga mengembalikan minyak itu mulai Senin, sebagian di sini dan sebagian di titipkan ke warga karena disini tidak ada tempat, Ada yang masih segel ada yang terbuka, dan rata-rata dikembalikan karena bau solar, minyak tanah, kalau dicium ya terasa bau BBM," kata dia.
Baca juga: Minyakita Berbau Minyak Tanah di Karanganyar, Produsen Sebut Sudah Diganti Bertahap
Ia menjelaskan, tidak semua warga langsung menyadari adanya aroma yang tidak biasa pada minyak goreng tersebut.
Beberapa di antaranya baru mengetahui setelah produk digunakan.
"Ada yang terbuka ada yang masih utuh, karena. Banyak gak berani menggunakan. Ada juga sudah mengkonsumsi trus dicium bau solar, lalu dibuang," pungkas dia.
(*)