TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Angkringan menjadi salah satu ikon kuliner yang sulit dipisahkan dari Solo, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.
Di Solo, angkringan lebih familiar disebut HIK atau wedangan.
Menapaki jalan-jalan besar seperti di Manahan atau Purwosari, angkringan ini banyak tersebar.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Kabupaten Sukoharjo Hari Ini Kamis 25 Juni 2026 : Cerah dan Berawan
Ciri khasnya gerobak kayu, lalu ada ketel di atas anglo dengan asap mengepul, menandakan penjualnya sedang merebus air untuk racikan teh.
Kursi panjang juga menjadi salah satu ciri wedangan di Solo.
Tempat makan sederhana yang identik dengan harga terjangkau ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, mulai dari pekerja hingga mahasiswa.
Tak heran jika angkringan selalu ramai dikunjungi, terutama pada malam hari.
Meski sama-sama dikenal sebagai pusat budaya angkringan, ternyata terdapat sejumlah perbedaan antara angkringan di Solo dan Yogyakarta.
Perbedaan tersebut tidak hanya terlihat dari sebutannya, tetapi juga menu makanan, minuman, hingga sejarah perkembangannya.
Di Yogyakarta, masyarakat lebih akrab dengan istilah angkringan.
Sementara di Solo, tempat makan serupa lebih sering disebut hik atau wedangan.
Hik merupakan sebutan yang sudah lama dikenal masyarakat Solo.
Selain itu, wedangan merujuk pada kebiasaan menikmati minuman hangat sembari menyantap aneka camilan dan makanan sederhana.
Menurut sejumlah sumber sejarah, konsep angkringan berasal dari wilayah Klaten yang kemudian berkembang di Solo sebelum menyebar ke Yogyakarta dan daerah lainnya.
Baca juga: Jadwal KRL Solo-Jogja Hari Ini Kamis 25 Juni 2026 : Ada 15 Perjalanan Rute Stasiun Palur-Tugu
Salah satu pembeda paling mencolok antara angkringan Solo dan Jogja terletak pada minuman khasnya.
Di Yogyakarta, pengunjung bisa menemukan kopi jos.
Minuman ini berupa kopi panas yang disajikan dengan arang membara yang dimasukkan langsung ke dalam gelas.
Saat arang bersentuhan dengan kopi, terdengar bunyi "jos" yang menjadi asal nama minuman tersebut.
Kopi jos bahkan menjadi salah satu daya tarik wisata kuliner malam di Yogyakarta.
Sementara itu, angkringan Solo memiliki minuman khas bernama teh kampul.
Minuman ini berupa es teh yang dicampur irisan jeruk sehingga tampak mengapung atau "kampul" di permukaan.
Selain teh kampul, berbagai wedang racikan khas Solo juga mudah ditemukan di sejumlah hik dan wedangan.
Baca juga: Agenda Solo Hari Ini Kamis 25 Juni 2026 : Hari Terakhir Solo Career Expo 2026
Meski sama-sama menjual nasi kucing sebagai menu andalan, isi nasi kucing di Solo dan Yogyakarta memiliki perbedaan.
Di Yogyakarta, nasi kucing umumnya berisi nasi putih dengan sambal teri dalam porsi kecil.
Menu ini biasanya disantap bersama gorengan atau aneka sate yang dipanaskan menggunakan bara arang.
Sedangkan di Solo, nasi kucing atau sego kucing lebih identik dengan lauk ikan bandeng goreng yang dipadukan sambal goreng.
Pilihan lauk pendampingnya pun beragam, mulai dari sate usus, sate telur puyuh, sate kerang, tempe bacem, hingga tahu dan bakwan.
Meski banyak orang menganggap angkringan identik dengan Yogyakarta, sejumlah catatan sejarah menunjukkan bahwa konsep ini berkembang lebih dahulu di wilayah Solo dan Klaten.
Keberadaan angkringan dapat ditelusuri melalui arsip surat kabar Jawi Swara tahun 1913.
Dalam arsip tersebut disebutkan istilah angkring yang digunakan masyarakat pada masa itu.
Warga Klaten memanfaatkan peluang dengan menjual makanan keliling menggunakan pikulan. Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi angkringan.
Ia menjelaskan bahwa ketika budaya angkringan menyebar ke Yogyakarta, masyarakat setempat tetap menggunakan istilah angkringan.
Sementara di Solo, istilah hik semakin populer digunakan sejak dekade 1980-an.
Sementara itu, berdasarkan catatan sejarh Desa Ngerangan, Klaten, sosok yang dikenal sebagai pencipta cikal bakal angkringan adalah Eyang Karso Dikromo.
Pada era 1930-an, ia merantau ke Solo dan mengembangkan konsep berjualan makanan sederhana yang kemudian dikenal luas hingga sekarang.
Awalnya, angkringan dijual menggunakan pikulan sebelum berkembang menjadi gerobak seperti yang banyak ditemui saat ini.
(*)